Bagikan:

JAKARTA - MRI atau Magnetic Resonance Imaging, yaitu sebuah prosedur medis non-invasif untuk menghasilkan gambar detail tiga dimensi (3D) dari struktur dan organ dalam tubuh, seperti otak, tulang belakang, sendi, dan jaringan lunak lainnya.

Penggunaan MRI sangat dibutuhkan dalam dunia medis. Ini membantu dokter dalam mendiagnosis berbagai kondisi medis, memantau efektivitas pengobatan, dan merencanakan penanganan selanjutnya.

Namun, di Indonesia, teknologi MRI yang bisa mencakup seluruh rumah sakit tidak cukup. Padahal, permintaan untuk pemeriksaan pasien menggunakan MRI terus meningkat.

“Indonesia membutuhkan lebih banyak sistem MRI untuk memenuhi permintaan pasien yang terus meningkat, namun teknologi saja tidaklah cukup,” tutur dr. Fritz Sumantri Usman, Sp.N, SubSp. NIIOO(K), FINS, FINA, dalam acara peluncuran MAGNETOM Flow. Platform, di Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Selain harganya yang cenderung mahal dan butuh waktu lama, penggunaan MRI juga menghadapi tantangan atas ketergantungan pengisian ulang helium. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan inovasi MRI berkelanjutan yang tidak menggunakan helium dalam penggunaannya.

“Rumah sakit menghadapi risiko besar akibat ketergantungan pada pengisian ulang helium. Tantangan pasokan global membuat kondisi ini tidak hanya mahal, tetapi juga tidak dapat diprediksi secara operasional,” tutur dr. Yonathan William, Sp. Rad.

MAGNETOM Flow. Platform yang diluncurkan oleh Siemens Healthineers merupakan inovasi baru untuk MRI yang berkelanjutan. Teknologi MRI ini didesain bebas helium pada 1.5 T dengan teknologi DryCool, serta tidak dilakukan pengisian ulang maupun quench pipe (pipa yang dipasang pada sistem MRI untuk membuang gas helium cair mendidih secara mendadak).

Inovasi ini tidak hanya menjawab isu berkelanjutan yang krusial, tetapi juga memberdayakan rumah sakit dan pusat pencitraan untuk menghadirkan layanan diagnostik yang andal dan berkualitas tinggi secara lebih luas.

“Dengan hadirnya platform yang bebas helium, hambatan terbesar dalam kepemilikan MRI berkelanjutan di tanah air dapat langsung diatasi. Ini merupakan terobosan penting yang memastikan pasien tetap memperoleh akses tanpa batas terhadap layanan diagnostik yang menyelamatkan nyawa mereka,” pungkas Dokter Yonathan.