Eksklusif, Ketum Hippindo Budihardjo Iduansjah, Sektor Makanan Tumbuh, Fashion Terseok-seok
Menurut Ketum Hippindo Budihardjo Iduansjah di lingkup ritel sektor makanan dan minuman bertumbuh, sedangkan fashion masih terseok-seok. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Kabar gembira soal pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2022 sebesar 5,44 persen disambut optimis berbagai pihak. Termasuk Ketua Umum Hippindo (Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia) Budihardjo Iduansjah. Namun menurutnya tidak semua sektor di lingkup ritel bertumbuh. Sektor makanan dan minuman memang meningkat sedangkan sektor fashion masih terseok-seok.

***

Pandemi COVID-19 membuat semua pihak terdampak. Aturan soal social distancing, di rumah saja dan pembatasan lainnya membuat pusat perbelanjaan sepi. Keadaan kini, kata Budihardjo Iduansjah sudah melandai, perlahan-lahan pembatasan mulai dikendorkan. Ini antara lain karena cakupan vaksinasi yang merata dan prokes tetap dilaksanakan. 

“Saya lihat  orang sudah tidak terlalu takut untuk menyambangi pusat perbelanjaan. Sekarang kami bikin acara di Sarinah, dan ramai sekali yang datang. Rasa takut tertular COVID-19 sudah berkurang. Yang penting orang sudah vaksin 3 kali (salah satunya booster)  dan di mal atau pusat perbelanjaan juga menerapkan prokes. Vaksinasi yang masif dilakukan pemerintah selama ini amat banyak manfaatnya,” katanya.

Lebaran menjadi momentum yang amat bagus, karena grafik kunjungan dan omzet pengusaha ritel terus menanjak, khususnya mereka yang bergelut dalam bidang makanan dan minuman atau restoran dan café. “Ini adalah perkembangan yang bagus, harus kita respon dengan positif. Kami dari sektor ritel mencatat pasca lebaran pertumbuhannya bagus sekali. Sektor yang meningkat drastis itu F&B (food and baverage), restoran, rumah makan, café, dll. Yang belum pulih itu sektor fashion. Memang kondisi ini belum pulih seperti tahun 2019 yang lalu,” katanya.

Penyebabnya karena fashion belum menjadi prioritas, berbeda dengan makan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari. Apalagi setelah anak-anak masuk sekolah prioritas utama beralih ke soal pendidikan. Agustus sejatinya adalah masa untuk cooling down dan digunakan untuk menabung. Di momen inilah Hippindo menggelar program Hari Belanja Diskon Indonesia atau Indonesia Great Sale untuk menyambut HUT RI ke-77.

Ia berharap melalui momen ini sektor fashion yang masih terseok-seok bisa membaik dan mengejar sektor makanan dan minuman yang mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Namun karena even ini digelar oleh organisasi, Budi berharap pemerintah bisa menggelar even sejenis yang lebih besar dan melibatkan banyak pihak. 

Hippindo yang didirikan pada tanggal 8 Juni 2016 adalah bentuk kepedulian untuk memajukan usaha semua pihak terkait dalam dunia ritel yang semakin dinamis, khususnya para pelaku usaha baik skala mikro maupun skala besar yang memiliki gerai atau menyewa di pusat belanja. Kini ada lebih dari 320 perusahaan, 800 merek dan 80.000  gerai yang bergabung dalam Hippindo dan tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan potensi ini menurut Budihardjo Iduansjah mereka siap mendukung pemerintah menjalankan program-program pro rakyat. Seperti yang belum lama ini digagas dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, tentang penyaluran minyak makan merah yang harganya lebih murah dari minyak goreng (yang berwarna kuning) biasa. “Kami dari dulu sebenarnya sudah beli dari pabrik minyak goreng besar. Kalau ada barang dengan harga murah dan kualitas bagus  mengapa tidak. Anggota kami yang terdiri dari supermarker, minimarket, hypermarket, resto, cafe dan lain-lain juga berminat,” katanya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai dari VOI yang menemuinya di Pusat Perbelanjaan Sarinah, di bilangan jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat, belum lama berselang. Inilah petikan selengkapnya.

