JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan telur ayam ras dalam kondisi aman dan mencukupi. Produksi dalam negeri dinilai mampu menopang kebutuhan konsumsi nasional, termasuk hingga periode Lebaran mendatang.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan stok telur secara nasional sangat mencukupi, bahkan melewati momen Ramadan dan Lebaran.
“Stok telur kita secara nasional banyak. Intinya sangat memenuhi kebutuhan nasional. Secara nasional ketersediaan telur sangat banyak. Lewat Ramadan juga aman. Surplus kita. Kita tidak ada masalah kalau telur,” ujar Ketut di Jakarta, Kamis, 25 Desember.
Ketut menepis anggapan bahwa program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi penyebab naiknya harga telur ayam ras. Menurut dia, pengaruh MBG terhadap peningkatan permintaan telur masih relatif kecil.
“Kalau saya melihat program MBG, ada pengaruhnya tapi sedikit. Saat ini namanya sedang menjelang Natal dan Tahun Baru, demand-nya naik hingga ada kenaikan,” jelasnya.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang diperbarui setiap bulan, kebutuhan konsumsi telur ayam ras nasional, termasuk untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Dari estimasi kebutuhan konsumsi telur ayam ras sebesar 6,487 juta ton per tahun, kebutuhan SPPG pada 2025 hanya sekitar 1,96 persen atau setara 127.300 ton. Sementara itu, produksi telur nasional diperkirakan mencapai 6,561 juta ton per tahun.
Bapanas juga memproyeksikan stok akhir tahun 2025 telur ayam ras akan meningkat signifikan menjadi 74.500 ton. Angka ini melonjak hingga 154,2 persen dibandingkan stok akhir 2024 yang tercatat sebesar 29.300 ton.
Meski pasokan aman, pemerintah tetap mencermati pergerakan harga telur ayam ras di pasaran. Harga telur di tingkat konsumen diharapkan berada sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp30.000 per kilogram.
BACA JUGA:
“Secara prinsip kami sudah sering rapat dengan teman-teman peternak. Mereka komitmen tetap di range harga di peternak Rp22.000, Rp23.000 sampai Rp25.000. Artinya, pedagang mestinya masih bisa menjual dengan angka Rp30.000,” kata Ketut.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Bapanas menunjukkan rerata harga telur ayam ras di tingkat konsumen mulai mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Per 24 Desember, rerata harga nasional berada di Rp31.595 per kg, turun dari Rp31.671 per kg sepekan sebelumnya.
Adapun provinsi dengan harga terendah tercatat di Bali sebesar Rp27.635 per kg atau sekitar 7,8 persen di bawah HAP.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan jajarannya tidak boleh lengah dalam menjaga stabilitas harga telur ayam ras, mengingat stok nasional yang sangat mencukupi.
“Tadi telur alhamdulillah baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Telur cukup. Saya katakan tidak boleh naik. Kalau naik, kita tindak. Ini karena stok kita cukup. Telur ayam lebih dari cukup. Jadi aman,” tegas Amran saat meninjau Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 23 Desember.