Bagikan:

JAKARTA - MRI atau Magnetic Resonance Imaging, yaitu sebuah prosedur medis non-invasif untuk menghasilkan gambar detail tiga dimensi (3D) dari struktur dan organ dalam tubuh, seperti otak, tulang belakang, sendi, dan jaringan lunak lainnya. Penggunaan MRI sangat dibutuhkan dalam dunia medis.

MRI membantu dokter dalam mendiagnosis berbagai kondisi medis, memantau efektivitas pengobatan, dan merencanakan penanganan selanjutnya. Namun, dalam pengembangan penggunaan MRI di berbagai negara, termasuk Indonesia, masih menemui berbagai tantangan.

Dokter spesialis radiologi, dr. Yonathan William, Sp. Rad, mengatakan bahwa tantangan pertama yang dihadapi dalam penggunaan MRI adalah pasokan helium. Dalam MRI, helium berperan sebagai agen pendingin untuk menjaga magnet superkonduktor tetap dingin hingga suhu yang sangat rendah, sehingga kualitas gambar MRI terjaga dengan baik.

Namun, jumlah helium terus berkurang di seluruh dunia bahkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Proses pemisahan helium dan gas alam lainnya juga sangat sulit dan tidak efisien, sehingga pasokannya semakin sulit.

“Berita BBC Inggris, dunia terus kehabisan helium. Sekarang ada perlombaan untuk mempersiapkan diri menghadapi kekurangan berikutnya,” kata Dokter Yonatan saat konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan, ditulis Senin, 25 Agustus 2025.

Tantangan berikutnya yang dihadapi dalam penggunaan MRI adalah dibutuhkannya ruangan khusus. MRI merupakan alat magnet raksasa, yang penggunaannya dibatasi sebisa mungkin tidak menyebar ke luar ruangan, sehingga dibutuhkan ruangan khusus yang besar.

Zona ruangan pun dibagi secara berlapis guna mencegah kebocoran yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat elektronik lain, dan berdampak pada kesehatan manusia.

“Kita perlu membatasi medan magnet itu tidak keluar dari ruangan, jadi perlu ruangan yang khusus, besarnya juga khusus, semua harus diukur, nggak boleh semua orang masuk, harus dibagi zona juga, dan penggunaan pintu elektronik,” jelasnya.

Kemudian, tantangan lainnya untuk menggunakan MRI adalah biaya yang sangat tinggi, rentan kerusakan akibat air, hingga Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang. Seperti di Indonesia masih kurang jumlah radiolog yang bisa menggunakan penggunaan MRI.

Oleh karena itu, di masa depan Indonesia harus bisa menghadirkan MRI yang canggih, dengan sistem yang kuat dan tidak rentan terhadap situasi, seperti gempa dan banjir. Alat MRI yang dipilih juga harus yang menawarkan fleksibilitas dalam pemasangannya.

“Terutama di rumah sakit yang mungkin di daerah yang belum pernah punya pengalaman pemasangan ini. Makin sederhana pemasangannya akan sangat bermanfaat untuk mengatasi kebutuhan nasional kita,” pungkas Dokter Yonathan.