Ketum Hippindo Budihardjo  Iduansjah merespon positif pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,44 persen. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Ketum Hippindo Budihardjo Iduansjah merespon positif pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,44 persen. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Sebagai pengusaha ritel bagaimana Anda merespon rilis dari BPS soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2022 ini sebesar 5,44 persen, sedangkan tingkat inflasi di angka 4,94 persen?

Ini adalah perkembangan yang bagus, harus kita respon dengan positif. Kami dari sektor ritel mencatat pasca lebaran pertumbuhannya bagus sekali. Sektor yang meningkat drastis itu F&B (food and baverage), restoran, rumah makan, café, dll. Yang belum pulih itu sektor fashion. Memang kondisi ini belum pulih seperti tahun 2019 yang lalu. Ini mungkin karena orang masih ada beban psikis  karena COVID-19. Setelah situasinya agak melandai kini ada varian baru omicron.

Jadi untuk sektor konsumsi sudah memiliki efek yang amat baik. Indeks kepercayaan konsumen itu cukup tinggi. Mereka berani beli barang. Kalau orang sudah berani beli barang, akan terjadi perputaran ekonomi.

Perkiraan saya mereka tidak hanya single income tetapi lebih dari satu. Jadi seseorang karena work from home (WFH) bisa bekerja pada beberapa perusahaan. Ini yang kami lihat. Jadi ada orang yang hanya mau menerima pekerjaan secara WFH, nah saat itu dia bisa mengirim hasil kerjaan pada beberapa tempat bekerja.

Saat ini keadaan sudah melandai, apakah masih banyak yang membatasi diri untuk datang ke pusat perbelanjaan, bagaimana keadaan ini berpengaruh pada anggota Hippindo?

Saya lihat  orang sudah tidak terlalu takut untuk menyambangi pusat perbelanjaan. Sekarang kami membikin acara di Sarinah, dan ramai sekali yang datang. Rasa takut tertular COVID-19 sudah berkurang. Yang penting orang sudah vaksin 3 kali (salah satunya booster)  dan di mal atau pusat perbelanjaan juga menerapkan prokes. Vaksinasi yang masif dilakukan pemerintah selama ini amat banyak manfaatnya. Ini mengamankan masyarakat juga, saat ada yang batuk dan pilek itu dua hari biasanya sembuh. Semoga pandemi yang terjadi berangsur-angsur menuju endemi. 

Peneliti dari KSP menyebut sektor yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal II ini adalah industri pengolahan yaitu  tekstil dan pakaian jadi, serta makanan-minuman. Bagaimana anda mengamati hal ini, seperti apa kondisinya jika dihubungkan dengan para peritel?

Untuk sektor tekstil  sendiri pemerintah termasuk cepat dengan program safeguard-nya. Pak Menteri Perdagangan sudah melakukan aksinya dengan melarang produk tekstil bekas (baju bekas) masuk. Yang sudah masuk akhirnya dibakar. Ini ada dampak positifnya. Mereka itu tidak bayar pajak dan tak membuat manfaat untuk bangsa ini. Sementara anggota kami dari Hippindo ini taat bayar pajak impor, dan pajak lainnya. Harapan kami yang patuh bayar pajak ini diamankan dan jangan sampai yang tak bayar pajak bisa lolos. Jadi harus ada penindakan tegas bagi yang melanggar. Itu komitmen yang dikemukakan Pak Menteri Pendagangan.

Sektor makanan mendapat berkah meski ada pandemi, karena penjualan melalui platform Gofood, Grabfood, dan apliaksi sejenis lainnya yang menjamur, meningkatkan omzet para pedagang dan produsen makanan. Dengan kemudahan memesan makanan ini banyak muncul cloud kitchen di berbagai daerah. Setelah hampir dua tahun dilarang berkumpul dan nongkrong, eforia untuk nongkrong sembari makan dan minum di mal dan tempat-tempat lainnya timbul kembali. Tepat seperti M-Block, PIK kalau di Jakarta itu selalu ramai.

Hippindo kata Budihardjo Iduansjah menggelar Indonesia Great Sale dalam rangka HUT RI ke-77,setelah ini diharapkan ada even lanjutan sejenis yang lebih besar. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Hippindo kata Budihardjo Iduansjah menggelar Indonesia Great Sale dalam rangka HUT RI ke-77,setelah ini diharapkan ada even lanjutan sejenis yang lebih besar. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Hippindo menggelar acara diskon ritel tahunan, katanya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Estimasi Anda berapa besar pengaruh even seperti ini pada pertumbuhan ekonomi kita?

