JAKARTA – Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, mengungkapkan bahwa ketergantungan terhadap Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) berpotensi menjadi bumerang bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang Pemilu Legislatif 2029.
Menurutnya, adanya informasi bahwa kesehatan Jokowi telah pulih 99 persen dan akan mulai berkeliling Indonesia pada Juni 2026 merupakan sinyal kuat bahwa Jokowi akan ikut membesarkan PSI di berbagai daerah.
Hal ini sejalan dengan pernyataan kesiapan Jokowi dalam Rakernas PSI di Makassar pada 31 Januari lalu.
Di sisi lain, hal tersebut juga menunjukkan bila PSI saat ini masih sangat bergantung pada figur Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas partai.
Terlebih, hingga kini belum ada kader PSI yang memiliki daya tarik elektoral kuat, termasuk Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep.
“Ketergantungan terhadap Jokowi semakin besar karena hingga saat ini elektabilitas PSI masih rendah. Hasil survei terakhir, elektabilitas PSI hanya di kisarann 1,2 persen,” tutur Jamil, Minggu, 17 Mei.
Padahal, kata dia, Kaesang bersama Ketua Harian PSI Ahmad Ali dan jajaran pengurus partai telah berkeliling Indonesia untuk melakukan konsolidasi politik.
PSI bahkan sempat menyebut Jawa Tengah dan Makassar akan menjadi basis utama partai berlambang gajah tersebut.
“Nyatanya petinggi PSI tak mampu mengerek elektabilitas partainya. Karena itu, PSI tampaknya tinggal berharap pada Jokowi agar mimpinya ke Senayan dapat terwujud,” sambungnya.
Meski demikian, Jamil menyebut strategi tersebut sangat spekulatif. Sebab, dia menilai pengaruh politik Jokowi saat ini tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu karena masa keemasannya mulai memudar.
Jokowi, lanjutnya, dilihat bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya, tapi lebih lekat dengan sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya.
BACA JUGA:
Dia menilai, dukungan loyalis Jokowi saat ini juga belum tentu cukup kuat untuk mendongkrak elektabilitas PSI secara nasional.
Bahkan, terlalu mengandalkan Jokowi justru berisiko memunculkan antipati publik terhadap PSI.
“Berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Kehadiran Jokowi ke penjuru tanah air membawa panji-panji PSI bisa jadi malah menjadi bumerang,” ujar Jamil.