Studi Menemukan, Menunda Sarapan Bikin <i>Mood</i> Amburadul
Ilustrasi wanita membaca koran (Pexels/Vlada Karpovich)

Bagikan:

JAKARTA – Di samping tidur, sarapan juga satu hal yang penting. Mengapa? Sebab sarapan bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Untuk kesehatan fisik, orang yang terbiasa sarapan pagi setiap hari memiliki metabolisme tubuh seimbang. Ditambah lagi, sarapan pagi dapat menekan hasrat makan melonjak pada siang harinya.

Bagi kesehatan mental Anda, menurut studi, bagi orang dewasa menunda sarapan bikin mood amburadul. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine dan ditulis oleh Johanna Wilson dari University of Tasmania menemukan  bahwa pola makan sehat berkaitan dengan mental health.

“Gangguan suasana hati seperti depresi dapat berdampak besar pada individu, teman dan keluarga, dan masyarakat luas. Penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat berkontribusi pada gangguan mental,” ujar Wilson dilansir oleh Psypost.

Wilson dan tim tertarik untuk mengetahui apakah saat orang makan di siang hari berkaitan dengan risiko depresi. Studi menganalisis data dari Australian Childhood Determinants of Adult Health (CDAH) sejak tahun 1985 ketika partisipan berusia antara 7 hingga 15 tahun.

Data dari 1.000 partisipan berisi laporan jam makan siang saat berusia 26-36 tahun dan lima tahun kemudian ketika mereka berusia 31-41 tahun. Partisipan juga menyelesaikan penilaian tentang gangguan mood seperti depresi, persistent depressive disorder atau distimia, dan gangguan bipolar.

Penelitian ini menemukan bahwa mereka yang melewatkan atau menunda sarapan cenderung mengalami mood amburadul dibanding mereka yang memiliki jam rutin sarapan, makan siang, dan makan malam.

Wilson menjelaskan bahwa temuan ini memang pada kasus general daripada individu. Bahwa melewatkan atau menunda sarapan bisa menyebabkan mood amburadul. Dan mungkin bisa sebaliknya, tidak sarapan karena mood kacau saat memulai hari atau bangun tidur.

Aspek yang memengaruhi, menurut Wilson, bisa karena pengaruh hormonal dan ritme sirkadian setiap orang.

“Hubungan ini mungkin dua arah, dan preferensi yang sudah ada sebelumnya untuk pola makan tertentu karena sifat kronobiologis individu harus dipertimbangkan,”terang Wilson.

Kronobiologis adalah mekanisme ritme biologis berdasarkan perilaku baik bersifat fisiologi, genetika, dan biologi. Satu dekade sebelum penelitian Wilson dan rekan terdapat studi yang meneliti mengenai kronotipe atau jam biologis dan hubungannya dengan tingkat depresi.

Penelitian ini dilakukan oleh Maria Paz Hidalgo, MP., MD., Ph.D., dan rekan yang dipublikasikan dalam jurnal Psychiatry and Clinical Neuroscience serta dilansir di Wiley Online Library. Penelitian ini melibatkan tiga kategori partisipan: orang malam (71 orang), menengah (58), dan orang pagi (71).

Tipologi sirkadian malam hari jadi faktor utama berkaitan dengan tingginya rasio risiko gejala depresi dibandingkan kronotipe pagi dan menengah. Faktor pendukung terhadap munculnya gejala antara lain jenis kelamin dan usia. Semakin muda usia, risiko gejala depresi semakin berkurang 3,3 persen.

Dalam penelitian ini juga menemukan tentang kecenderungan lebih pesimis pada evening person. Pandangan tentang hidup cenderung negatif dan enggan memulai hari saat pagi.

Jika pandangan Anda berkebalikan dari pesimis saat memulai hari, apakah menu sarapan favorit Anda?