Eksklusif, Hendry Ch Bangun: Media Pers Harus Dinamis dan Bisa Penuhi Tuntutan Zaman
Media pers dan mereka yang berkarya di dalamnya, kata Hendry Ch Bangun harus adaptif dan memenuhi tuntutan zaman. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Pesatnya perkembangan teknologi digital membuat media pers ikut terpengaruh. Menurut Hendry Ch Bangun, wartawan senior yang juga Wakil Ketua Dewan Pers periode 2019-2022, wartawan dan mereka yang berkarya di bidang pers harus menyesuaikan, dinamis dan bisa memenuhi tuntutan zaman. Itulah kiat yang bisa dilakukan agar tak ikut tergerus.

***

Setelah memperingati Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari lalu, insan pers Indonesia kembali bertemu dengan momentum berikutnya yang juga menjadi landasan penting bagi perkembangan pers. Yaitu Hari Kebebasan Pers Sedunia (HKPS) atau World Press Freedom Day, yang diperingati 3 Mei 2022.

Deklarasi Windhoek, Namibia yang dihelat pada 3 Mei 1991 menjadi tonggak sejarah HKPS. Majelis Umum PBB berdasarkan rekomendasi UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) kemudian mendeklarasikan HKPS pada Desember 1993. Inilah  penegasan penting komunitas internasional terhadap kebebasan pers di muka bumi.

Dalam lingkup Indonesia sejatinya persoalan kebebasan pers nyaris serupa tapi tak sama dengan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ada beberapa catatan penting yang layak menjadi perhatian pada peringatan HKPS tahun ini dari Hendry Ch Bangun. Semua ini perlu menjadi perhatian bagi semua insan pers dan juga mitra yang selama ini berinteraksi.

Menurut dia, yang paling digarisbawahi dalam memperingati HKPS adalah persoalan kompetensi wartawan agar bisa bersaing di dalam negeri dan juga di mancanegara. “Tantangan utama pers Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan kompetensi wartawan,” tegasnya.

Di era yang demikian, selain meningkatkan kompetensi, wartawan harus adaptif dan memahami apa maunya masyarakat agar tidak ditinggalkan. “Media itu tidak boleh statis, harus memenuhi tuntutan zaman, perkembangan teknologi maupun tuntutan dari publik yang semakin banyak maunya. Karena mereka juga memiliki pilihan yang banyak. Jadi kalau media tidak mampu menarik perhatian, publik akan meninggalkan kita,” tandasnya.

Media pers tempat wartawan bernaung harus bisa mengakomodir karya yang dihasilkan wartawannya. “Media harus mampu mengakomodir semua produk jurnalistik dari wartawan, baik tulisan, audio maupun audio visual. Dari sisi wartawan harus memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan jurnalistik di semua platform yang menjadi permintaan publik,  melalui media di mana dia berkarya,” jelasnya kepada Edy Suherli, Savic Rabos, dan Rivai yang menyambanginya belum lama ini di Kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Inilah petikan selengkapnya.

Tantangan pers global kata Hendry Ch Bangun sedikit berbeda dengan pers di Indonesia, tapi tetap ada relevansinya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Tantangan pers global kata Hendry Ch Bangun sedikit berbeda dengan pers di Indonesia, tapi tetap ada relevansinya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Hari Kebebasan Pers Sedunia diperingati 3 Mei 2022, sebagai tokoh pers apa harapan Anda?

HKPS itu sebenarnya lebih bersifat global, tantangannya sedikit berbeda dengan di Indonesia meskipun tetap ada relevansi seperti bagaimana pers kita dapat bertahan dari perkembangan teknologi digital dan ekonomi yang memburuk karena pandemi. Hal ini berpengaruh pada kesejahteraan wartawan. Tantangan Utama pers Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan kompetensi wartawan, karena menurut UU Pers, wartawan bisa disandang statusnya oleh siapa saja tanpa melalui pendidikan, pelatihan, dan rekrutmen yang baik. Akibatnya, terlalu banyak wartawan, terlalu banyak produk jurnalistik yang bermasalah, membuat kepercayaan masyarakat terhadap pers merosot, padahal kita tengah berperang dengan media sosial dan kecenderungan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi dengan gratis dan cepat.

