JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis rekomendasi terbaru tentang manajemen klinis HIV. Ini memberikan pandungan baru dan revisi tentang terapi antiretroviral, manajemen HIV vertikal, dan pencegahan tuberkulosis (TB) untuk orang yang hidup dengan HIV.
Rekomendasi manajemen klinis terbaru ini mendukung pendekatan berbasis bukti dan hemat biaya, untuk meningkatkan hasil pengobatan, mengurangi kematian terkait HIV, dan mempercepat kemajuan untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat.
Adapun beberapa manajemen klinis HIV terbaru yang dirilis oleh WHO tersebut adalah di bawah ini, dikutip dari laman resmi WHO, pada Kamis, 8 Januari 2026.
1. Mengoptimalkan terapi antiretroviral
Rekomendasi yang diperbarui mengkonfirmasi rejimen berbasis dolutegravir sebagai pilihan yang lebih disukai untuk pengobatan HIV awal dan selanjutnya. Ini juga memperkenalkan perubahan penting bagi orang-orang yang rejimen pengobatannya tidak lagi efektif.
Pedoman ini juga mendukung penggunaan kembali tenofovir dan abacavir dalam rejimen berikutnya berdasarkan hasil yang lebih baik, keuntungan terprogram, dan potensi penghematan biaya.
BACA JUGA:
2. Memperkuat pencegahan penularan HIV secara vertikal
Meskipun ada kemajuan besar dalam menghilangkan penularan vertikal, infeksi HIV bayi baru terus terjadi, terutama selama menyusui. Pedoman yang diperbarui menekankan pendekatan kesehatan masyarakat yang berpusat pada orang yang mendukung pilihan ibu dan kesejahteraan bayi.
WHO terus merekomendasikan agar ibu dengan HIV menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama hingga 24 bulan, di samping terapi antiretroviral ibu yang efektif. Semua bayi yang terpapar HIV juga harus menerima profilaksis pascanatal selama enam minggu.
3. Memprioritaskan pencegahan TB pada pengidap HIV
Tuberkulosis (TB) tetap menjadi penyebab utama kematian di antara orang-orang yang hidup dengan HIV. Untuk meningkatkan penyerapan dan penyelesaian terapi pencegahan TB, WHO merekomendasikan tiga bulan mingguan isoniazid plus rifapentine (3HP).
Hal tersebut sebagai rejimen pengobatan pencegahan TB yang disukai untuk orang dewasa dan remaja yang hidup dengan HIV. Intervensi yang diarusutamakan akan memfasilitasi integrasi layanan yang lebih baik dan bertujuan untuk mengurangi kematian terkait TB pada pengidap HIV, sambil menyederhanakan pemberian layanan.
Direktur Departemen HIV, TB, Hepatitis virus, dan IMS WHO, Dr. Tereza Kasaeva, mengatakan bahwa rekomendasi manajemen klinis terbaru ini menjadi komitmen WHO untuk memastikan penderita HIV bisa hidup nyaman dengan pilihan pengobatan paling efektif.
“Dengan menyederhanakan pengobatan, meningkatkan kepatuhan dan mengatasi kesenjangan yang terus menerus dalam pencegahan, mereka akan membantu negara-negara memperkuat program HIV dan menyelamatkan nyawa,” pungkas Tereza.