Bagikan:

JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon tampil sebagai pembicara kunci dalam Workshop Kolaboratif Multipihak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis, 21 Agustus. Acara ini menghadirkan 60 perwakilan dari 34 anjungan daerah. Bagi Fadli, forum ini penting karena untuk pertama kalinya setelah 79 tahun merdeka, Indonesia memiliki Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.

“Sejak hari pertama saya menjabat, saya menekankan perlunya reinvent Indonesian identity. Identitas kita punya akar kuat: budaya dan peradaban. Dua hal utama yang saya catat adalah kekayaan dan keberagaman,” kata Menbud Fadli di Gedung Sasono Utomo TMII.

Ia menegaskan budaya adalah fondasi bangsa dan wajah peradaban. Merujuk Pasal 32 UUD 1945 serta UU Nomor 5 Tahun 2017, Fadli menekankan pemajuan kebudayaan harus meliputi pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. “Peradaban negara maju dilihat dari budayanya. Indonesia harus menempatkan budaya sebagai enginepembangunan,” ujarnya.

Menbud Fadli mencontohkan model Prancis. Museum di sana mampu bertahan karena 50 persen pendapatan berasal dari penjualan merchandise, 30 persen dari tiket, dan hanya 20 persen dari subsidi pemerintah. Ia menyebut paradigma harga tiket di Indonesia perlu diubah agar budaya bisa menopang ekonomi kreatif.

Plt Dirut TMII, Ratri Paramita, menilai workshop ini momentum untuk merumuskan langkah nyata. “Anjungan harus dibenahi agar benar-benar jadi wajah Indonesia,” katanya.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Setya Utama, mengingatkan TMII menghadapi tantangan baru: teknologi, tren wisata, dan kebutuhan generasi muda. Menurutnya, promosi kreatif, pelayanan berkualitas, dan kegiatan relevan harus diperkuat agar TMII tak hanya jadi ikon budaya nasional, tetapi juga bersaing dengan destinasi dunia.

Workshop bertajuk Tata Kelola, Promosi, dan Rancang Program Anjungan Daerah ini merumuskan empat tujuan utama: anjungan sebagai etalase identitas daerah, pusat aktivitas, instrumen promosi strategis, dan jembatan menuju panggung global.