Ini jauh lebih penting bagi Indonesia agar pers tetap hidup dan jurnalisme di Indonesia tetap bermutu dan bermanfaat pada masyarakat. Selain itu tentu saja tantangan lain, bagaimana media dapat bertahan dengan kualitas yang baik di tengah hancurnya pendapatan sehingga susah hidup dengan normal, apalagi biaya operasional terus meningkat.

Perkembangan teknologi informasi makin pesat, media cetak mulai ditinggalkan, seperti apa Anda melihat  kenyataan ini? Bagaimana seorang wartawan menyikapi situasi ini? Apa yang harus dilakukan?

Media harus mampu mengakomodir semua produk jurnalistik dari wartawan, baik tulisan, audio maupun audio visual. Dari sisi wartawan harus memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan jurnalistik di semua platform yang menjadi permintaan publik atau pelanggan dari media di mana dia berkarya. Kalau mau bertahan harus begitu. Media itu tak boleh statis harus memenuhi tuntutan zaman, perkembangan teknologi maupun tuntutan dari publik yang semakin banyak maunya. Karena mereka juga memiliki pilihan yang banyak. Jadi kalau kita tidak mampu menarik perhatian mereka, mereka akan meninggalkan kita.

Media cetak yang sebelumnya primadona pelan-pelan tergeser, media online yang berkembang pesat, apakah media cetak akan benar-benar punah menurut Anda?

Media cetak ini akan bertahan sebagai sebuah nostalgia. Orang membaca koran itu pertama karena memiliki kedalaman. Tetapi kedalaman itu juga bisa diproduksi oleh media siber, televisi atau media penyiaran lain. Kemudian yang kedua media cetak itu selalu dianggap lengkap dan perspektifnya banyak. Dan itu juga bisa dilakukan media lainnya.

Tentu saja nanti media cetak ini akan tetap hidup, tetapi apa secara kuantitas dia tidak akan bisa banyak bergerak. Katakanlah kalau dia market leader di Jakarta ya mungkin tiras-nya 10.000 itu pun tidak semuanya berbentuk fisik koran, ada juga dalam format PDF yang diunduh melalui telepon pintar, tablet, ebook, notebook, dll.

Media televisi juga mengalami hal serupa dengan media cetak, mulai ditinggalkan penontonnya yang beralih ke siaran atau konten berbasis internet, apa yang mesti dilakukan oleh insan pers yang berkarya di media televisi?

Saya kira  teman-teman wartawan televisi relatif lebih mudah, karena mereka itu cenderung dapat memproduksi sendiri. Tinggal nanti wadahnya atau mediumnya apa? Kalau medium televisi tentu saja kalau dia sebagai news atau feature,  memang televisi itu tidak lagi menarik. Karena sekarang orang mencari seperti itu di Youtube, Tiktok, Reels, dll. Artinya kalau seorang wartawan televisi tidak lagi mampu membuat konten yang sesuai dengan kehendak publik, dia akan kehilangan relevansi.

Televisi menurut saya juga akan menjadi industri yang senja. Dia hanya sebagai wadah besar. Ada berita, feature, musik, film dan segala macam. Tetapi sebagai sebuah wadah atau platform berita, dia kalah bersaing dengan medsos.  Ngapain orang susah-susah nunggu di televisi pada jam-jam tertentu, orang bisa nonton di mana saja, kapan saja kok. Sama dengan media cetak tadi,  ngapain kita menunggu besok kalau bisa dibaca sekarang. Inilah  tantangan bagi media penyiaran televisi.

Media sosial sudah merebut hati publik, namun kata Hendry Ch Bangun ada sisi lemah medos yang harus dioptimalkan oleh insan pers. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Media sosial sudah merebut hati publik, namun kata Hendry Ch Bangun ada sisi lemah medsos yang harus dioptimalkan oleh insan pers. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Berdasarkan data dari penelitian yang dilakukan Dewan Pers dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) 2021, media baru seperti WhatsApp, Youtube, Instagram menjadi pilihan teratas masyarakat, apakah ini ancaman untuk media pers?

Ya, itu ancaman bagi media pers. Jadi begini masyarakat yang disurvei itu mengatakan kalau mereka ingin mencari informasi pertama, mereka mencarinya di Youtube, Instagram, Facebook, atau WA group. Kalau untuk konfirmasi kebenaran sebuah informasi,  kalau di media massa itu media siber (yang kredibel) jadi rujukan. Setelah itu media televisi yang menjadi tempat konfirmasi.

