Bagikan:

JAKARTA - Tekanan darah di pagi hari dapat melonjak karena respons alami tubuh terhadapt jam biologis atau ritme sirkadian. Fenomena kenaikan darah di pagi hari ini disebut dengan morning surge.

Morning surge biasanya terjadi dalam waktu dua sampai tiga jam pertama setelah bangun tidur. Peningkatan ini normal, tetapi bisa berbahaya pada pasien pengidap hipertensi.

Terutama pada pasien hipertensi derajat dua dan tiga. Lonjakan tersebut bisa saja menyebabkan stroke hingga serangan jantung yang berbahaya.

“Morning surge biasanya terjadi di jam 6-10 pagi, tapi bisa juga terjadi pada dini hari. Menurut penelitian, lonjakan 10 mmHg bisa meningkatkan risiko stroke sampai 14 persen,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, di Sudirman, Jakarta, Kamis, 20 November 2025.

Banyak penderita hipertensi tidak merasakan gejala spesifik saat morning surge terjadi. Ini terjadi karena mereka mungkin merasa baik-baik saja, padahal tubuhnya sedang dalam kondisi stres kardiovaskular yang tinggi.

“Inilah mengapa pasien perlu melakukan pengecekan tekanan darah secara mandiri dan teratur pada pagi dan malam hari,” tambahnya.

Perlu diingat bahwa kendali hipertensi tidak hanya bergantung pada dokter, tetapi juga pada kedisiplinan pasien. Oleh karena itu, pasien sebaiknya menjalani gaya hidup sehat, dengan menjaga berat badan ideal, batasi konsumsi garam, olahraga, berhenti merokok, hingga minum obat teratur.

“Penurunan kecil tekanan darah pun berdampak signifikan. Penurunan 10 mmHg darah sistolik dapat mengurangi risiko stroke, kejadian kardiovaskular hingga gagal jantung,” pungkas Dokter Tunggul.