YOGYAKARTA - Lima orang dikabarkan terinfeksi virus Nipah di West Bengal, India akhir-akhir ini. Dokter dan perawat pun tercatat dalam daftar orang yang terinfeksi. Selanjutnya, ada sekitar 100 orang lebih yang diminta untuk menerapkan karantina di rumah karena pernah melakukan kontak erat dengan pasien yang terpapar virus Nipah. Dikutip dari laman The Independent, pada saat ini, masih ada satu pasien dalam kondisi kritis yang mendapat perawatan di rumah sakit. Simak ulasan mengenai fakta virus Nipah di bawah ini.
Fakta Virus Nipah
Beberapa fakta tentang virus Nipah yang perlu diwaspadai di antaranya:
Virus RNA dari Genus Henipavirus
Penyakit emerging zoonotik yang disebabkan oleh virus Nipah termasuk ke dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Hewan yang membawanya adalah fruit bat atau kelelawar buah.
Penyakit virus Nipah diidentifikasi pertama kali berdasarkan laporan wabah yang terjadi pada peternak babi di sebuah desa di Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999 yang memberi dampak hingga Singapura. Dikutip dari laman Kemenkes, dari wabah ini, dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian.
Penularan Virus Nipah
Penularan virus Nipah dari hewan ke manusia terjadi dengan cara kontak langsung. Selain itu, bisa juga menular dari kotoran seperti urine kelelawar dan juga air liur kelelawar.
Gejala Virus Nipah Diawali Demam dan Sakit Kepala
Gejala klinis virus Nipah dapat bervariasi. Pada fase awal, gejala yang muncul adalah demam dan sakit kepala atau mirip dengan gejala flu (flu like syndrome).
Pada fase lebih lanjut, pasien dapat kesulitan bernafas, radang paru, pneumonia, hingga gangguan neurologis. Bahkan, beberapa pasien dapat mengalami radang otak atau encefalitis yang berisiko menyebabkan orang jadi bingung, kejang hingga koma.
BACA JUGA:
Angka Kematian Virus Nipah Tinggi
Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, pada kasus berat, angka kematian orang yang terinfeksi virus nipah cukup tinggi, dapat mencapai 75 persen.
"Kematian sering terjadi dalam beberapa hari setelah onset pada kasus berat. Case fatality rate paling rendah itu 40 persen dan paling tinggi 75 persen. Ini artinya 4 dari 10 meninggal," jelasnya.
Belum Ada Terapi Spesifik
Hingga saat ini, belum ada terapi obat spesifik jika orang terinfeksi virus Nipah. "Jadi tata laksana pengobatannya ya suportif untuk mengontrol gejala lalu pada sebagian kasus perlu masuk ICU," ungkap Dicky.
Potensi Jadi Pandemi Rendah
Dicky yang tercatat sebagai peneliti global health security ini mengungkapkan potensi virus nipah menjadi pandemi rendah. Karena penularan antar manusia harus melakukan kontak dekat dan tidak menyebar melalui udara. Adapun kasus wabah cenderung bersifat klaster lokal sejauh ini.
"Skala secara global potensi virus nipah menjadi pandemi itu tetap rendah dibandingkan penyakit saluran pernapasan seperti SARS-CoV-2," kata Dicky.
"Jadi saya melihat ya potensi pandeminya rendah sekali ya," tegasnya.
Pencegahan
Upaya mencegah infeksi virus Nipah ini adalah dengan cara pengendalian kontak hewan dan manusia. Salah satunya hindari mengonsumsi buah yang mungkin sudah terkontaminasi kelelawar. Jadi, jika Anda ke hutan mengambil buah, pastikan selanjutnya buah sudah dicuci bersih, dan tangan juga bersih.
Kemudian, jauhkan hewan peliharaan dari area kelelawar berkumpul. Jika ada kasus yang mencurigakan, segera lakukan isolasi suspek. Termasuk petugas kesehatan yang memeriksa harus mengenakan alat pelindung diri yang lengkap.
Demikianlah ulasan mengenai fakta virus nipah. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.