JAKARTA - Wanda Hamidah membagikan pengalaman mencekam yang dialaminya selama sebulan terakhir demi memberikan bantuan kepada korban perang di Palestina menggunakan jalur laut.
Terjebak di pelabuhan Sisilia, Italia, ia dan rekan-rekannya dari berbagai negara harus menghadapi serangkaian intimidasi, pencurian, hingga ancaman kekerasan yang membahayakan nyawa.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Wanda menceritakan bagaimana perjalanan yang seharusnya berlanjut kini terhenti total, membuatnya lupa waktu saking lamanya mereka terdampar.
"Sudah lupa hari, tanggal dan bulan sudah 2 Minggu di Tunisia, 2 Minggu di Portopalo, Sicilia," tulis Wanda Hamidah dikutip VOI dari instagram @wandahamidahbsa, Senin, 29 September.
Perjalanan Wanda yang tampaknya bagian dari sebuah misi bersama beberapa kapal lain, harus terhenti karena berbagai masalah teknis dan pengkhianatan dari kapten kapal. Hal ini membuat mereka rentan terhadap ancaman di pelabuhan.
"7 kapal (X1,Yemen, Keisar, Alla dienne, Tico, Essia, Kamar, tidak lagi melanjutkan perjalanan karena kerusakan / ketidaksiapan kapal dan karena masalah kapten kapal ( yang kabur / ingin membawa kabur kapal, dan lain-lain)," lanjut Wanda.
Kondisi semakin genting karena mereka tidak hanya terjebak, tetapi juga menghadapi tekanan dan ancaman dari pihak tak dikenal yang diduga ingin mengambil alih kapal-kapal mereka.
BACA JUGA:
"Setiap hari mulan datang intimidasi dan tekanan kepada kami untuk pergi meninggalkan kapal, mereka berharap kami pergi, supaya mereka bisa memereteli kapal, membawa kabur / menjual kapal-kapal yang bersandar di Portopalo," ceritanya.
Ancaman tersebut bukan isapan jempol belaka. Wanda menyebut bahwa pelabuhan Portopalo sangat tidak aman dan pencurian sudah sering terjadi.
Puncak dari teror yang mereka alami adalah ketika salah satu kapal sengaja ditumpahi bensin, sebuah tindakan yang jelas-jelas merupakan ancaman pembakaran.
"Untuk diketahui bahwa Portopalo adalah pelabuhan yang amat sangat tidak aman, hampir semua kapal mengalami pencurian barang-barang berharga seperti laptop, monitor, GPS, dan lain-lain," tuturnya.
"Bahkan hari ini kapal Kamar ditumpahi bensin kapal oleh orang yang tidak dikenal," sambung Wanda.
Di tengah situasi yang penuh bahaya, Wanda dan rekan-rekannya akhirnya menemukan secercah harapan dengan berhasil memindahkan kapal utama ke pelabuhan yang lebih aman.
"Kondisi hari ini, kami semua sudah berada dalam Kapal Sumud Nusantara di pelabuhan Marzamemi, pelabuhan yang jauh lebih aman dari Portopalo, Sicilia," jelas Wanda Hamidah.
Tak hanya pasrah, Wanda menunjukkan perannya yang proaktif dalam mencari jalan keluar. Ia berusaha mempertahankan kapal yang tersisa sambil merekrut kru baru yang lebih dapat dipercaya.
"Beberapa hari ini saya berusaha mempertahankan kapal Nusantara yang dimiliki oleh Sumud Nusantara (Malaysia, Indonesia, Maldives, Pakistan), sambil melakukan perbaikan dan menseleksi kapten / co captain/ mekanik baru dikapal kami hari ini," ujarnya.
Kini, dengan semangat persatuan, belasan orang dari tujuh negara berbeda yang sebelumnya terdampar di kapal yang berbeda, akan bergabung dalam satu kapal untuk melanjutkan perjalanan.
"14 orang dari berbagai kapal yang stranded yaitu Kamar, Essia, Allo Dienne, Keisar, dari 7 negara akan bersatu dalam kapal Nusantara, akar segera berlayar malam ini, paling lama esok hari, InshaAllah," harapnya.
Dengan persiapan yang matang dan semangat yang baru, Wanda Hamidah menutup ceritanya dengan sebuah permohonan doa agar perjalanannya dan rekan-rekannya mengarungi Laut Mediterania dapat berjalan lancar dan selamat.
"Doakan kami berhasil berlayar mengarungi Laut Mediterania," tandas Wanda Hamidah.
Sebagai informasi, Wanda Hamidah menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang bisa berlayar dengan Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
Global Sumud Flotilla sendiri merupakan aksi kemanusiaan global yang berupaya berlayar membawa bantuan menuju Gaza. Pelayaran yang juga digawangi aktivis global seperti Greta Thurnberg itu berambisi menembus blokade militer Israel (IDF) agar bisa mencapai Gaza.
Pelayaran itu diikuti aktivis kemanusiaan dari berbagai bidang seperti dokter, seniman, ulama, pengacara, tenaga kesehatan, dan lainnya.