Ahli Sebut Seks Oral Jadi Pemicu Utama Kanker Tenggorokan

JAKARTA - Para ahli menemukan meningkatnya kasus kanker tenggorokan berkaitan dengan praktik seks oral, yang dapat menularkan human papillomavirus (HPV).

Kanker tenggorokan biasanya menyerang orang berusia 50 hingga 80 tahun. Namun, kini lebih banyak terjadi pada generasi muda karena terkait dengan infeksi human papillomavirus (HPV), virus yang menular lewat hubungan seksual.  Menurut Dr. Hisham Mehanna dari Universitas Birmingham, faktor risiko utama kanker ini adalah seks oral.

"Orang yang memiliki enam atau lebih pasangan seks oral dalam hidupnya berisiko 8,5 kali lebih tinggi terkena kanker tenggorokan dibandingkan mereka yang tidak melakukan seks oral,” jelasnya, dikutip dari laman New York Post.

Kanker ini menyerang bagian tengah tenggorokan di belakang mulut, termasuk langit-langit mulut, amandel, pangkal lidah, serta sisi dan belakang tenggorokan. