JAKARTA - Ketakutan anak terhadap pemeriksaan MRI menjadi tantangan besar di ruang-ruang radiologi.
Suara mesin menghentak, ruang tabung sempit dan larangan bergerak kerap membuat proses medis penting tersebut berujung pada tangis, kecemasan hingga kebutuhan sedasi.
Tantangan itulah yang mendorong ASEAN Foundation, United Way Worldwide dan Lego Group memperluas program “CALM MRI – Fear to Confidence: Learning Through Play” di Indonesia dan Singapura.
Program tersebut memanfaatkan Lego MRI Scanner, replika mini mesin MRI untuk memandu anak memahami alur pemeriksaan melalui permainan.
"Pada 2025, sebanyak 648 set Lego MRI Scanner didistribusikan, masing-masing 324 set di Indonesia dan 324 set di Singapura," tulis manajamen ASEAN Foundation dalam keterangannya, dikutip Selasa, 30 Desember.
Di Indonesia, pendekatan itu mulai menyatu dengan alur persiapan pemeriksaan di sejumlah institusi medis dan pendidikan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), termasuk Departemen Radiologi, Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran serta Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia ikut berperan dalam implementasi metode itu.
Pendampingan juga diperkuat oleh Yayasan Pita Kuning Jakarta dan Yogyakarta yang menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk berlatih memahami proses MRI lewat simulasi sederhana, namun akurat.
Mahasiswa kedokteran, mahasiswa keperawatan, relawan hingga tenaga kesehatan profesional terlibat untuk memastikan edukasi tetap sesuai standar medis, tetapi tidak menghilangkan unsur kenyamanan bagi pasien anak.
Pendekatan tersebut menyasar anak yang menjalani pengobatan jangka panjang untuk kondisi serius, mulai dari kanker, tumor, leukemia, epilepsi, gangguan saraf hingga infeksi dan peradangan organ yang sering membutuhkan pencitraan lanjutan.
Perubahan perilaku anak terlihat nyata selama pelaksanaan program. Rio, misalnya, sempat selalu menangis ketika dibawa ke ruang MRI karena pengalaman buruk sebelumnya.
Setelah sesi Lego MRI, dia memahami suara keras mesin adalah bagian dari proses, bukan ancaman.
Pada pemeriksaan berikutnya, Rio masuk dengan lebih percaya diri, bahkan mencoba berbaring sendiri.
Di Yogyakarta, lima anak yang didampingi Pita Kuning yakni Farrel, Vania, Nayla, Iffah dan Faiz—menunjukkan antusiasme baru, lebih mudah diajak komunikasi dan lebih memahami proses yang akan mereka hadapi.
Secara global, Lego MRI Scanner telah dimanfaatkan di berbagai negara.
Tenaga kesehatan melaporkan kecemasan anak menurun signifikan setelah simulasi permainan.
Pada sebagian kasus, kebutuhan sedasi bahkan dapat dikurangi karena anak sudah memiliki kesiapan emosional lebih baik.
BACA JUGA:
Melalui kolaborasi tiga lembaga internasional tersebut, program CALM MRI menegaskan pentingnya pendekatan bermain dalam layanan kesehatan anak.
Dengan memberikan ruang bagi anak untuk memahami prosedur medis melalui pengalaman positif, program itu menghadirkan proses perawatan lebih ramah sekaligus memberdayakan anak menghadapi ketakutan mereka.