JAKARTA - Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus Nipah menyusul terbitnya surat edaran Kementerian Kesehatan terkait kewaspadaan penyakit tersebut.
Meski belum ditemukan kasus di Indonesia, langkah pencegahan dinilai penting untuk menekan risiko penularan.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati meminta warga lebih memperhatikan kebersihan pangan dan perilaku sehari-hari yang berpotensi memicu penularan penyakit zoonotik, salah satuya menghindari kontak dengan hewan yang sakit.
"Masyarakat diimbau menjaga kebersihan pangan, mencuci buah sebelum dikonsumsi, menghindari kontak dengan hewan sakit, tidak mengkonsumsi buah yang terbuka/rusak dan diduga terpapar gigitan kelelawar, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala setelah kontak beresiko," ujar Ani kepada wartawan, Senin, 2 Februari.
Virus Nipah diketahui menular melalui beberapa jalur. Penularan dapat terjadi akibat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar pemakan buah, serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus.
Selain itu, kontak erat dengan penderita juga berpotensi menyebabkan penularan antarmanusia.
Dari sisi klinis, Ani menjelaskan gejala awal infeksi virus Nipah kerap menyerupai penyakit umum, sehingga perlu diwaspadai sejak dini. Gejala dapat berkembang cepat dan berakibat fatal jika tidak ditangani.
"Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, dan nyeri otot, yang dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan dan radang otak (ensefalitis)," ujarnya.
Diketahui, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kewaspadaan terhadap Penyakit Virus Nipah.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Murti Utami menyebut kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Indonesia dinilai memiliki risiko karena kedekatan geografis dan tingginya mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa virus Nipah.
"Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," kata Murti dalam surat edaran.
Selain itu, hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.
Lebih jelasnya, virus Nipah merupakan anggota genus Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi. Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti buah atau nira.
Penularan antarmanusia telah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinisnya beragam, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut ringan hingga berat, serta ensefalitis yang berpotensi menyebabkan kematian.
Tingkat kematian virus Nipah dilaporkan cukup tinggi, berkisar 40–75 persen. Wabah pertama tercatat pada 1998–1999 di Desa Sungai Nipah, Malaysia, yang menyerang peternak babi dan kemudian menyebar ke Singapura. Kasus manusia juga pernah dilaporkan di India, Bangladesh, dan Filipina.
Sejak 2001 hingga 2026, kasus virus Nipah muncul secara sporadis di Bangladesh dan India. Di India, wabah pernah terjadi di Negara Bagian West Bengal pada 2001 dan 2007, serta berulang di Negara Bagian Kerala sejak 2018.
Terbaru, pada 14 Januari 2026, India kembali melaporkan kasus konfirmasi virus Nipah di Negara Bagian West Bengal. Hingga 26 Januari 2026, tercatat dua kasus konfirmasi tanpa kematian di Distrik North 24 Parganas.
"Seluruh kasus konfirmasi merupakan tenaga kesehatan. Telah diidentifikasi lebih dari 120 kontak erat dan semuanya dilakukan karantina. Investigasi lengkap masih terus dilakukan," ungkap Murti.