Kami punya acara bernama Hari Belanja Diskon Indonesia atau Indonesia Great Sale untuk momen HUT RI. Ini sudah tahun keenam kami laksanakan. Untuk even tahun 2019 di bulan Agustus data dari Bank Indonesia saat ada gelaran ini naik 3 persen. Artinya terjadi peningkatan di sektor konsumsi. Biasanya bulan Agustus itu sepi, soalnya setelah back to school di bulan Juli, orang biasanya saving money. Di saat itu kami gelontorkan program Great Sale ini, dengan diskon yang amat bagus. Tahun 2019 itu penjualan di sektor fashion naik 80 persen. Sedangkan resto hanya naik 10 persen saja. Diskon yang ada itu efektif untuk produk seperti sepatu, baju dan aksesoris lainnya.

Untuk program Hari Belanja Diskon Indonesia ini volume terbesar di kota mana?

Sampai saat ini data penjualan terbesar itu masih dikuasai kota-kota yang ada di Pulau Jawa. Omzet anggota kami 60 persen lebih ada di Jawa plus Bali. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTT, NTB, Maluku dan Papua sisanya. Cuma untuk lebaran biasanya yang ramai itu mal-mal di daerah seperti Semarang, Jogja, Pekalongan, Malang, dan kota-kota lainnya. Soalnya orang mudik, di daerah asalnya butuh belanja juga kan.

Apakah Hippindo punya kemitraan dengan UMKM?

Ada, itu adalah salah satu program kerja kami. Belum lama ini kami ada MoU dengan koperasi kelapa sawit yang disaksikan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Pak Teten Masduki dan Menteri BUMN Pak Erick Thohir. Sebelumnya ada juga program dengan Jakpreneur, binaan dari Pemda DKI Jakarta. Lalu kerjasama dengan Sibakul (Yogyakarta) dan daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Kami membantu UMKM melakukan digitaliasi. Kami juga membantu UMKM untuk masuk dan memasarkan produk mereka ke supermarket, hotel dan restoran anggota Hippindo.

Menurut Anda bagaimana mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sudah bagus di kuartal II agar bisa bertahan atau lebih baik di kuartal III dan IV 2022?

Sekarang ini memang momentum petumbuhan ekonomi kita sedang bagus. Kuartal II angkanya 5,44 persen. Setelah lebaran trend-nya naik terus. Orang sudah tidak terlalu takut dengan COVID-19. Mulai naik itu di posisi akhir kuartal II. Sekarang Agustus dan seterusnya diharapkan akan terdorong efek bagus itu. Kita harapkan ada sesuatu yang lebih besar lagi dari Hari Belanja Diskon Indonesia yang dibikin asosiasi seperti Hippindo. Di sinilah peran pemerintah ditunggu untuk mengadakan even yang jauh lebih besar. Semua lapisan dikerahkan, mulai dari mal, hotel, produsen dan marketplace untuk bergabung dalam even besar yang menawarkan diskon menarik bagi masyarakat. Ini saya yakin akan menarik minat orang.

Yang bisa menghidupi kita itu sektor konsumsi. Jangan pusing menghadapi keadaan meski sulit. Yang penting produk yang diproduksi di dalam negeri dan dipasarkan di dalam negeri. Jadi sirkulasi uangnya ke situ-situ juga dan itu bisa menghidupkan ekonomi kita. Ingat jumlah penduduk kita ini besar 270 juta lebih, ini adalah market yang amat besar dan harus dioptimalkan.

Kemajuan teknologi mempercepat perubahan, termasuk dalam memasarkan produk bisa melalui online, bagaimana pengaruhnya pada anggota Hippindo?

Kami belajar dari keadaan, termasuk melalui acara Indonesia Retail Summit 2022 yang sedang berlangsung di Sarinah. Ini adalah gabungan dari beragam acara seperti expo (pameran) conference, dan awarding. Semua pihak bisa memanfaatkan momen ini untuk networking. Antara pemerintah dengan pemerintah dan pemerintah dengan pihak swasta. Soal aplikasi digital juga dibahas di acara ini. Ada satu aplikasi digital yang baru diperkenalkan. Bagaimana konsumen bisa memesan makanan langsung dari dapurnya, tanpa melalui perantara seperti selama ini. Saya juga masih harus belajar teknologi baru yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti pemasaran dan perdagangan. Jadi ada solusi untuk beragam persoalan yang muncul.

