JAKARTA — Korea Selatan mulai menunjukkan ambisinya di industri pertahanan. Mengutip laporan Kyodo News, Jumat, 15 Mei, jet tempur KF-21 Boramae buatan dalam negeri menjalani uji terbang di Sacheon, sekitar 300 kilometer selatan Seoul, Rabu.
Jet abu-abu itu melaju di landasan Grup Penerbangan Uji ke-52 Angkatan Udara sebelum lepas landas ke langit cerah. Uji terbang tersebut digelar untuk menunjukkan kesiapan dan kemampuan program jet tempur pertama yang dikembangkan Korea Selatan.
“Penerbangan prototipe dilakukan untuk menguji kinerja mode udara-ke-darat,” kata Letkol Jeon Seung-hyun, komandan Skuadron Penerbangan Uji ke-281.
Jeon mengatakan setiap prototipe dipantau secara waktu nyata dari ruang kendali misi. Tim bahkan bisa mendengar napas pilot untuk mengetahui apakah ada gangguan atau kesulitan saat penerbangan.
Ambisi Korea Selatan membuat jet tempur sendiri sudah muncul sejak 2001, saat Presiden Kim Dae-jung mengumumkan rencana tersebut. Namun proyek itu lama tertahan karena keraguan soal kelayakan dan anggaran.
BACA JUGA:
Program KF-21 Boramae resmi diluncurkan pada Desember 2015 bersama Indonesia. Boramae berarti “elang muda” dalam bahasa Korea. Pesawat supersonik ini dikembangkan untuk menggantikan F-4 yang telah pensiun dan F-5 tua yang masih digunakan.
Korea Aerospace Industries atau KAI akan memproduksi 40 KF-21 tahap pertama dengan kemampuan utama udara-ke-udara untuk Angkatan Udara hingga 2028. Sedikitnya delapan unit ditargetkan dikirim akhir tahun ini.
Tahap kedua menargetkan produksi 80 jet tambahan dengan rudal udara-ke-darat jarak jauh pada 2032.
Sejak prototipe pertama diluncurkan pada April 2021, produksi massal mulai berjalan. Saat ini, 20 dari 40 jet tahap pertama sudah masuk jalur perakitan akhir di pabrik KAI, Sacheon.
Pabrik perakitan itu seluas 21.000 meter persegi, setara tiga lapangan sepak bola. Di satu sisi, 20 KF-21 dirakit. Di sisi lain, 39 pesawat serang ringan FA-50 juga dikerjakan.
“Semuanya dirakit di sini, kecuali mesin, yang dikerjakan di hanggar,” kata pejabat KAI, Lee Sang-hwi, seperti dikutip Kyodo.
KAI menyebut pengembangan KF-21 membuka jalan bagi Korea Selatan untuk mengekspor jet tempur dan sistem persenjataannya.
CEO KAI Kim Jong-chool mengatakan pembicaraan awal sudah berjalan untuk potensi ekspor sedikitnya 200 unit ke sejumlah negara, termasuk Filipina, Malaysia, dan Polandia.
“Saya yakin kami bisa menjual hingga 1.000 unit,” kata Kim.
Namun, target itu masih bergantung pada kelanjutan produksi tahap kedua, atau Block-II, yang direncanakan dimulai tahun depan. Tahap ini penting karena berkaitan dengan pengembangan kemampuan serangan udara-ke-darat jarak jauh.
Kim mengingatkan, hambatan investasi dapat memengaruhi kapasitas produksi, persiapan lain, dan para subkontraktor.
“Namun, kami percaya pada akhirnya pemerintah dan militer yang akan memutuskan,” kata Kim.
Dengan KF-21, Korea Selatan tidak hanya mengejar kebutuhan militernya sendiri. Seoul juga sedang menyiapkan dasar untuk masuk lebih jauh ke pasar ekspor jet tempur dan sistem persenjataan.