JAKARTA - Jepang mempertimbangkan penggunaan dana cadangan sekitar 500 miliar yen atau sekitar 3,1 miliar dolar AS untuk menahan tagihan listrik dan gas rumah tangga pada musim panas.
Dilansir Kyodo News, Kamis, 21 Mei, seorang sumber pemerintah mengatakan subsidi itu disiapkan karena krisis Timur Tengah dan penutupan efektif Selat Hormuz berpotensi mendorong harga energi di Jepang.
Jepang rawan terpukul karena miskin sumber daya alam dan sangat bergantung pada impor energi. Saat jalur pasokan terganggu, tagihan rumah tangga bisa ikut naik.
Pemerintah Jepang disebut menyiapkan subsidi per rumah tangga yang jauh lebih besar dibanding periode Juli-September tahun lalu.
Rencana itu muncul setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Senin meminta Partai Demokrat Liberal dan mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang, menyusun langkah rinci untuk menekan tagihan listrik dan gas.
Targetnya, tagihan listrik dan gas musim panas ini tetap lebih rendah dibanding musim panas tahun lalu.
BACA JUGA:
Kebutuhan listrik di Jepang biasanya naik saat musim panas karena penggunaan pendingin ruangan meningkat.
Pada musim panas tahun lalu, beban listrik dan gas rata-rata rumah tangga turun sekitar 1.000 yen per bulan berkat subsidi pemerintah. Saat itu, dana cadangan yang dipakai mencapai 288,1 miliar yen dari anggaran fiskal 2025.
Kali ini, angkanya bisa jauh lebih besar. Pemerintah mempertimbangkan dana sekitar 500 miliar yen, hampir dua kali lipat dari penggunaan tahun lalu.
Subsidi listrik dan gas bukan hal baru bagi Jepang. Program ini diberlakukan beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat musim panas dan musim dingin ketika kebutuhan pendingin dan pemanas naik.
Program tersebut pertama kali diperkenalkan pada Januari 2023, saat harga energi melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina. Kini, tekanan datang dari arah lain yakni krisis Timur Tengah dan Selat Hormuz.