Bagikan:

YOGYAKARTA - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular paling berbahaya di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh, meski paru-paru adalah sasaran utamanya.

Karena sifatnya yang dapat menular melalui udara, terutama lewat percikan batuk atau bersin penderita, TBC menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang tidak bisa dianggap sepele. Untuk menekan angka penularan, deteksi dini menjadi kunci.

Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan tes Mantoux. Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami apa itu tes Mantoux. Lantas apa itu tes Mantoux? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Tes Mantoux?

Tes Mantoux atau dikenal juga sebagai tuberculin skin test adalah tes kulit sederhana yang digunakan untuk membantu diagnosis tuberkulosis. Meski sederhana, tes ini sangat membantu dokter dalam menentukan langkah lanjutan diagnosis maupun pengobatan.

Dalam prosedurnya, dokter menyuntikkan cairan yang disebut tuberkulin tepat di bawah kulit pada bagian lengan bawah. Cairan ini mengandung protein TB yang tidak aktif sehingga tidak berbahaya, namun mampu memicu reaksi pada tubuh bila sistem imun pernah bersentuhan dengan kuman TBC.

Tes ini sebagai penanda ada tidaknya paparan bakteri TBC. Oleh karena itu, hasil tes Mantoux biasanya akan dikombinasikan dengan pemeriksaan lain, seperti rontgen dada atau analisis dahak, untuk memastikan diagnosis lebih akurat.

Prosedur Tes Mantoux

Prosedur tes Mantoux cukup sederhana. Setelah tuberkulin disuntikkan ke bawah kulit, akan muncul benjolan kecil di area suntikan. Dokter kemudian memberi tanda di sekitar benjolan untuk memudahkan pengamatan. Dalam kurun waktu 48-72 jam, pasien harus kembali ke dokter agar benjolan dapat diukur dan diamati.

Jika benjolan tidak mengalami pembesaran, hasilnya dianggap negatif yang berarti pasien tidak terpapar kuman TBC. Sebaliknya, bila ada penambahan ukuran benjolan sekitar 5-10 mm disertai peradangan, hasilnya positif.

Meski demikian, hasil positif bukan berarti seseorang langsung divonis menderita TBC, melainkan hanya menunjukkan adanya paparan yang harus ditelusuri lebih lanjut.

Meski sering digunakan, tes Mantoux tidak selalu akurat. Ada kemungkinan hasil negatif palsu atau positif palsu. Negatif palsu bisa terjadi ketika tubuh terlalu lemah untuk bereaksi, misalnya pada penderita AIDS, kanker, atau pasien yang baru terinfeksi TB antara 8-10 minggu. Teknik penyuntikan yang salah juga bisa memengaruhi hasil.

Sebaliknya, positif palsu bisa muncul jika pasien pernah mendapat vaksin BCG atau terpapar jenis bakteri Mycobacterium lain yang bukan penyebab TBC. Oleh karena itu, dokter biasanya tidak hanya mengandalkan tes Mantoux saja, melainkan melengkapinya dengan pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis.

Dokter bisa merekomendasikan tes tambahan seperti tes darah TB atau rontgen dada untuk memastikan pasien menderita TBC atau tidak. Jika diagnosis TBC ditegakkan, pengobatan perlu segera dimulai. Umumnya, terapi obat berlangsung antara 3 hingga 9 bulan, tergantung kondisi pasien.

Siapa yang Membutuhkan Tes Mantoux?

Tidak semua orang perlu menjalani tes Mantoux, tetapi ada kelompok yang disarankan melakukannya. Seseorang yang mengalami gejala khas TBC seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, demam berkepanjangan, keringat di malam hari, hingga batuk berdarah sebaiknya segera melakukan tes ini.

Selain itu, orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dengan penderita TBC juga perlu menjalani tes Mantoux. Tes ini juga biasanya diwajibkan bagi tenaga medis yang sering kontak langsung dengan penderita TBC.

Bagi masyarakat, memahami apa itu tes Mantoux merupakan langkah penting dalam melindungi diri dan orang-orang di sekitar. TBC memang masih menjadi masalah kesehatan global, tetapi dengan deteksi dini dan pengobatan tepat, penyakit ini dapat dikendalikan dan angka penularannya bisa ditekan.