Bagikan:

JAKARTA - Perempuan yang memilih untuk tetap single atau tanpa pasangan semakin meningkat jumlahnya. Antara tahun 2018 dan 2030, jumlah wanita yang belum menikah diproyeksikan meningkat sebesar 1,2 persen per tahun untuk keseluruhan populasi di Amerika Serikat.

Mengutip dari Women’s Health, pada Kamis, 23 Oktober, 45 persen wanita berusia 24 sampai 44 tahun akan menjadi lajang pada tahun 2030 dan enggan fokus pada pernikahan. Para ahli mengatakan ada sejumlah faktor yang memicu peningkatan angka tersebut.

Ilmuwan sosial, Bella DePaulo, PhD, mengatakan bahwa dunia saat ini saling berhubungan tetapi bukan berarti selalu perlu bergantung pada pasangan hidup untuk bersosialisasi atau dukungan emosional. Saat ini teknologi sudah dapat membantu untuk memuaskan kehidupan sebagai lajang.

"Teknologi komunikasi telah membuatnya jauh lebih memuaskan untuk menjadi lajang. Jika Anda lajang, dan tinggal sendiri, Anda tidak terisolasi. Anda hanya berjarak satu pesan teks, email, atau ruang obrolan dari seluruh dunia,” kata Bella.

Selain itu, adanya ketidakpuasan akan koneksi juga menjadi alasan wanita memilih untuk lajang. Para wanita merasa mereka tidak dapat menemukan pasangan yang bisa selaras dengan nilai-nilai yang mereka percayai.

"Anda mengalami interaksi yang sangat dangkal dan tidak memuaskan yang tidak mengarah ke mana pun. Untuk wanita, mereka merasa seperti tidak dapat menemukan pasangan yang selaras dengan nilai-nilai mereka,” jelas terapis hubungan, San Diego Leah Aguirre.

Aguirre juga menjelaskan bahwa wanita era modern saat ini juga semakin mengetahui hubungan seperti apa yang mereka idamkan. Jika tidak menemukannya, maka untuk tetap melajang bukan suatu permasalahan.

“Wanita ingin berada dalam hubungan yang adil, saling menghormati di mana kedua orang secara terbuka berbagi kekhawatiran dan perasaan mereka dan itu dibalas dengan aman dan menegaskan,” tambahnya.

“Mereka menetapkan standar tinggi dan tetap lajang lebih lama,” pungkas Aguirre.