JAKARTA - Hipertensi merupakan kondisi medis ketika tekanan darah dalam arteri melebihi batas normal. Hipertensi termasuk masalah kesehatan serius, yang jika tidak ditangani dengan baik bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga stroke.
Dalam penanganan hipertensi, pasien biasanya akan diberikan obat untuk menjaga tekanan darahnya tetap normal. Obat tersebut harus diminum secara rutin, meskipun tidak terjadi lonjakan tekanan darah.
“Kalau tensinya normal sesudah minum obat, apakah obat bisa distop, tentu tidak. Ini karena dia tekanan darahnya normal karena minum obat. Jadi tetap butuh obat,” kata Ketua Panitia dan Ketua Umum Tim Buku Panduan Penatalaksanaan Hipertensi Peripartum 2025, Dr. Ni Made Hustini, saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Dengan minum obat dan tekanan darah normal, maka akan membantu fungsi organ tubuh lainnya. Dengan bantuan obat, organ tubuh lain tidak harus bekerja dengan keras untuk membuat tekanan darah tetap normal.
“Organ yang lain akan senang, bahagia karena bisa bekerja dengan normal. Kalau tidak minum obat, organ lain akan bekerja dengan keras untuk membuat tekanan darah tetap normal,” tuturnya.
Jika pasien hipertensi tidak rutin minum obat, maka organ lain seperti jantung akan bekerja keras, yang berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung. Hipertensi yang tidak ditangani dengan obat juga bisa mengganggu fungsi ginjal.
“Jika jantung misal bekerja dalam tekanan darah tinggi, maka otot jantung bisa membesar yang bisa menyebabkan gagal jantung akibat hipertensi. Itu juga yang bisa terjadi di ginjal dan lainnya,” jelasnya.
BACA JUGA:
Kemudian, Dokter Ni Made juga mengatakan bahwa selain minum obat, pasien hipertensi juga harus menerapkan gaya hidup yang sehat. Salah satunya memilih makanan sehat, yang tidak meningkatkan risiko naiknya tekanan darah.
“Jadi kalau sudah kena hipertensi, dia harus minum obat, dan menerapkan healthy lifestyle ya,” pungkas Dokter Ni Made.