Bagikan:

JAKARTA - Tekanan target, tuntutan kinerja, hingga ritme kerja yang semakin cepat membuat stres menjadi bagian yang kerap melekat dalam kehidupan profesional.

Di banyak lingkungan kerja, kondisi tertekan sering dianggap lumrah, bahkan dinormalisasi, sehingga tidak sedikit pekerja yang menjalani hari-harinya tanpa menyadari bahwa kesehatan mental mereka perlahan tergerus.

Psikolog Universitas Indonesia, Ayu S. Sadewo, S.Psi., menilai stres di dunia kerja kerap luput disadari karena dianggap sebagai konsekuensi wajar dari tanggung jawab pekerjaan. Akibatnya, kondisi tersebut sering diabaikan hingga berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Menurut Ayu, banyak pekerja tetap memaksakan diri beraktivitas seperti biasa meski tubuh dan pikirannya sudah berada dalam kondisi tertekan. Stres sering kali baru diakui ketika dampaknya mulai terasa mengganggu pekerjaan maupun hubungan sosial.

“Banyak orang tidak merasa dirinya stres. Mereka baru sadar ketika sudah mudah marah, defensif, menarik diri, atau merasa lelah terus-menerus,” ujar Ayu, seperti dikutip ANTARA.

Ia menjelaskan bahwa dalam budaya kerja, stres sering dipersepsikan sebagai hal yang harus diterima. Ketahanan mental kerap disalahartikan sebagai kemampuan menahan tekanan tanpa keluhan, bukan sebagai kecakapan mengenali batas diri.

Pandangan tersebut, lanjut Ayu, membuat banyak pekerja enggan mengakui kelelahan mental yang dialami. Akibatnya, stres tidak dikelola sejak dini dan justru menumpuk dalam jangka panjang.

Ayu menambahkan bahwa stres dalam durasi singkat masih tergolong normal dan bahkan dapat membantu seseorang tetap waspada serta produktif. Namun, stres yang berlangsung terus-menerus tanpa disadari berisiko berkembang menjadi burnout, yakni kondisi kelelahan fisik dan mental yang berdampak pada menurunnya motivasi serta kinerja.

Burnout, menurutnya, tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya diawali oleh stres yang dibiarkan berlarut-larut, minimnya waktu pemulihan, serta kurangnya ruang aman untuk mengekspresikan tekanan yang dirasakan.

Dalam pemaparannya, Ayu juga menekankan bahwa stres tidak selalu hadir dalam bentuk keluhan yang diucapkan secara langsung. Perubahan perilaku kecil, seperti menurunnya konsentrasi, meningkatnya kesalahan kerja, atau kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial, kerap menjadi sinyal awal yang luput diperhatikan.

Ia mengajak para pekerja untuk mulai lebih peka terhadap tanda-tanda stres sejak dini, baik yang muncul pada tubuh, emosi, maupun pola pikir. Kesadaran ini dinilai penting agar stres dapat dikelola sebelum berdampak lebih jauh pada kesehatan mental.

Melalui kegiatan tersebut, Ayu menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tekanan sepenuhnya, melainkan memahami kapan tekanan perlu dihadapi dan kapan tubuh serta pikiran membutuhkan waktu untuk berhenti dan memulihkan diri.