Bagikan:

YOGYAKARTA – Sandal jepit atau populer disebut sandal flip-flop, dipilih karena ringan dan mudah dipakai. Namun, meski nyaman untuk jalan santai sebentar, pakar ortopedi memperingatkan bahwa pemakaian jangka panjang bisa berdampak buruk pada kesehatan kaki dan tubuh. Anda perlu memahami, ada risiko risiko dan faktor yang perlu dipertimbangkan saat memakai sandal jepit atau flip-flop, berikut penjelasannya.

1. Kurangnya penyangga lengkungan kaki (Arch support)

Sandal jepit tradisional biasanya sangat datar tanpa dukungan lengkungan kaki. Kondisi ini bisa membuat kaki bergulir berlebihan (overpronation). Efeknya memberikan tekanan berlebih pada lengkungan dan tumit. Akibatnya, dilansir OrthoArkansas, Rabu, 16 Juli, Anda bisa mengalami plantar fasciitis, yaitu peradangan menyakitkan pada jaringan di bawah telapak kaki.

2. Sol tumit tipis sehingga benturan tak teraresorpsi

Aresorpsi ialah resorpsi yang berarti penyerapan kembali. Dalam konteks tubuh manusia, resorpsi berarti proses penyerapan kembali zat oleh jaringan tubuh, misalnya tulang, cairan, atau nutrisi.

Pada konteks memakai sandal jepit, karena sol sandal jepit yang tipis tidak menyerap benturan dengan baik saat melangkah, apalagi di permukaan keras. Maka bisa dikatakan benturan saat berjalan, berlari, atau melangkahkan kaki pakai sandal jepit, tak teraresorpsi. Alas kaki tidak bisa meredam hentakan, maka sendi tumit, lutut, dan pinggul akan menerima beban lebih besar. Bila dipakai terlalu lama, risiko nyeri tumit dan peradangan plantar meningkat signifikan.

faktor yang perlu dipertimbangkan saat memakai sandal jepit atau flip-flop secara ortopedi
Ilustrasi faktor yang perlu dipertimbangkan saat memakai sandal jepit atau flip-flop secara ortopedi (Freepik/topntp26)

3. Ketegangan otot dan tuas jari-jari kaki

Sandal jepit tak memiliki tali di bagian belakang. Sehingga ketika Anda memakainya, cenderung menjepitnya dengan jari-jari kaki saat berjalan. Kebiasaan ini memberi tekanan berulang pada otot jari, kaki, bahkan betis. Lama-lama bisa memicu kram, tendinitis, atau bentuk deformasi seperti hammer toe.

4. Mengubah postur jalan (Altered gait)

Pemakaian sandal jepit memaksa Anda berjalan dengan postur yang berbeda dari saat memakai sepatu tertutup, karena dukungan kaki berkurang. Gaya langkah yang berubah ini bisa menyebabkan ketegangan pada lutut, pinggul, dan punggung bawah. Meski perubahan kecil, efek jangka panjangnya dapat membuat Anda rentan cedera sendi.

Jadi, kalau Anda beraktivitas lebih lama, pakailah sepatu yang nyaman dengan lengkungan arch serta sol yang mumpuni meredam benturan atau hentakan ketika melangkah. Hindari memakai sandal jepit dalam waktu lama karena akan berisiko cedera pada sendi.

5. Pilih alas kaki dengan Bijak

Anda tetap bisa pakai sandal jepit, asalkan pilih yang dirancang khusus dengan dukungan ortopedi. Kriteria yang penting dalam memilih alas kaki, antara lain arch support (penyokong lengkungan alami kaki), sol empuk untuk meredam benturan, cekungan tumit yang stabil, dan tali lebar agar beban tersebar merata.

6. Batasi waktu pemakaian

Sandal jepit atau flip-flop terbaik dipakai untuk waktu singkat. Misalnya ke pantai, kolam renang, atau berjalan sebentar di sekitar rumah. Untuk berjalan jauh, olahraga, atau dipakai sepanjang hari, sepatu tertutup yang mendukung struktur kaki lebih direkomendasikan. Ini membantu meminimalkan risiko cedera sambil menjaga kenyamanan kaki Anda.

Perlu dipahami, sandal jepit atau flip-flop memang alas kaki yang praktis dan nyaman untuk penggunaan singkat. Namun, jika dipakai terlalu lama tanpa dukungan yang memadai, risiko masalah kaki, otot, dan sendi tidak bisa diabaikan.