Bagikan:

JAKARTA - Langkah preventif menjadi krusial untuk mengetahui ancaman asam urat yang kerap mengintai tanpa gejala, mengingat tingginya prevalensi penyakit sendi di Indonesia yang sering kali baru terdeteksi saat kondisi fisik sudah mengalami nyeri hebat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), gangguan sendi akibat asam urat merupakan salah satu keluhan medis yang dominan pada kelompok usia produktif hingga lansia, terutama dipicu oleh pola makan tinggi purin dan minimnya aktivitas fisik.

Oleh karena itu, edukasi mengenai risiko kesehatan digelar melalui seminar kesehatan dan layanan pemeriksaan kesehatan oleh Holywings Peduli di Helen’s Play Mart Malang hari ini, Minggu, 25 Januari.

Dalam kesempatan ini, praktisi medis menekankan bahwa asam urat bukan sekadar penyakit nyeri sendi biasa, melainkan indikator gaya hidup yang harus segera dibenahi.

dr. Dedy Pranoto yang hadir sebagai pemateri menjelaskan, masyarakat sering kali abai karena gejala awal asam urat muncul secara bertahap dan tidak selalu ekstrem.

“Asam urat sering kali baru disadari ketika sudah menimbulkan nyeri hebat pada sendi. Padahal, melalui pemeriksaan sederhana dan perubahan gaya hidup, kondisi ini dapat dikendalikan sejak dini,” kata Dedy.

“Edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan sendi mereka,” tambahnya.

Menurut Dedy, pemeriksaan kesehatan rutin atau medical check-up sederhana adalah kunci untuk mengendalikan kondisi ini. Melalui pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga kadar asam urat, masyarakat bisa memetakan risiko penyakit sebelum kondisinya memburuk.

Perubahan gaya hidup, seperti mengatur asupan makanan dan meningkatkan intensitas gerak tubuh, menjadi solusi utama yang harus dilakukan sejak dini. Hal ini senada dengan upaya peningkatan literasi kesehatan agar warga tidak lagi menganggap remeh rasa nyeri pada persendian.

Andrew Susanto, Komisaris Utama Holywings Group dan Ketua Program CSR Holywings Peduli selaku inisiator kegiatan ini menyampaikan, pemberian layanan kesehatan cuma-cuma ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Melalui seminar dan cek kesehatan massal ini, kami berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, khususnya terkait asam urat yang sering dianggap sepele,” ujar Andrew.

Antusiasme warga terlihat sejak pagi hari, di mana peserta dari berbagai kalangan usia mengantre untuk mendapatkan layanan cek kesehatan lengkap. Selain pemeriksaan medis, kegiatan ini juga diselingi dengan berbagai aktivitas fisik seperti permainan interaktif untuk mengampanyekan pentingnya bergerak aktif.

Salah satu warga, Rudi (45), mengakui bahwa selama ini ia sering merasa ragu untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan meski sering merasakan keluhan pada sendi. Setelah mengikuti edukasi dan pemeriksaan langsung, ia baru menyadari pentingnya menjaga pola makan dan memantau kadar asam urat secara berkala.

Dengan adanya akses pemeriksaan yang mudah dijangkau, masyarakat diharapkan tidak lagi menunda pengecekan kondisi tubuh demi menjaga produktivitas di masa depan.

Upaya kolaboratif antara edukasi medis dan fasilitas cek kesehatan massal ini pun diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih sadar akan investasi kesehatan jangka panjang.