YOGYAKARTA - Banyak orang tergiur kemudahan dishwasher, namun penting bagi Anda untuk memahami apa saja kelemahan mesin cuci piring otomatis ini sebelum memutuskan untuk memasangnya di area dapur rumah.
Memang alat ini terlihat sangat praktis dan modern, tetapi ada beberapa keterbatasan teknis serta biaya operasional tinggi yang seringkali menjadi keluhan utama bagi para pengguna baru.
Sejarah Singkat dan Kelemahan Mesin Cuci Piring Otomatis
Sejak dipatenkan pertama kali pada 1850 oleh Josephine Cochrane, mesin cuci piring (dishwasher) awalnya adalah barang mewah untuk kalangan sosialita yang takut piring keramiknya pecah jika dicuci manual.
Meski kini sudah menjadi standar di negara maju, alat ini membawa sejumlah konsekuensi yang harus Anda pertimbangkan matang-matang. Dilansir VOI dari laman house Digest, berikut ini beberapa kelemahan washdisher yang perlu Anda ketahui:
Biaya Investasi dan Pemasangan yang Selangit
Salah satu kelemahan mesin cuci piring otomatis yang paling nyata adalah harganya. Menurut data dari Forbes, rata-rata biaya pembelian dan instalasi unit bisa mencapai Rp15 jutaan, bahkan bisa jauh lebih mahal tergantung merek. Ini merupakan investasi besar yang belum tentu sebanding dengan manfaatnya bagi setiap orang.
Konsumsi Listrik yang Membengkak
Meskipun mesin ini sering diklaim hemat air, ia sangat rakus listrik. Untuk mencapai tingkat sanitasi yang bisa membunuh bakteri seperti E. coli dan Salmonella, mesin harus memanaskan air hingga suhu tinggi. Proses pemanasan air inilah yang akan membuat tagihan listrik bulanan Anda melonjak drastis.
Masalah Ruang dan Ukuran
Mesin cuci piring memerlukan ruang permanen yang cukup luas di dapur. Bagi Anda yang tinggal di apartemen kecil atau rumah dengan dapur sempit, kehadiran alat ini bisa sangat menyesakkan. Meski ada varian portabel, namun kapasitasnya terbatas dan tetap memakan ruang kontra atas (countertop).
Tidak Efisien untuk Keluarga Kecil
Mesin ini dirancang untuk mencuci dalam jumlah besar sekaligus. Jika Anda tinggal sendirian atau hanya berdua, menyalakan mesin untuk beberapa piring saja adalah pemborosan energi.
Sebaliknya, jika menunggu piring menumpuk agar mesin penuh, dapur Anda justru akan berbau dan menjadi sarang kuman.
Harus Dibilas Manual Terlebih Dahulu
Ekspektasi bahwa piring kotor bisa langsung masuk mesin seringkali meleset. Untuk peralatan yang sangat berminyak atau terkena noda makanan lengket, Anda tetap harus membilasnya dengan tangan. Jika tidak, sisa makanan akan menyumbat filter dan membuat hasil cucian tidak bersih maksimal.
BACA JUGA:
Durasi Pencucian yang Sangat Lama
Jika Anda sedang terburu-buru, mencuci manual adalah pemenangnya. Siklus pencucian mesin otomatis rata-rata memakan waktu 1 hingga 3 jam. Ini tentu tidak praktis jika Anda membutuhkan peralatan makan tersebut dalam waktu singkat untuk sesi makan berikutnya.
Tidak Sehat
Menariknya, sebuah studi di Swedia yang dilaporkan oleh NPR mengungkapkan sisi kesehatan yang mengejutkan. Anak-anak yang tinggal di rumah tanpa mesin cuci piring (mencuci manual) cenderung memiliki risiko alergi, asma, dan eksim yang lebih rendah.
Baca juga artikel yang membahas Fakta atau Mitos? Apakah Penderita Asma Boleh Mendaki Gunung?
Para peneliti berteori bahwa paparan bakteri dalam jumlah kecil saat mencuci manual justru membantu memperkuat sistem imun tubuh. Hal ini menjadi sesuatu yang hilang karena proses sanitasi ekstrem dari mesin otomatis.
Memahami kelemahan mesin cuci piring otomatis bukan berarti melarang Anda membelinya. Namun, jika Anda memiliki anggaran terbatas, ruang dapur sempit, atau hanya tinggal sendiri, mencuci piring dengan tangan tetap menjadi pilihan yang lebih cerdas.