JAKARTA - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit yang paling diwaspadai di Indonesia. Tidak lagi sekadar muncul saat musim hujan, penyebaran virus dengue kini dapat terjadi sepanjang tahun seiring perubahan pola cuaca dan tingginya populasi nyamuk pembawa virus.
Maka dari itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pengasapan atau menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga perlu dibarengi dengan edukasi kesehatan dan perlindungan tambahan seperti vaksinasi.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus dengue dalam dua dekade terakhir mengalami peningkatan signifikan. Bahkan, siklus lonjakan kasus kini terjadi lebih cepat dibanding sebelumnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan pasien dan keluarga, tetapi juga membebani sistem kesehatan nasional.
Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan DBD kembali digaungkan melalui berbagai edukasi kesehatan digital dan layanan konsultasi medis yang lebih mudah diakses masyarakat.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan dengue merupakan penyakit serius yang hingga kini belum memiliki obat spesifik untuk menyembuhkan infeksinya.
"Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. Sampai saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting,” ujarnya dalam keterangan pers kepada VOI, Kamis, 7 Mei.
Ia juga menilai edukasi publik mengenai dengue perlu terus diperluas agar masyarakat lebih memahami risiko penyakit dan langkah perlindungan yang tersedia.
Sementara itu, CEO dan Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menilai akses terhadap informasi kesehatan yang akurat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
“Mengingat besarnya beban penyakit ini, edukasi medis yang akurat sekaligus perluasan akses perlindungan bagi masyarakat menjadi sangat penting,” katanya.
BACA JUGA:
Menurut Jonathan, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan DBD juga terlihat dari meningkatnya akses layanan vaksinasi dengue dalam beberapa waktu terakhir.
Perhatian terhadap DBD sendiri semakin penting karena penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius, terutama pada anak-anak. Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menjelaskan gejala awal DBD sering kali tampak seperti penyakit umum.
"Seorang anak dengan gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat mengalami perburukan cepat seperti perdarahan hebat dan syok,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kelompok anak menjadi salah satu yang paling rentan mengalami komplikasi serius akibat dengue. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari gerakan 3M Plus hingga mempertimbangkan imunisasi sebagai perlindungan tambahan.
"Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi,” ujar Prof. Hartono.
Hal serupa disampaikan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM. Menurutnya, DBD juga dapat berdampak serius pada kelompok usia dewasa, khususnya usia produktif dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
"Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga,” ungkap Dr. Sukamto.
Ia mengingatkan pencegahan sebaiknya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat, terutama di tengah perubahan cuaca yang membuat risiko penyebaran dengue semakin tinggi.
Selain menjaga lingkungan tetap bersih dan mengurangi tempat berkembang biak nyamuk, masyarakat juga diimbau lebih aktif mencari informasi medis yang tepat dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.