Di balik pandemi yang melanda ini ada blessing ternyata, anggota kami yang menjual laptop penjualannya meningkat tajam, karena orang butuh untuk digitalisasi. Hal yang sama terjadi pada penjualan telepon genggam, di masa pandemi ini juga meningkat tajam.

Minimarket juga meningkat, supermarket masih bertahan, yang kelimpungan itu hypermarket. Sewanya mahal, tokonya besar, yang datang sedikit. Mal juga ke depan berubah menjadi lebih kecil dan ramping. Contoh saja Sarinah ini, kecil kan, tapi ramainya minta ampun, setelah mereka berubah dan menyuguhkan konsep baru yang lebih fresh.

Selama pandemi ini pelajaran yang bisa dipetik?

Jadi selama pandemi kurang lebih dua tahun ini pengusaha retail banyak belajar. Kita harus mengurangi karyawan untuk save cost, lalu teknologi ditingkatkan. Ada beberapa yang pertumbuhannya bagus di masa pandemi seperti; Kopi Kenangan, JCO Donut, dan masih banyak lagi yang bertumbuh. Kopi Kenangan malah akan buka cabang di Malaysia. Ini perkembangan yang menggembirakan sekali.

Itu yang berhasil dan tubuh pesat di masa pandemi, ada tidak yang terdampak besar karena pandemi?

Yang terdampak itu sektor fashion dan departemen store. Karena pendemi orang jadi berkurang belanja baju, sepatu dan produk fashion lainnya. Berbeda dengan sektor makanan yang relatif aman.

Bagaimana kerjasama Hippindo dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dalam menyalurkan minyak makan merah kepada masyarakat?

Soal minyak makan merah ini adalah program pemerintah. Ini produksi pabrik tapi bukan skala besar. Kami dari dulu sebenarnya sudah beli dari pabrik minyak goreng besar. Kalau ada barang dengan harga murah dan kualitas bagus  mengapa tidak. Anggota kami yang terdiri dari supermarker, minimarket, hypermarket, resto, cafe dan lain-lain juga berminat. Dan ini biasanya ada vendornya. Kami Hippindo sudah kasih masukan kepada produsen minyak makan merah untuk mengemas produknya dengan standar ritel moderen. Kemasan bagus, ada QRcode, Barcode, dan lain-lain. Ini masih dalam proses, semoga dalam waktu dekat sekitar bulan Oktober ini bisa selesai.

Tapi ini harus benar-benar disosialisasikan dengan baik agar konsumen tidak kaget. Selama ini minyak goreng itu warnanya kuning, sekarang warnanya merah. Yang penting barangnya bagus dan aman ada sertifikat dari BPOM. Kalau sudah begitu kita akan menjualnya melalui anggota kami di seluruh Indonesia.

Soal minyak makan merah ini kabarnya lebih murah, karena ongkos produksinya tidak sebesar minyak goreng warna kuning, berapa kira-kira harga perliternya?

Untuk harga terus terang saya belum tahu, nanti akan dihitung oleh pabriknya dan sampai di konsumen itu di harga berapa. Semoga bisa lebih murah dan ini bisa membantu masyarakat. Kami dari Hippindo memang siap mendukung program ini. Kalau jumlah produksinya sekitar 10 ton, itu bisa diserap oleh anggota kami.

Apa saran Anda pada publik untuk mendukung pemulihan ekonomi pasca Pandemi COVID-19?

Kuncinya kita semua harus memproduksi barang lokal dan barang ini juga diserap oleh konsumen lokal. Semua negara sekarang dalam kondisi sulit. Kita harus dukung kebijakan pemerintah yang menggalakkan produksi lokal. Tugas kita yang membeli barang lokal ini 270 juta itu bukan jumlah kecil. Kalau semua peduli dan mau beli barang lokal saya yakin  kita semua akan selamat. Impor makanan bukan tidak boleh, semaksimal mungkin dikurangi untuk menghemat devisi negara. Kalau bisa ditanam dan diproduksi di dalam negeri itu yang harus dilakukan.  Tapi kebijakan larangan impor dan ekspor ini harus selektif dan tepat guna. 

