Bagikan:

JAKARTA - Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Hingga kini telah dikenal lebih dari 80 jenis penyakit autoimun, di antaranya lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, hingga scleroderma.

Data menunjukkan, prevalensi lupus diperkirakan mencapai 0,5% hingga 1,7% populasi, setara dengan lebih dari 1,3 juta orang. Sebagian besar penderitanya adalah perempuan usia 15–45 tahun. Secara umum, penyakit autoimun menyerang sekitar 5–10% populasi Indonesia, atau setara dengan 12,5–25 juta orang.

Sayangnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah. Banyak penderita yang tidak menyadari gejala awal karena mirip dengan penyakit lain sehingga diagnosis kerap terlambat. Setelah pandemi COVID-19, sejumlah penelitian juga mengungkap adanya peningkatan kasus autoimun di Indonesia.

Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, digelar seminar kesehatan di Livehouse Pekanbaru pada Minggu, 21 September 2025. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai kalangan yang antusias ingin mengetahui lebih jauh mengenai penyakit autoimun.

Seminar menghadirkan dr. Shofiana Nur Islami, dokter dari Eka Hospital Pekanbaru yang memberikan edukasi tentang gejala, faktor risiko, serta langkah penanganan. Diskusi berlangsung interaktif karena peserta diberi kesempatan untuk bertanya secara langsung.

"Autoimun sering kali terlambat terdiagnosis karena gejalanya mirip penyakit lain. Semakin cepat dikenali, semakin baik pula hasil pengobatannya. Seminar ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan," jelas dr. Shofiana, dari keterangan resmi Holywings Group.

Andrew Susanto, Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen untuk mendukung kesehatan masyarakat.

"Kami harap seminar ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara kesehatan sejak dini, sehingga pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan tepat," ujarnya.

Salah seorang peserta, Rina (34), mengaku mendapatkan banyak manfaat dari materi yang disampaikan.

"Saya sering merasa lelah tanpa sebab dan tidak tahu kalau itu bisa terkait autoimun. Setelah ikut seminar ini saya jadi lebih paham dan termotivasi untuk cek kesehatan," tuturnya.

Khusus bagi 50 peserta lansia, panitia bersama tenaga medis dari Eka Hospital Pekanbaru membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah, kolesterol, gula darah, hingga asam urat. Peserta juga mendapat vitamin dan obat sesuai hasil diagnosa.

Selain edukasi medis, acara juga dikemas meriah dengan kegiatan bertema Pesta Rakyat. Berbagai permainan seperti lempar bola ke dalam ember dengan hadiah sembako maupun perangkat elektronik, serta estafet bola pingpong dengan hadiah voucher, membuat suasana semakin hangat.

Lebih dari sekadar seminar, acara ini menjadi ruang silaturahmi antara masyarakat, tenaga medis, dan penyelenggara. Diharapkan, kegiatan semacam ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli pada kesehatan diri dan keluarga melalui pemeriksaan medis rutin serta penerapan gaya hidup sehat.