JAKARTA - Penyakit jantung tidak selalu diawali dengan nyeri dada hebat seperti yang sering digambarkan. Pada sebagian orang, terutama perempuan, tanda-tandanya bisa lebih samar, seperti mudah lelah, sesak napas saat aktivitas ringan, gangguan tidur, hingga rasa tidak nyaman di dada yang sulit dijelaskan.
Bahkan, keluhan berupa kecemasan yang muncul terus-menerus juga bisa menjadi sinyal awal gangguan pada jantung.
Dilansir dari Hindustan Times, ahli kardiologi intervensi di Saifee Hospital, Mustafa Taskeen, menjelaskan bahwa gejala penyakit jantung pada perempuan kerap berbeda dengan laki-laki dan tidak selalu khas. Beberapa di antaranya bahkan menyerupai gangguan psikologis.
Menurutnya, masalah jantung pada perempuan tidak selalu muncul sebagai nyeri dada yang tajam dan menusuk. Sebaliknya, keluhan dapat berupa kelelahan berkepanjangan, sesak napas, rasa tidak nyaman ringan di dada, mual, pusing, atau perasaan gelisah yang tidak jelas penyebabnya.
“Kelelahan terus-menerus, penurunan toleransi olahraga, gangguan tidur, sesak napas, atau rasa tidak nyaman yang samar bisa muncul berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum terjadi kejadian jantung,” jelasnya.
BACA JUGA:
Dr. Taskeen menambahkan bahwa kecemasan sering kali dipicu oleh sensasi fisik yang berasal dari tubuh. Pada kondisi seperti angina mikrovaskular, gejala yang timbul misalnya kelelahan ekstrem, sesak napas, dan ketidaknyamanan dada dapat sangat mirip dengan gangguan kecemasan.
Akibat kemiripan tersebut, tidak sedikit perempuan yang akhirnya didiagnosis mengalami masalah psikologis, padahal terdapat gangguan jantung yang mendasarinya. Ia menegaskan bahwa hubungan antara kecemasan kronis dan penyakit jantung bersifat dua arah: gangguan jantung bisa memicu kecemasan, dan sebaliknya, stres berkepanjangan juga dapat memperburuk kondisi jantung.
Pada angina mikrovaskular, pembuluh darah koroner berukuran kecil tidak bekerja optimal meski arteri utama tampak normal dalam pemeriksaan standar seperti angiografi. Kondisi ini lebih sering dialami perempuan, terutama menjelang atau setelah menopause.
Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala yang tampak ringan atau dianggap sekadar stres. Kecemasan yang muncul tanpa sebab jelas, disertai keluhan fisik lain, sebaiknya dievaluasi lebih lanjut untuk memastikan tidak ada gangguan pada fungsi jantung.