Bagikan:

YOGYAKARTA - Selama puasa Ramadan, banyak orang yang menjalaninya, meningkatkan konsumsi protein saat sahur dan berbuka. Sebab protein dianggap mampu membuat kenyang lebih lama dan membantu menjaga stamina sepanjang hari. Pilihan seperti telur, ayam, daging, ikan, atau susu pun sering mendominasi menu. Tanpa disadari, fokus berlebihan pada protein ini bisa membuat asupan nutrisi lain, terutama serat, menjadi terabaikan.

Apakah konsumsi makanan tinggi protein benar-benar menyebabkan konstipasi?

Secara medis, protein bukan penyebab langsung konstipasi. Masalah pencernaan biasanya muncul karena sumber protein hewani hampir tidak mengandung serat. Ketika pola makan saat puasa didominasi makanan tinggi protein tetapi rendah serat, pergerakan usus dapat melambat. Akibatnya, buang air besar menjadi lebih jarang atau terasa lebih sulit selama Ramadan.

Peran serat yang sering terabaikan saat puasa

Serat memiliki peran penting dalam menjaga tekstur tinja tetap lunak dan mudah dikeluarkan. Sayangnya, saat sahur dan berbuka, konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian sering kali kalah oleh makanan utama yang mengenyangkan. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, usus kekurangan rangsangan alami untuk bekerja optimal. Inilah yang membuat konstipasi lebih mudah terjadi selama puasa.

protein tinggi saat puasa Ramadan picu konstipasi
Ilustrasi penjelasan medis tentang protein tinggi saat puasa Ramadan picu konstipasi (Freepik/jcomp)

Kurangnya cairan memperparah konstipasi

Selain serat, cairan juga menjadi faktor krusial dalam kesehatan pencernaan saat puasa Ramadan. Waktu minum yang terbatas membuat banyak orang tidak memenuhi kebutuhan cairan harian. Mengutip Health, Selasa, 24 Februari, ketika tubuh kekurangan cairan, usus akan menyerap lebih banyak air dari tinja sehingga teksturnya menjadi keras. Kombinasi cairan yang minim dan serat yang rendah membuat konstipasi semakin terasa.

Cara mencegah konstipasi meski konsumsi protein tinggi

Anda tetap bisa mengonsumsi protein tinggi selama puasa tanpa mengorbankan kesehatan pencernaan. Kuncinya adalah menyeimbangkan menu sahur dan berbuka dengan sumber serat seperti sayuran, buah segar, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Minum air secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur juga sangat membantu. Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan setelah berbuka, dapat mendukung kerja usus agar tetap aktif.

Kesimpulannya, protein tinggi saat puasa Ramadan tidak secara langsung memicu konstipasi, tetapi pola makan yang rendah serat dan cairanlah yang menjadi pemicunya. Dengan perencanaan menu sahur dan berbuka yang lebih seimbang, Anda bisa tetap merasa kenyang, bertenaga, dan nyaman secara pencernaan. Puasa pun terasa lebih ringan, tubuh lebih bersahabat, dan ibadah Ramadan dapat dijalani dengan lebih optimal.