Bagikan:

JAKARTA - Fast fashion sudah melekat dalam industri mode selama bertahun-tahun, yang menyebabkan produksi barang cepat, harga murah, dan pakaian terbuang yang merusak lingkungan. Namun, di tahun 2025, sustainable fashion atau fashion berkelanjutan yang ramah lingkungan semakin populer.

Salah satu yang menjadi tren dari sustainable fashion adalah circular fashion. Circular fashion disebut menjadi tren penting untuk industri mode yang berkelanjutan, yang menjadi fokus utama di tahun 2025.

Dikutip dari Tricycle, pada Minggu, 20 Juli 2025, circular fashion menekankan pada perpanjangan umur pakaian, penggunaan bahan berkelanjutan, dan pengurangan limbah tekstil. Pada tren ini, produk fashion tidak berakhir di tempat pembuangan sampah, tetapi tetap bisa didaur ulang setelah tidak terpakai.

Konsumen memiliki peran penting dalam mendorong adopsi circular fashion. Mulai dengan memilih pakaian yang lebih berkelanjutan, merawat pakaian dengan baik, dan memanfaatkan layanan perbaikan atau penjualan kembali.

Selain konsumen, brand fashion juga bertanggung jawab atas siklus hidup penuh dari produk mereka. Merek fashion mendesain produk dengan mempertimbangan daya tahan dan kemudahan perbaikan, agar bisa digunakan dalam jangka waktu lama.

“Merek harus menyadari risiko legislatif dan volatilitas sumber yang disajikan oleh rantai pasokan konvensional dan lebih memanfaatkan rangakaian circular fashion yang tangguh di tahun 2025,” kata Founder and Executive Director di organisasi nirlaba lingkungan Canopy, Nicole Rycroft.

Merek fashion juga harus mengedepankan penggunaan bahan organik, daur ulang, dan biodegradable untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kolaborasi merek juga diperlukan untuk menciptakan produk berkelanjutan dengan nilai produk yang tinggi.

Namun, meskipun circular fashion semakin populer, penerapannya juga masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah infrastruktur daur ulang yang terstandarisasi dan kompleksitas rantai pasokan.

Untuk mengatasi tantangan ini dibutuhkan upaya kolaboratif yang melibatkan desainer, produsen, pembuatan kebijakan, dan konsumen. Dengan bekerja sama, maka dapat tercipta sistem fashion yang lebih berkelanjutan, yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat.