Bagikan:

JAKARTA - Di tengah ancaman krisis pangan global dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam, penting bagi masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup yang lebih sadar terhadap pengelolaan makanan.

Food loss (kehilangan pangan) dan food waste (sampah makanan) bukan hanya soal membuang makanan, tetapi juga menyia-nyiakan tenaga, lahan, air, dan energi yang digunakan dalam produksi dan distribusinya. Mengurangi keduanya bukan lagi sekadar kampanye sesaat, melainkan harus menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari.

Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menekankan pentingnya memperkuat edukasi kepada masyarakat guna menekan jumlah makanan yang terbuang di berbagai tahapan rantai pasok.

“Dalam upaya menjaga ketahanan pangan, isu food loss dan food waste menjadi sangat krusial karena sepertiga dari total makanan yang diproduksi justru tidak dikonsumsi,” ujar Rajendra saat menghadiri kegiatan di Bandarlampung, seperti dikutip ANTARA.

Ia mengungkapkan FAO bersama pemerintah Indonesia telah menjalin kolaborasi dalam berbagai program yang berfokus pada edukasi dan sosialisasi publik terkait pentingnya mengurangi limbah makanan.

“Data menunjukkan sekitar 30 persen makanan hilang dalam proses dari produksi ke distribusi, sedangkan 70 persen sisanya terbuang di tingkat konsumen. Ini menandakan bahwa kita harus lebih aktif dalam membangun kesadaran masyarakat,” jelasnya.

Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah dengan memanfaatkan sisa makanan untuk keperluan lain yang bermanfaat, seperti dijadikan pupuk organik. Rajendra menambahkan bahwa pelatihan pengelolaan limbah makanan telah diberikan melalui berbagai program, termasuk Petani Keren, yang mengajarkan generasi muda cara mengolah sisa makanan menjadi pupuk bagi tanaman mereka.

“Melalui program ini, anak-anak muda tidak hanya belajar soal pertanian, tetapi juga diajarkan pentingnya keberlanjutan dan peran mereka dalam mengurangi food waste,” lanjutnya.

Tak hanya berhenti di program pelatihan, FAO juga telah melakukan sejumlah kajian untuk memahami pengelolaan sumber daya alam dan mendorong pemahaman publik, baik secara lokal maupun global, tentang dampak pemborosan pangan.

Rajendra menekankan bahwa langkah-langkah ini penting untuk mencegah krisis pangan yang mungkin terjadi jika isu food loss dan food waste terus diabaikan. Menurutnya, semakin dini kesadaran ini dibangun, maka semakin besar pula peluang untuk menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan di masa depan.