YOGYAKARTA - Jamu pegal linu merupakan salah satu minuman tradisional yang populer di Indonesia sebab diyakini memberikan manfaat untuk meredakan pegal otot, linu, dan rasa lelah setelah menjalani aktivitas berat.
Namun, meskipun banyak menggunakan bahan alami, jamu jenis ini tidak selalu bebas dari risiko efek samping, apalagi jika kualitasnya tidak terjamin. Dalam artikel ini akan dibahas efek samping jamu pegal linu.
Secara tradisional, jamu pegal linu diracik dari banyak jenis rempah seperti jahe, kunyit, lengkuas, cabe jawa, temulawak, dan bahan alami lainnya yang mengandung sifat antiinflamasi ringan dan penghangat tubuh. Produk-produk jamu komersial (botolan atau sachet) kerap kali mengklaim kandungan herbal alami tersebut.
Efek Samping Jamu Pegal Linu
Kandungan Bahan Kimia Obat (BKO)
Dikutip dari Jamuiboe, salah satu risiko yang paling besar adalah jamu pegal linu yang dicampur dengan Bahan Kimia Obat (BKO), sebagai contoh parasetamol, dan NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs) seperti diklofenak atau phenylbutazone. Penambahan ini sering dilakukan dan bertujuan agar efek pereda pegal cepat terasa.
Efek samping dari BKO tentunya bisa sangat fatal, khususnya jika dikonsumsi untuk jangka panjang atau dosisnya tidak dipahami dengan baik:
- Efek gastrointestinal, misalnya pendarahan lambung, iritasi lambung, tukak lambung jika mengandung NSAID.
- Kerusakan fungsi hati (contohnya kenaikan enzim ALT), misalnya pada penelitian terhadap tikus, yang menunjukkan bahwa jamu dengan BKO parasetamol bisa berdampak pada fungsi hati.
- Risiko terhadap ginjal karena konsumsi parasetamol secara berlebihan.
BACA JUGA:
Alergi atau Reaksi Hipersensitifitas terhadap Bahan Alami
Meskipun bahan herbal dianggap aman oleh kebanyakan orang, tetap ada kemungkinan seseorang mengalami alergi terhadap satu atau beberapa rempah (contohnya jahe, kencur, cabe) yang menimbulkan gejala seperti ruam, gatal-gatal, bahkan gangguan pencernaan.
Interaksi dengan Obat Lain
Jika Anda sedang mengonsumsi obat tertentu (contohnya obat antiinflamasi, obat untuk penyakit hati atau ginjal), jamu yang mengandung bahan dengan efek serupa dapat memperburuk kondisi atau mengakibatkan interaksi obat. Contohnya, penggunaan jamu dengan BKO dan obat NSAID secara bersamaan dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal dan hati.
Efek Dosis Tidak Terukur atau Penggunaan Melebihi Batas
Karena jamu tradisional banyak dijual bebas, kadang-kadang dosis tidak dicantumkan dengan jelas atau tidak terukur. Penggunaan berlebih dapat meningkatkan risiko efek samping, khususnya jika jamu tersebut mememiliki kandungan zat aktif kimia yang tersembunyi. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Samarinda menyimpulkan bahwa banyak sampel jamu pegal linu mengandung parasetamol dalam dosis yang tidak standar.
Risiko Produk Tidak Bermutu atau Palsu
Produk jamu yang tidak memenuhi standar kualitas (sebagai contoh tidak ada izin edar resmi, tidak terdapat nomor produksi, atau ternyata tercemar) dapat membawa risiko kesehatan tambahan. Misalnya, sebuah survei di Cimahi yang menemukan salah satu merk jamu pegal linu mengandung metampiron, dan bukan bagian dari kandungan natural jamu.
Ciri-ciri Jamu Pegal Linu yang Berisiko
- Selalu memberikan klaim "cepat sekali hilang pegal" atau efek instan tanpa waktu yang wajar. Sebab semua bahan herbal alami tidak akan memberikan reaksi cepat.
- Rasa atau bau yang sangat kuat atau berbeda dari jamu herbal biasa. Jika terasa sangat menyengat, bisa jadi memiliki kandungan zat tambahan/kimiawi.
- Tidak mencantumkan nomor izin BPOM, tanggal produksi, dan tanggal kedaluwarsa.
- Harganya jauh lebih murah dibanding produk sejenis, bisa menjadi indikasi pemotongan bahan atau penggunaan bahan murah berisiko.
- Label atau pengemasan yang tidak jelas, kemasan murah tanpa segel keamanan.
Demikianlah ulasan mengenai efek samping jamu pegal linu yang dapat diketahui. Semoga informasi ini bermanfaat! Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.