JAKARTA - Bryan Johnson, seorang pengusaha teknologi berusia 47 tahun yang dikenal karena usahanya untuk memperlambat penuaan, memutuskan berhenti mengonsumsi rapamycin, obat yang selama bertahun-tahun digunakan untuk menambah umur panjangnya.
Meskipun setiap pagi ia mengonsumsi 54 pil sebagai bagian dari rutinitasnya, Bryan menemukan rapamycin mungkin lebih banyak menimbulkan efek buruk daripada manfaat.
Johnson dikenal karena mengikuti salah satu protokol rapamycin paling agresif di dunia. Rapamycin adalah obat imunosupresan yang biasanya digunakan pasien transplantasi untuk mencegah penolakan organ.
Meskipun FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS) tidak menyetujui rapamycin untuk terapi anti-penuaan, beberapa dokter meresepkannya karena penelitian pada tikus menunjukkan obat ini dapat memperpanjang usia sehat.
Namun, dalam film dokumenter Netflix berjudul Don’t Die: The Man Who Wants to Live Forever, Johnson mengungkapkan ia berhenti mengonsumsi rapamycin pada akhir September setelah hampir lima tahun menggunakannya. Ia mengaku bahwa efek sampingnya terlalu besar dibandingkan manfaatnya.
"Saya mengambil ini karena ada beberapa manfaat umur panjang yang potensial," kata Johnson dalam film tersebut, dikutip dari laman The Economic Times.
"Ini adalah hal yang ada di komunitas umur panjang yang membuat orang-orang bersemangat," lanjutnya.
BACA JUGA:
Selama menjalani eksperimen, Johnson mencoba berbagai dosis dan jadwal konsumsi rapamycin, termasuk dosis mingguan dan dua mingguan, untuk mengoptimalkan manfaatnya sambil meminimalkan efek samping.
"Aku berpikir umur panjang, orang-orang berpikir pasti agak gila. Saya juga minum obat penekan kekebalan tubuh. Ketika mengetahui hal itu, orang-orang bereaksi 'Itu aneh dan mengapa kamu melakukan itu?'," ucapnya.
Namun, ia mengalami infeksi kulit dan jaringan lunak, kadar lemak darah yang tidak normal, peningkatan gula darah, dan detak jantung istirahat yang lebih tinggi. Penyesuaian dosis tidak membantu, Bryan memutuskan untuk berhenti total.
Para ahli medis dalam dokumenter tersebut juga menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap penggunaan rapamycin oleh manusia. Karena obat ini menekan sistem kekebalan tubuh, namun berisiko mengalami infeksi bakteri berbahaya, seperti pneumonia atau selulitis.
Johnson menghabiskan USD2 juta atau Rp32 miliar per tahun untuk berbagai tes medis dan perawatan demi memperlambat penuaan. Beberapa bulan lalu, ia melakukan pertukaran plasma total, di mana cairan tubuhnya diganti dengan albumin murni, protein yang terdapat dalam plasma darah manusia.
Pada tahun 2023, ia sempat melakukan transfusi darah dengan putranya masih remaja, yang ia sebut sebagai 'blood boy'.
Johnson, yang meraup kekayaan besar setelah menjual perusahaan ke eBay, kini sepenuhnya berkomitmen untuk memperlambat proses penuaan dengan kombinasi pola makan, tidur, dan olahraga yang sangat ketat.