Menurut Anda seberapa cepat ekonomi kita akan pulih, sebentar lagi akan ada pemilu 2024?

Pemilu itu seperti pedang bermata dua. Uang yang dianggarkan untuk pemilu kembalinya ke ritel juga. Ada pembuatan kaos, spanduk, aksesoris dan lain sebagainya. Dengan kondisi ini ekonomi kita berputar karena banyak uang yang beredar. Yang ditakuti itu adalah dampak sosial politik dan rusuh dengan adanya kampanye dan kegiatan politik lainnya. Kalau ada demo atau kerusuhan mal tak berani buka, akhirnya merugi. Yang harus dikendalikan oleh pemerintah itu soal keamanannya.

Masyarakat dan politisi juga harus dewasa dalam berpolitik. Dalam sebuah kontestasi itu ada kalah dan menang. Kalau kalau yang harus menerima, setelah itu selesai. Persiapkan diri lagi untuk pemilu berikutnya. Kalau ribut dan bikin rusuh karena kalah akan memengaruhi perekonomian.

Jadi Anda optimis untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV 2022 ini ya?

Yang penting aman dan stabil saja. Dengan kekuatan pasar yang besar kita optimis. Kita bisa menjadi negara yang kuat untuk kawasan Asia Tenggara. Negara seperti Malaysia, Singapura, dan lain-lain bisa bergantung pada Indonesia. Soal kemanan harus dijamin oleh pemerintah dan namun kita semua juga harus men-support agar situasi aman. Dalam bersosial media juga harus bijak, jangan gampang terbakar dan menyebarkan konten hoaks.

 

Sehat Ala Budihardjo Iduansjah, Ini Kuncinya

Budihardjo Iduansjah punya kiat sendiri untuk menjaga kesehatan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Budihardjo Iduansjah punya kiat sendiri untuk menjaga kesehatan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Kesehatan adalah harta yang paling berharga, karena itu harus dijaga dan dipertahankan. Meski sibuk, Ketum Hippindo Budihardjo Iduansjah punya kiat sendiri untuk menjaga kesehatannya agar tetap prima. Olahraga, mengatur pola makan dan istirahat yang cukup. Bagaimana dia melakukannya?  

“Terus terang saya memang kurang sekali waktu untuk berolahraga, pulang kerja sudah malam. Karena itu saya optimalkan waktu akhir pekan untuk berolahraga. Berenang menjadi pilihan saya untuk menggerakkan badan dalam menjaga kesehatan,” kata Budi.

Dalam satu sesi berenang, ia menghabiskan waktu satu jam berenang di kolam ukuran olimpiade (panjang 50 meter). “Tapi engga full berenang selama satu jam, ada istirahat dan diselingi menyantap makan kecil dan minuman,” lanjutnya.

Selain olaharaga pada umumnya, Budi  juga menjadikan menyetir kendaraan sebagai bentuk olahraga juga. Alasannya saat menyetir itu badan dan konsentrasi dikerahkan untuk membawa kendaraan agar sampai di tujuan dengan selamat. “Kalau saya merasa tidak perlu supir, saya menyetir sendiri. Soalnya menyetir itu melatih badan kita untuk bergerak,” katanya.

Ia juga mengosumsi sumplemen tradisional buah merah asal Papua. “Saya dikasih teman kalau ramuan dari buah merah Papua itu katanya bagus untuk kesehatan dan vitalitas. Itu saya minum setiap pagi satu sendok makan,” lanjutnya.

 

Pola Makan

Budihardjo Iduansjah mengurangi asupan karbohodrat, daging merah dan makanan dan minuman mengandung gula. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Budihardjo Iduansjah mengurangi asupan karbohodrat, daging merah dan makanan dan minuman mengandung gula. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Selain olahraga yang tak kalah pentingnya adalah mengatur pola makan. Tak semua makanan harus dimakan dan tak semua minuman harus diminum. “Saya sudah mulai mengurangi asupan karbohidrat dan makanan atau minuman yang kadar gulanya tinggi. Berat memang, tapi harus dilakukan untuk menjaga kesehatan,” katanya.

Karena karbohidrat dikurangi, Budihardjo Iduansjah meningkatkan jumlah asupan protein, buah dan sayur-sayuran dalam porsi makanannya. “Untuk buah saya tidak pilih-pilih, yang tersedia dan gampang dicari saja,” lanjutnya.

Konsumsi daging merah yang mengandung lemak tinggi juga sudah dia kurang dalam beberapa tahun terakhir. Asupan protein didapat dari daging putih seperti daging ayam atau ikan,” kata Budi yang lebih suka makanan Asia daripada makanan Barat.

Namun ada kalanya dia tak bisa berkutik saat bertemu dengan relasi yang mengajak makan malam usai melakukan serangkaian pertemuan yang intens.  “Kalau sudah begitu yang mau gimana lagi, ikut makan tapi tetap kontrol. Soalnya saya harus menjaga bobot tubuh di angka yang wajar. Sekarang timbangan saya berkisar 70kg sampai 72kg. Target saya itu di angka 68kg atau 69kg,” ungkapnya.

Yang tak kalah pentingnya selain menjaga asupan makanan dan olahraga adalah istirahat yang cukup. “Ini penting, kalau istirahatnya kurang akan berpengaruh pada performa keesokan harinya. Saya usahakan tidur yang cukup, tidak begadang kecuali ada yang urgent,” ujarnya.

 

Traveling

Budihardjo Iduansjah kerap mengajak keluarga saat melakukan perjalanan bisnis. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Budihardjo Iduansjah kerap mengajak keluarga saat melakukan perjalanan bisnis. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Karena keterbatasan waktu, dalam urusan travelling diupayakan bersama dengan keluarga. Ini juga trik untuk membayar kurangnya waktu bersama dengan keluarga. “Saat ada perjalanan bisnis, saya sekalian ajak keluarga. Selesai acara inti, kami lanjutkan dengan wisata di sekitar kota tujuan,” kata pria yang suka sekali dengan Bali sebagai tujuan wisata.

Seperti beberapa bulan lalu saat ada bisnis trip ke Semarang, dia putuskan untuk membawa keluarga dengan menyetir mobil sendiri. “Sekarang kan sudah relatif mudah akses ke Semarang setelah tersambung jalan tol dari Jakarta. Setelah saya selesai bisnis kami berburu kuliner di kota Semarang. Kalau sudah begitu seru deh,” lanjutnya sembari menyebutkan kota-kota dari Cirebon hingga Surabaya sudah disambanginya dengan menyetir sendiri.

Untuk macanegara, Budi lebih suka ke negara Asia seperti Jepang, Hong Kong, Thailand, Malaysia, Singapura, dll. “Sejak muda saya sudah diutus oleh keluarga untuk melakukan bisnis trip ke nagara-negara  Asia. Jadi sampai sekarang keterusan. Apalagi saya punya teman di negara-negara itu,” kata Budi yang lebih senang naik transportasi publik saat mengunjungi negara seperti Jepang, Hong Kong dan Malaysia.

Sebelum berangkat dia akan menghubungi temannya di negara tujuan. Ketika ia melakukan pertemuan bisnis. Anak dan istrinya jalan-jalan dengan istri relasi bisnisnya. Setelah usai pertemuan bisnis baru ia dan keluarga jalan-jalan bersama ke daerah tujuan wisata di sana. “Kadang kalau waktunya kurang kami tinggal extend satu atau dua hari,” ungkapnya. “Dengan pola seperti ini saya dapat banyak manfaat, bisnis jalan dan juga mempererat hubungan kekeluargaan,” tambahnya.

Ada lagi pelajaran yang bisa dipetik saat Budihardjo Iduansjah travelling ke luar negeri, soal bagaimana  negara yang dikunjunginya men-service turis dengan informasi wisata yang lengkap dan info diskon di pusat belanja yang benar. “Negara mereka itu benar-benar menyiapkan semuanya agar wisatawan itu betah. Ini yang masih belum maksimal di negara kita. Jadi wisatawan itu belanja dan spend money,” katanya sembari menyarankan semua pihak harus memberikan dukungan yang sama agar sektor wisata berkembang dan bisa meningkatkan perekonomian.

 

“Jadi untuk sektor konsumsi sudah memiliki efek yang amat baik. Indeks kepercayaan konsumen itu cukup tinggi. Mereka berani beli barang. Kalau orang sudah berani beli barang, akan terjadi perputaran ekonomi.”