Bagikan:

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan tujuh langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Strategi tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Perry menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada kondisi undervalue, namun diyakini akan kembali stabil dan menguat.

Menurutnya hal ini didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai kuat, seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang memadai, sehingga kondisi tersebut seharusnya mendorong rupiah tetap stabil dan cenderung menguat.

Meski demikian, ia menambahkan dalam jangka pendek terdapat tekanan terhadap nilai tukar yang berasal dari faktor global dan musiman.

"Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu harga minyak yang tinggi, dua suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen, demikian juga dolar yang menguat dan Pak Menko (Perekonomian) tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," jelasnya dalam keterangannya, dikutip Rabu, 6 Mei.

Sementara dari sisi musiman permintaan dolar meningkat pada periode April hingga Juni, antara lain untuk kebutuhpan pembayaran dividen, pelunasan utang, dan keperluan jemaah haji. Meski begitu, Perry menegaskan bahwa rupiah tetap berpotensi menguat ke depan.

Perry juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan persetujuan atas tujuh langkah penguatan rupiah yang akan ditempuh Bank Indonesia.

"Kami melapor kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," bebernya.

Langkah pertama adalah intervensi pasar secara berkelanjutan, baik di dalam negeri maupun luar negeri melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF), dengan dukungan cadangan devisa yang kuat.

"Di pasar luar negeri di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York, kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," tegasnya.

Ia menambahkan kedua, mendorong aliran modal asing masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menyeimbangkan arus keluar dari SBN dan pasar saham.

"Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham, itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah," beber Perry.

Ketiga, memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan dalam pembelian SBN di pasar sekunder, yang hingga saat ini telah mencapai Rp123,1 triliun.

"Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam, koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter," tuturnya.

Keempat, menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar, dengan pertumbuhan uang primer yang konsisten berada pada level dua digit, dengan pertumbuhan uang primer terakhir mencapai 14,1 persen.

Kelima, membatasi pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying aset, dengan penurunan batas transaksi secara bertahap dari yang awalnya pembelian bisa dilakukan maksimal 100 ribu dolar AS per bulan, sekarang menjadi 50 ribu dolar AS per bulan, dan dalam waktu dekat akan diturunkan kembali menjadi 25 ribu dolar AS per bulan untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, ia menambahkan penguatan transaksi mata uang lokal seperti yuan dan rupiah juga terus dikembangkan.

"Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan-penguatan, termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Yuan, Chinese Yuan dengan Rupiah sudah berkembang di dalam negeri karena local currency kita dengan Cina sama Yuan Cina sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik Yuan sama Rupiah termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat," ujarnya.

Keenam, meningkatkan intervensi di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF) dan melibatkan bank domestik agar turut berpartisipasi, sehingga pasokan valas meningkat dan stabilitas rupiah lebih terjaga serta dapat mengendalikan perkembangan nilai tukar pada sektor offshore di luar negeri.

"Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan Offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih lebih banyak sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar Rupiah," ucapnya.

Ketujuh, memperketat pengawasan terhadap perbankan dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar dalam jumlah besar, melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan.

"Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," pungkasnya.