YOGYAKARTA - Banyak orang sering bertanya, apakah penderita asma boleh mendaki gunung? Pertanyaan ini muncul, mengingat udara dingin dan aktivitas fisik berat di ketinggian sering menjadi pemicu utama kekambuhan saluran pernapasan.
Meskipun memiliki risiko, kondisi asma bukan berarti menjadi penghalang bagi Anda untuk menikmati indahnya pemandangan dari puncak gunung asalkan melakukan persiapan medis dan fisik yang sangat matang.
DIlansir VOI dari laman Follow Alice Tours, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat akan mendaki gunung, khusus untuk penderita asma:
Memahami Hubungan Asma dan Ketinggian
Mendaki ke ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) memberikan memang tantangan unik.
Secara ilmiah, persentase oksigen di gunung tetap sama (21%), namun tekanan atmosfer menurun. Hal ini membuat oksigen lebih sulit masuk ke aliran darah, sehingga tubuh harus bekerja ekstra keras untuk bernapas.
Bagi penderita asma, pemicu utamanya bukanlah tipisnya oksigen, melainkan perubahan suhu dan kelembapan.
Paru-paru manusia menyukai udara hangat dan lembap, sementara udara gunung cenderung dingin dan sangat kering. Kondisi kering ini dapat mengiritasi lapisan bronkial dan memicu penyempitan saluran napas.
BACA JUGA:
Sisi Positif Mendaki bagi Penderita Asma
Menariknya, tidak semua penderita asma akan merasa memburuk di gunung. Beberapa justru merasa lebih baik dikarenakan beberapa hal berikut:
- Minim Alergen: Di ketinggian tertentu, tungau debu rumah dan serangga tidak dapat bertahan hidup.
- Udara Bersih: Jauh dari polusi perkotaan yang sering menjadi pemicu asma kronis.
- Vegetasi Berbeda: Bagi mereka yang alergi serbuk sari tertentu, lingkungan gunung mungkin menawarkan udara yang lebih "ramah" bagi paru-paru.
Risiko Fatal Penderita Asma Naik Gunung
Satu hal yang wajib diwaspadai adalah High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE), yaitu penumpukan cairan di paru-paru. Gejalanya mirip dengan asma parah yaitu sesak napas hebat, batuk kering yang berlanjut menjadi dahak berbusa merah muda, dan bibir membiru (sianosis).
Baca juga artikel yang membahas Olahraga yang Paling Efektif untuk Menghindari Sakit Asma: Aman dan Mencegah Kekambuhan
Nah, jika gejala tidak membaik dengan obat asma, segera turun ke elevasi lebih rendah karena HAPE bisa berakibat fatal. Agar rencana pendakian berjalan lancar, terapkan strategi berikut:
- Konsultasi Dokter dan buat Action Plan: Perbarui rencana penanganan asma Anda. Pastikan Anda membawa surat keterangan medis dan daftar obat-obatan resmi.
- Manajemen Inhaler: Suhu dingin dapat menurunkan tekanan propelan pada inhaler jenis MDI (Metered-Dose Inhaler). Simpan inhaler di saku dalam pakaian agar tetap hangat oleh suhu tubuh.
- Gunakan Teknik Pernapasan: Pakailah syal atau buff di mulut dan hidung. Ini membantu menghangatkan serta melembapkan udara sebelum masuk ke paru-paru.
- Aklimatisasi Bertahap: Jangan terburu-buru. Batasi kenaikan ketinggian 300-500 meter per hari setelah melewati 2.500 mdpl untuk memberi waktu tubuh beradaptasi.
- Hidrasi Maksimal: Dehidrasi memperburuk gejala pernapasan. Minumlah air secara teratur dan hindari alkohol atau rokok yang mengganggu pengiriman oksigen dalam darah.
Jadi jawaban atas pertanyaan apakah penderita asma boleh mendaki gunung adalah iya, sangat boleh. Kuncinya terletak pada persiapan yang matang, pengenalan terhadap batas kemampuan diri, dan kepatuhan terhadap penggunaan obat pencegah. Dengan perencanaan yang tepat, puncak gunung bukan lagi sekadar impian bagi pemilik paru-paru sensitif.