Bagikan:

JAKARTA – Sejauh ini, belum ada kasus penyakit nipah di Indonesia, namun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyerukan agar tetap waspada, karena angka kematiannya tinggi.

Virus nipah tengah menjadi perbincangan luas dalam beberapa pekan terakhir. Lima orang di negara bagian Benggala Barat, India, dinyatakan positif terinfeksi. Penyakit ini tergolong mematikan, dengan tingkat kematian akibat virus nipah bisa mencapai 70 persen.

Mengutip laman World Health Organization (WHO), nipah termasuk salah satu penyakit infeksi zoonosis, biasanya ditularkan dari hewan ke manusia, tapi juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antarmanusia.

WHO menyebut penyakit infeksi virus nipah perlu mendapat perhatian serius, terutama negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Badan kesehatan dunia ini bahkan telah memasukkan infeksi virus nipah ke dalam kelompok penyakit infeksiemergingyang berpotensi menyebabkan ancaman kesehatan global seperti pandemi.

Bukan Virus Baru

Hingga saat ini belum ada catatan penemuan virus nipah pada manusia di Indonesia. Karena belum ada vaksin dan obat yang spesifik untuk menangani, IDAI menegaskan upaya pencegahan menjadi satu-satunya cara paling efektif dalam menangani virus nipah.

Virus nipah sebenarnya bukan virus yang baru. Menurut catatan WHO, virus nipah pertama kali ditemukan pada 1998 selama wabah di antara peternak babi di Malaysia. Pada tahun 1999, wabah dilaporkan di Singapura setelah mengimpor babi yang sakit dari Malaysia.

Namun tidak ada wabah baru yang dilaporkan dari Malaysia atau Singapura sejak 1999. Dua tahun kemudian, wabah infeksi virus nipah terdeteksi di India dan Bangladesh. Di Bangladesh sendiri wabah dilaporkan hampir setiap tahun sejak saat itu.

Lebih dari 800 kasus yang telah dilaporkan secara global sejak tahun 1998. Ada lima negara yang menjadi perhatian global, yaitu Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina.

Hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin untuk mencegah virus nipah, sehingga pola hidup bersih menjadi salah satu upaya mencegah penularan. (Unsplash)

Kelelawar pemakan buah dari familiPteropodidaedianggap sebagai inang alami virus nipah dan terdapat di berbagai bagian Asia dan Australia.

Penularan virus ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda, atau cairan hewan. Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui konsumsi makanan atau minuan yang terkontaminasi cairan tubuh hewan terinfeksi, serta erat dengan penderita yang terinfeksi virus nipah.

Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan ternak seperti babi, yang bisa menjadi inang perantara sehingga siap ditularkan ke manusia.

Hewan yang terinfeksi virus nipah, seperti kelelawar maupun babi, bisa sama-sama tidak menunjukkan gejala sakit.

Belum Ditemukan pada Manusia

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, tingkat kematian virus nipah sangat tinggi, yaitu mencapai 70 persen. Dengan kata lain, jika ada empat orang yang tertular tiga di antaranya berisiko meninggal.

"Jadi, ini memang salah satu penyakit yang cukup serius dan belum ada obat maupun vaksinnya. Oleh karena itu, perilaku hidup bersih sehat menjadi salah satu kunci utama mencegahnya," katanya, dalam media briefing yang digelar daring, Kamis (29/1/2026).

Meski tetap perlu waspada, Piprim menegaskan agar masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

Sementara itu, dokter spesialis anak subspesialis infeksi penyakit tropik Dominicus Husada menyampaikan, di Indonesia belum ditemukan virus nipah pada manusia, namun telah ditemukan pada kelelawar.

Kelelawar pemakan buah dianggap sebagai inang alami virus nipah. (Unsplash)

"Jadi, kita harus tetap waspada. Apalagi, angka kematiannya tinggi, 40-70 persen. Dibandingkan COVID-19, hanya sekitar satu persen," tuturnya.

Menurut Dominicus, virus nipah bisa menular ke semua usia dengan usia yang paling banyak ditemukan 17-27 tahun. Penularan pada anak memang jarang ditemukan. Penularan lebih banyak ditemukan pada usia dewasa muda, terutama laki-laki.

Penularan virus nipah, kata Dominicus, memiliki masa inkubasi atau masa antara penularan dan muncul gejala 4-14 hari setelah terpapar virus. Namun, pada beberapa kasus ditemukan dengan masa inkubasi sampai 45 hari. Sedangkan gejala dan tanda yang perlu diwaspadai yaitu demam, nyeri kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri saat menelan.

Karena hingga sekarang tidak ada antivirus dan obatnya, Dominicus mengatakan penyakit ini hanya bisa diobati secara suportif.

"Jadi kalau gejalanya panas, yang diobati adalah panasnya. Atau diberikan faktor pendukung lain seperti untuk kebutuhan cairan, oksigen, atau pengendali suhu," ucapnya.

Ada beberapa langkah pencegahan yang harus diperhatikan, di antaranya tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon. Ini karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari.

Mencuci dan kupas buah secara menyeluruh juga bisa menjadi salah satu langkah pencegahan virus nipah. Selain itu, jangan makan buah yang ditemukan dengan tanda gigitan kelelawar.