JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap asal-usul pangan yang dikonsumsi terus meningkat, termasuk pada produk telur. Telur bebas sangkar (cage-free) kerap dipandang sebagai pilihan yang lebih bertanggung jawab karena dihasilkan dari sistem pemeliharaan yang memungkinkan ayam bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya.
Dari sisi nutrisi, telur bebas sangkar kerap dipersepsikan lebih baik, meski perbedaannya tidak selalu signifikan dibanding telur dari sistem kandang. Mengutip laman Healthline, kandungan protein, lemak, dan kolesterol pada kedua jenis telur relatif serupa.
Namun, beberapa penelitian menunjukkan telur dari ayam yang dipelihara tanpa kandang berpotensi memiliki kadar omega-3, vitamin A dan E, serta antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin yang lebih tinggi, terutama jika ayam mendapat pakan yang lebih beragam dan alami.
Sejumlah studi juga menunjukkan sistem peternakan yang lebih baik dapat berkontribusi pada kualitas telur, sekaligus menjawab tuntutan konsumen akan pangan yang lebih berkelanjutan, etis, dan transparan.
Faktor-faktor inilah yang mendorong gerakan telur bebas sangkar menjadi semakin relevan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di kawasan Asia dengan konsumsi telur yang tinggi.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu tersebut, sektor pangan Asia kini berada pada fase penentuan seiring mendekatnya tenggat komitmen bebas sangkar tahun 2025 yang telah ditetapkan oleh banyak perusahaan. Meski keterlibatan pelaku usaha menunjukkan tren meningkat, laju implementasi dinilai masih belum memadai dan kesenjangan transparansi masih ditemukan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi komitmen tepat waktu, yang berdampak pada kesejahteraan hewan serta keberlanjutan rantai pasok global.
Laporan Asia Cage-Free Tracker 2025 yang disusun oleh Sinergia Animal menilai 95 perusahaan pangan yang beroperasi di India, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Lima negara tersebut merupakan pemain kunci dalam ekonomi telur Asia dan memiliki peran strategis dalam pasokan telur bebas sangkar di tingkat global.
Hasil laporan menunjukkan 70,5 persen perusahaan telah mengungkapkan sebagian kemajuan menuju pengadaan telur bebas sangkar, meningkat tipis dibandingkan 69,8 persen pada 2024. Kendati demikian, sebanyak 29,5 persen perusahaan masih belum menyampaikan laporan publik sama sekali.
Sementara itu, hanya 14,7 persen perusahaan yang telah sepenuhnya menerapkan sistem bebas sangkar atau berada di jalur yang jelas untuk memenuhi komitmen mereka pada akhir 2025, meskipun sebagian besar telah menyatakan janji transisi tersebut sejak beberapa tahun lalu.
Lambatnya kemajuan ini menjadi perhatian serius mengingat peran Asia yang sangat besar dalam ekonomi telur global. Kawasan ini merupakan produsen mayoritas telur komersial dunia, dengan karakteristik peran yang beragam di setiap negara.
BACA JUGA:
Thailand dikenal sebagai pemasok telur dan bahan baku olahan untuk pasar ekspor, sementara Indonesia dan Malaysia berkontribusi dalam menjaga stabilitas pasokan domestik dan regional. India terus memperkuat posisinya dalam industri telur bubuk dan bahan baku telur olahan yang digunakan secara luas di berbagai negara.
Di sisi lain, Jepang, sebagai salah satu negara dengan konsumsi telur per kapita tertinggi di dunia, sangat bergantung pada impor bahan baku telur. Meski demikian, sistem kandang baterai masih menjadi metode produksi yang dominan di banyak negara Asia.

Dalam sistem ini, ayam dipelihara di ruang yang sangat terbatas bahkan lebih kecil dari selembar kertas A4 sehingga tidak memungkinkan perilaku alami seperti bersarang, bertengger, atau mandi debu. Padahal, praktik ini telah dilarang secara bertahap di Uni Eropa, Kanada, dan Selandia Baru.
Di Asia, penggunaannya masih meluas akibat lambatnya penerapan kebijakan dan minimnya pelaporan yang transparan.
Laporan tahun 2025 ini mengelompokkan perusahaan ke dalam sembilan tingkatan (tier) untuk mengidentifikasi pihak yang telah memimpin transisi maupun yang masih tertinggal.
Sejumlah perusahaan seperti Aman Resorts, Capella Hotel Group, Illy Caffè, Lotus Bakeries, Shake Shack, Starbucks, Pizza Marzano, dan The Cheesecake Factory tercatat telah menyelesaikan transisi telur bebas sangkar di seluruh operasional mereka di Asia.
Sementara itu, Bali Buda, Group Holder, Group Savencia, IKEA, Pizza Express, dan ViaVia Restaurant mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan penyelesaian transisi tersebut pada akhir 2025.
Namun, laporan juga mencatat 33 perusahaan hanya merilis informasi kemajuan secara global tanpa data spesifik untuk kawasan Asia, sehingga sulit menilai implementasi di tingkat regional. Selain itu, 28 perusahaan lainnya tidak menunjukkan transparansi publik sama sekali terkait komitmen bebas sangkar.
Analisis berdasarkan negara turut memperlihatkan ketimpangan. Indonesia memiliki jumlah perusahaan partisipan terbanyak dengan 57 perusahaan, namun tingkat implementasinya masih belum merata. India mencatat tingkat pelaporan yang relatif tinggi sebesar 78,6 persen, meskipun pelaksanaannya sangat beragam. Jepang menunjukkan tingkat transparansi terendah di antara seluruh negara yang dievaluasi.
Thailand memiliki keterlibatan yang cukup baik, tetapi masih terbatas pada tahap implementasi lanjutan, sementara Malaysia terus menunjukkan peningkatan partisipasi meski mayoritas perusahaan belum menyampaikan laporan khusus untuk negara tersebut.
"Kami melihat adanya pergerakan, tetapi tidak secepat yang dibutuhkan. Tahun depan sangat penting. Perusahaan yang menunda pembaruan berisiko tertinggal karena ekspektasi konsumen terhadap transparansi dan sumber pangan yang bertanggung jawab terus meningkat," kata Nurkhayati Darunifah, Corporate Accountability Lead Asia dan penulis laporan tersebut.
Dalam kesempatan lain, Saneekan Rosamontri, Managing Director Sinergia Animal Thailand mengatakan, seiring mendekatnya tenggat waktu tahun 2025, perusahaan-perusahaan di seluruh Asia menghadapi momen penentuan.
"Komitmen bebas sangkar bukan lagi sekadar niat, melainkan soal pembuktian. Pelaporan yang transparan dan tindakan tepat waktu akan menentukan apakah Asia akan mempercepat kemajuan atau justru menjadi penghambat dalam transisi global menuju standar kesejahteraan hewan yang lebih tinggi," jelasnya.
Ke depannya, Act for Farmed Animals koalisi yang terdiri dari Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal International menyatakan akan terus memantau perkembangan serta menjalin kolaborasi dengan pelaku usaha di Asia.
Upaya ini ditujukan untuk memastikan penerapan standar pangan yang sejalan dengan harapan global terhadap sistem pangan yang lebih transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.