JAKARTA – Presiden Ketujuh Indonesia Joko Widodo (Jokowi) turun gelanggang dalam Rakernas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar. Ia menegaskan targetnya adalah PSI lolos ke Senayan pada 2029.
Jokowi mendapat sambutan meriah dari ribuan kader PSI, Sabtu (31/1/2026). Dalam pidatonya, mantan Wali Kota Solo ini menegaskan PSI harus memperkuat jaringan daring dan luring, demi mendekatkan diri kepada masyarakat. Di jagat maya, ia menyebut partai harus menyapa warganet dan memperbesar jangkauan. Tapi yang tidak kalah penting adalah upaya turun langsung bertemu dengan masyarakat.
“Kita perlu mesin besar karena target PSI adalah target besar. Targetnya tinggi, maka mesinnya harus besar,” kata Jokowi.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Sukri Tamma menuturkan, kehadiran Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar menunjukkan posisi seorang politisi yang telah turun gelanggang secara langsung.
Energi Baru
Dalam sebuah sesi tanya jawab, Jokowi menjelaskan pentingnya peran mesin partai, mulai dari tingkat desar hingga bawah. Namun ia memastikan target ini bisa selesai pada akhir 2026.
Raja Juli Antoni, Sekretaris Jenderal PSI, menyebut kehadiran Jokowi menjadi energi baru, memompa semangat, dan mempertebal keyakinan meraih kursi dominan pada 2029.
Sebagai partai yang usianya baru seumur jagung, kehadiran Jokowi dalam Rakernas PSI setidaknya menarik perhatian khalayak. Sejauh mana pengaruh Jokowi terhadap panggung politik Tanah Air setelah tak lagi menjabat presiden?
Sebelum ini, PSI memang kerap membuat kejutan demi lolos ke parlemen pada Pemilu 2024. PSI menggaet Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, sebagai anggota partai pada 23 September 2023. Dua hari kemudian, Kaesang lamgsung ditetapkan sebagai Ketua Umum PSI.

Kehadiran Kaesang waktu itu diharapkan bisa memberikan efek besar. Namun Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menyebut efeknya tidak terlalu masif.
Penunjukkan Kaesang sebagai Ketum PSI waktu itu hanya beberapa bulan sebelum pemilu. Dengan waktu terbatas, Arya menyebut tidak mudah bagi PSI melakukan sosialisasi dan mobilisasi.
“Apalagi tingkat pengenalan publik pada PSI belum besar,” katanya.
Dampak lainnya terasa pada calon-calon legislatif PSI, yang sebahian besar belum pernah memiliki pengalaman kompetisi langsung dalam pemilu. Karena itu, ketika berhadapan dengan petahana dinilai berat.
Tidak Lagi Malu-malu
Pemilu 2029 masih tiga tahun lagi, namun PSI sudah memanaskan mesin politiknya dari sekarang. Sederet konsolidasi digelar, sambal melancarkan strategi “kandang gajah” di sejumlah daerah.
Yang menjadi perhatian khalayak kali ini adalah bagaimana Jokowi terlihat berapi-api dalam menyampaikan pidatonya pada Rakernas PSI beberapa waktu lalu.
Kehadiran Jokowi, kata Sukri, menunjukkan posisi seorang politisi yang kini turun gelanggang secara langsung. Jika sebelumnya Jokowi tampak malu-malu dalam memberi dukungan, kali ini justru secara langsung memproklamasikan diri sebagai orang yang berada di barisan PSI.
BACA JUGA:
Sebagai partai baru dan gagal ke parlemen dalam debut pemilu dua tahun lalu, PSI butuh daya tawar yang tinggi. Selama ini, kata Sukri, Jokowi lebih banyak berada di belakang layar. Namun situasi yang berubah membuatnya harus hadir secara utuh di partai politik.
Untuk sekarang ini, PSI menjadi kendaraan utama karena tidak ada parpol lain yang berpeluang ia masuki. Karena itu, kehadirannya merupakan pernyataan lugas dalam dunia politik, meski kondisi kesehatannya tidak seperti sebelumnya.
”Sebagai pesan ke internal bahwa ’saya hadir dan kita harus bekerja keras bersama’. Sementara untuk pihak luar, ini adalah statement bahwa Jokowi masih ada dan sanggup bertarung,” ujarnya.
Tak Tergantung Popularitas
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno ikut menyoroti kehadiran Jokowi dalam Rakernas PSI. Ia pun menilai ada dua keyakian yang berkembang di publik.
Pertama, Jokowi masih memiliki daya magis politik untuk meloloskan PSI ke parlemen. Kedua, Jokowi sudah kehilangan pengaruh karena tak lagi memegang kekuasaan formal.
“Ketika Jokowi siap total besarkan PSI itu semacam kesiapan uji kesaktian Jokowi setelah tak lagi presiden dan bukan PDI Perjuangan. Kalau PSI lolos pasti ada yang bilang Jokowi masih sakti, kalau tak lolos pastinya mendapat kritik habis-habisan,” ujar Adi.
Adi menambahkan, keberhasilan Jokowi mendongkrak suara PSI tak semata-mata bergantung pada popularitas. Faktor penentunya justru terletak pada kerja nyata partai, karena pada dasarnya politik adalah soal meyakinkan rakyat bawah.

“PSI punya suntikan semangat karena Jokowi akan mati-matian menangkan PSI. Tinggal uji materi apakah Jokowi masih sakti atau tidak setelah tak lagi jadi presiden dan pecah kongsi dengan PDI Perjuangan. Kuncinya kerja lapangan,” jelasnya.
Lebih jauh, Adi menekankan bahwa perebutan suara pemilih sangat bergantung pada pendekatan langsung ke masyarakat akar rumput. Selama ini, PSI lebih identik dengan pemilih perkotaan.
“Selama ini PSI itu identik dengan pemilih kota. PR terbesarnya itu, bagaimana PSI penetrasi ke pemilih desa yang jumlahnya sangat mayoritas,” kata Adi menyudahi.