Artinya masyarakat itu betul-betul sudah mengedepankan kecepatan. Soal tepat menjadi nomor dua. Ini tantangan bagi insan media.  Saya kira televisi sudah sering menyuguhkan Breaking News, tapi beda dengan medsos, 5 detik dari kejadian sudah keluar. Sementara media pers tidak bisa begitu, harus ada proses cek dan ricek dulu. Karena perlu kelengkapan sebelum nenurunkan berita, medsos tak peduli kelengkapan.

Kalau medsos semakin dominan, siapa yang melakukan pengawasan?

Jadi sebenarnya ini lebih pada masyarakat ya, Dewan Pers itu tidak memiliki tugas dan fungsi ke sana. Kalau ada pengaduan kami melakukan pemeriksaan. Tetapi memang pengawasan pertama di masyarakat dan ini sebetulnya sudah dilakukan. Media-media tertentu sudah bergabung dalam Cek Fakta (yang bersifat antihoaks). Mereka memberikan klarifikasi apakah sebuah berita hoaks atau bukan hoaks. Dulu ada Media Wacth, namun karena anggarannya tak ada jadinya mati suri. Ke depan tentu saja ini semua terpulang pada masyarakat. Kalau masyarakat memiliki kesadaran untuk mendapatkan informasi yang benar, mereka akan aktif.

Yang paling sering menjadi korban hoaks antara lain ibu rumah tangga dan masyarakat umum yang pendidikannya masih kurang (kurang literasi). Begitu dapat informasi langsung disebarkan, biar dikira unggul dalam mendapatkan informasi. Padahal idealnya cek dan ricek dulu informasi yang diterima itu, kalau sudah benar baru dibagikan.

Pada puncak peringatan HPN  lalu Presiden Jokowi meminta adanya penciptaan ekosistem industri pers yang seimbang.  Ekosistem industri pers harus ditata, iklim kompetisi yang lebih seimbang harus terus diciptakan. Siapa yang akan merealisasikan hal ini?

Yang dilakukan Dewan Pers dan Masyarakat Pers membuat draft Jurnalisme Berkualitas dan Berkelanjutan. Sekarang rancangannya sudah  diserahkan ke Kementerian. Nanti akan diputuskan apakah bentuknya Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden atau Undang-undang. Memang ada kebutuhan pragmatis jangka pendek, melalui peraturan itu nanti berita-berita yang diambil oleh platform global itu mampu meneteskan rezekinya ke media-media kita.

Untuk jangka panjangnya adalah menciptakan ekosistem. Hanya saja, ini  pandangan pribadi saya, pemerintah harus sungguh-sungguh turun. Soalnya dalam beberapa kesempatan Kementerian Kominfo itu sudah tak peduli dengan pers. Hasil reformasi mengatakan negara tidak perlu mengurusi pers. Dari sisi independensi bagus. Semua diserahkan ke Dewan Pers. Tapi kemampuan Dewan Pers itu terbatas, apalagi dalam masa pandemi ini. Dalam sidang dengan DPR RI saya sampaikan pers ini ibarat orang tenggelam airnya sudah di leher. Jadi pemerintah harus turun tangan bantu pers. Bentuknya apa?

Pertama memberikan iklan kepada pers. Selama ini yang dilakukan kementerian membangun medsos sendiri dengan menggandeng infuenser dan orang terkenal untuk meningkatkan awareness. Memang betul meningkat awareness-nya. Tetapi di saat yang sama membunuh pers. Kalau media massa itu mati, nanti wacana publik itu dikuasai oleh media sosial. Padahal media sosial ini tak ada yang mengontrol, tak ada editornya, tak ada kode etiknya, tak ada undang-undangnya kecuali ITE.

Kalau media massa yang menguasai informasi, saat keluar di media sudah melalui tahap-tahap editing, kurasi dan pertimbangan lain seperti tak akan mengeluarkan berita berbau SARA. Di medsos semua lolos. Peran pemerintah untuk membuat media pers tetap hidup justru untuk kepentingan publik.

Setelah memberikan iklan kepada media pers, lalu apa lagi?

Yang kedua adalah pendidikan dan pelatihan secara rutin. Sekarang sangat sedikit media yang mampu memberikan pendidikan dan pelatihan. Pemerintah harus memberikan pendidikan dan pelatihan untuk meng-upgrade insan pers agar kemampuannya meningkat. Begitu yang terjadi di zaman mendiang Rosihan Anwar dulu di era 1970-an.

Sekarang media asing juga merambah pelosok negeri, dan sebaliknya media kita juga merambah pelosok dunia. Apa yang bisa dilakukan oleh media lokal untuk bertahan dan tetap eksis?

Media lokal harus tangguh dan menguasai peristiwa yang terjadi di daerahnya, jangan kalah dengan media nasional. Kekuatan media lokal di sana. Jangan sampai kalah dengan media lain. Kearifan lokal, prestasi lokal harus dikuasai. Itu yang akan dikutip oleh media nasional bahkan mancanegara.

Di era sekarang media online di dalam negeri amat mendominasi. Tapi tidak berbanding lurus dengan perkembanghan bisnisnya (perolehan iklan). Padahal nasib media sangat tergantung pada iklan. Bagaimana Anda menghadapi kenyataan ini?

Buah dari reformasi membuat media tumbuh di mana-mana, jumlahnya besar. Setiap kabupaten ada yang 100 ada yang 150. Pemerintah tak bisa membatasi. Akhirnya dibiarkan tumbuhnya namun tak ideal, pendapatan kurang. Mestinya yang seperti ini solusinya merger beberapa media, daripada mati rame-rame. Tapi ego sektoral masih tinggi, biarlah miskin asal Pemred atau Dirut daripada hidup layak tapi anak buah. Ini ironi, mati ketawa ala pers Indonesia. Ujung-ujungnya ada yang minta uang ke narsum, ada juga yang memeras narsum.

Inilah penumpang gelap kemerdekaan pers Indonesia. Motif mereka mendidikan media pers semata-mata ekonomi, bukan idealisme untuk menyalurkan aspirasi publik dan mengontrol kebijakan pemerintah sesuai kode etik dan standar jurnalistik yang ada.

 

Masuk Akal, Ini Alasan Hendry Ch Bangun Senang Jalan Kaki 

Bagi Hendry Ch Bangun jalan kaki adalah olahraga yang paling pas. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Bagi Hendry Ch Bangun jalan kaki adalah olahraga yang paling pas. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Olahraga jalan kaki bisa dilakukan kapan pun dan di mana saja. Sesibuk apa pun, orang masih bisa melangkahkan kaki. Itulah alasan Hendry Ch Bangun memilih jalan kaki sebagai olahraga favoritnya. Jalan kaki itu, mudah, murah, efektif dan bisa dilakukan di mana saja.

“Saya itu hobi jalan kaki. Pulang salat subuh di masjid, saya jalan kaki ke rumah. Jarak antara rumah saya dan masjid di perumahan sekitar  600m. Lumayan bolak-balik di pagi hari. Setelah itu istirahat sebentar, lalu jalan kaki lagi selama 35 sampai 45 menit,” katanya soal kesibukan hariannya di pagi hari.

Kalau sesi pertama olahraganya hanya di dalam komplek perumahannya. Sesi kedua sudah dilakukan di luar komplek perumahannya yang berlokasi di bilangan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Hendry beruntung kawasan tempatnya bermukimnya kini masih asri. “Di sini masih banyak pohon-pohon di antara rumah penduduk. Udaranya juga masih segar. Untuk olahraga pagi kondusif sekali,” lanjut pria yang mengawali karir jurnalistik di Majalah Sportif Jakarta (1982). 

Soal durasi jalan kaki minimal 30 menit yang ia lakoni ternyata ada alasannya. Menurut Hendry olahraga jalan kaki baru berasa faedahnya jika dilakukan paling sedikit 30 menit. “Kalau dilakukan secara konstan selama 30 menit baru akan terasa manfaatnya. Sudah terjadi proses aerobik, otot sudah berakselerasi, otot yang tegang menjadi relaks. Jalan kaki rutin juga bisa berpengaruh pada gula darah juga. Bisa menjaga gula darah dalam keadaan normal,” ungkap Hendry melanjutkan karier sebagai wartawan di Harian Kompas Jakarta hingga pensiun tahun 2018.

Selain waktu olahraga yang sudah terjadwal pagi hari di sekitar rumah, saat ada kesempatan seperti di kantor, saat ke pusat perbelanjaan, berkunjung ke tempat tertentu, selama masih bisa berjalan kaki, ia akan berjalan.

“Kalau ada penerbangan ke luar kota, di bandara saya lebih memilih berjalan atau naik tangga meski ada ekskalator. Itu bisa jadi sarana untuk bergerak juga, artinya berolahraga. Orang yang usianya di atas 60 tahun katanya harus rajin menggerakkan otot kaki, tangan dan organ tubuh lainnya agar tidak kaku,” paparnya.

Sebenarnya Hendry pernah melakoni olahraga lain selain jalan kaki. Berenang dan bersepeda sempat dilakoninya. Namun pandemi COVID-19 yang berkepanjangan membuat dia sulit menemukan kolam renang umum yang buka. Pun saat situasi sudah melandai keadaannya tak jauh berbeda. Sedangkan soal bersepeda menurut Hendry kadang saat sepeda melaju, kakinya malah statis. Berbeda dengan jalan kaki yang selalu bergerak.

Satu lagi tips yang bisa ditiru dari Hendry Ch Bangun, enjoy dalam melakukan sesuatu, juga aktivitas olahraga. “Memang saya ada target dalam ber-jalan kaki. Namun enggak usah dipaksakan,” katanya sembari menambahkan kalau mau menambah porsi jalan kaki lakukan secara bertahap.

Sebagai wartawan yang bertugas di bidang olahraga, Hendry kerap berinteraksi dengan dokter olahraga.  Dari sana dia banyak mendapat informasi soal pilihan olahraga yang pas. “Ada jenis olahraga yang berisiko cidera tinggi seperti lari atau yang mengandalkan lompatan. Untuk mereka yang masih muda oke saja. Tapi yang sudah tua itu harus dihindari. Karena risiko cideranya tinggi. Karena itu saya menyimpulkan olahraga yang paling pas untuk saya ya jalan kaki,” katanya. “Jalan kaki itu murah, efektif, kapan saja dan di semua tempat bisa dilakukan,” tambahnya.

 

Makanan dan Minuman

Hendry Ch Bangun melakukan gaya hidup sehat setelah terserah asam urat saat liputan Asian Games di Thailand. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Hendry Ch Bangun melakukan gaya hidup sehat setelah terserang asam urat saat liputan Asian Games di Thailand. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Untuk makanan, Hendry Ch Bangun kini mengurangi asupan makanan yang berkadar gula tinggi. Nasi misalnya, ia ganti dengan kentang, singkong, atau talas. “Selain mengurangi porsi nasi sebagai makanan pokok, saya juga melakukan variasi. Nasi diganti dengan singkong, kentang atau talas yang dimasak dengan cara rebus atau kukus,” katanya.

Mulanya agak aneh mengonsumsi lauk-pauk dengan makanan pokok selain nasi. Namun lambat laun semuanya menjadi biasa. Semua itu kata Hendry adalah soal pola pikir pikiran dan kebiasaan saja.

Salah satu kebiasaan yang sudah lama dilakoninya dan berubah adalah soal minum teh manis setelah makan dan dalam berbagai kesempatan. “Pokoknya kalau engga teh manis belum afdol, padahal kita sudah makan nasi sepiring. Bayangkan berapa banyak gula yang masuk ke dalam tubuh. Saran dari salah seorang dokter agar saya meninggalkan konsumsi teh manis dan diganti dengan air putih,” ungkapnya.

Hendry yang menghindari makanan yang menjadi pemicu asam urat. “Soalnya saya ini pernah mengidap asam urat. Bahkan saat sedang liputan Asian Games di Thailand asam urat saya kambuh. Saya sampai tak bisa jalan. Akhirnya pulang ke Indonesia dengan kursi roda,” katanya.

Kejadian itu benar-benar berbekas dan membuat dia kapok. Terapi yang dilakukan adalah banyak mengonsumsi air putih dan mengurangi asupan makanan yang mengandung kolesterol, dengan hal itu ia bisa sembuh.  “Untuk yang masih awal asam urat bisa sembuh dengan minum air putih yang banyak. Tapi kalau sudah kambuh berkali-kali yang harus dengan obat dari dokter,” kata Hendry yang sekarang mengindari kacang, tahu, tempe dan makanan yang berasal dari jeroan sapi atau kambing.

Untuk mengatasi berbagai problem kesehatan yang ada Hendry lebih senang mengonsumsi ramuan herbal yang direbus daripada mengonsumsi obat yang sudah bercampur dengan zat kimia. “Saya lebih suka meminum rebusan daun tumbuhan yang banyak faedah. Seperti daun binahong, daun salam, sirih, daun mangga dan sebagainya. Rutin minum rebusan aneka daun itu efektif membuat kadar asam urat saya normal, tekanan darah tinggi bisa ke posisi normal,” lanjutnya.

Setelah rajin minum ramuan herbal itu, merasakan manfaatnya. Dalam satu kunjungan kerja ke daerah ia pernah tiga hari berturut-turun mengonsumsi seafood. Hendry sempat khawatir kolesterolnya akan meningkat, ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. “Alhamdulillah kolesterol saya wajar, saya juga enggak kena asam urat,” katanya.

 

Target Pribadi

Kebiasaan bekerja dengan deadline saat masih aktif sebagai pemburu berita, diteruskan Hendry Ch Bangun  dalam aktivitas berikutnya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kebiasaan bekerja dengan deadline saat masih aktif sebagai pemburu berita, diteruskan Hendry Ch Bangun dalam aktivitas berikutnya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Kebiasaan mengerjakan reportase yang dengan deadline ketat sudah mendarah-daging bagi Hendry Ch Bangun. Itu yang dialaminya di Koran Kompas, tempat ia berkarya hingga purnatugas.

“Kami sudah terbiasa membuat berita dari reportase yang dilakukan. Kebetulan saya bertugas sebagai wartawan olahraga. Pertandingan selesai jam 10.30 WIB, jam 11.00 WIB berita sudah harus selesai. Tidak ada tawar-menawar untuk deadline. Pokoknya tidak ada waktu untuk berleha-leha sebelum tugas selesai semua,” ungkapnya.

Kebiasaan bekerja dengan deadline itu terbiasa dilakukan meski sudah tidak lagi bertugas di lapangan sebagai pemburu berita. “Sekarang meski tidak lagi mencari berita, saya sudah terbiasa mengerjakan tugas apa saja dengan deadline. Saya harus memeatuhi deadline pribadi yang saya buat sendiri. Soalnya kalau itu dilanggar bisa berdampak pada pekerjaan lainnya. Seperti effect domino,” kata pria yang pernah menjadi sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 2008-2013 dan 2013-2018 ini.

Purnatugas dari media yang membesarkan namanya bukan berarti dia pensiun, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pers 2019-2022. Apa yang dilakukan di Dewan Pers memang tak jauh dari lingkup kerja sebelumnya. Masih berkutat pada persoalan pers dan insan pers yang melakoni aktivitasnya.

Hampir setiap hari ia menerima telepon dari berbagai pihak. Dari insan pers dan juga dari pihak luar yang bertinteraksi dengan insan pers. Karena tugas di Dewan Pers ini juga Hendry terkadang harus menyambangi berbagai daerah yang tersebar seantero Indonesia. Semua dilakoninya dengan penuh pengabdian.

“Saya memang sering keluar kota, tapi nggak pernah menikmati liburan. Kerja, kerja, kerja begitu kebiasaan yang saya lakukan. Mudah-mudahan nanti kalau sudah pensiun (dari Dewan Pers) bisa punya lebih banyak waktu. Tapi saya juga ragu ya karena kalau sudah pegang laptop terus nulis juga. Belum lagi sekarang ini banyak sekali WA atau telepon yang masuk,” ungkap Hendry Ch Bangun yang telepon genggamnya tak pernah berhenti selama 24 jam.

  

“Media harus mampu mengakomodir semua produk jurnalistik dari wartawan, baik tulisan, audio maupun audio visual. Dari sisi wartawan harus memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan jurnalistik di semua platform yang menjadi permintaan publik,  melalui media di mana dia berkarya.”

Hendry Ch Bangun