JAKARTA – Tren gangguan penglihatan pada anak usia sekolah kini mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung melaporkan bahwa mayoritas siswa yang menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 terdeteksi mengalami kelainan visus atau mata minus (miopia).
Pemicu utamanya? Penggunaan gawai (smartphone) yang intens sejak usia dini.
Ancaman Miopia di Usia Sekolah
Kepala Bidang P2P Dinkes Tulungagung, dr. Aris Setiawan, mengungkapkan bahwa pemeriksaan ini menyasar sekitar 183 ribu siswa dari jenjang SD hingga SMA. Hasilnya mengejutkan: gangguan penglihatan mendominasi temuan medis di lapangan.
"Mayoritas anak mengalami kelainan visus. Selain faktor anatomis seperti bentuk bola mata, kebiasaan durasi paparan layar gawai yang panjang menjadi penyebab paling dominan," jelas dr. Aris, Jumat (16/1).
Kebiasaan Buruk yang Merusak Mata
Dinkes menyoroti beberapa faktor risiko yang mempercepat penurunan fungsi penglihatan pada anak-anak saat ini:
Kurang Aktivitas Luar Ruang: Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan bermain di luar ruangan.
BACA JUGA:
Posisi Salah: Kebiasaan menggunakan gawai sambil tiduran.
Pencahayaan Minim: Menggunakan perangkat elektronik di ruangan gelap yang membuat otot mata bekerja ekstra keras.
Selain masalah mata, CKG juga menemukan indikasi gangguan kesehatan kronis lainnya pada pelajar, seperti prediabetes, prehipertensi, dan gangguan pernapasan.
Tips Mencegah Kerusakan Mata pada Anak
Untuk menekan angka miopia, Dinkes Tulungagung memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi orang tua dan siswa:
Batasi Screen Time: Kurangi durasi penggunaan gawai setiap harinya.
Istirahatkan Mata: Gunakan metode melihat objek hijau di lingkungan sekitar secara berkala untuk merelaksasi otot mata.
Pencahayaan Cukup: Pastikan ruangan memiliki cahaya yang memadai saat belajar atau menggunakan perangkat elektronik.
Konsultasi Medis: Jika penglihatan mulai kabur, segera gunakan kacamata sesuai anjuran dokter agar gangguan tidak semakin berat.
Dinkes kini telah berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mengomunikasikan hasil pemeriksaan ini kepada orang tua agar kontrol penggunaan gawai di rumah bisa lebih diperketat demi masa depan kesehatan anak.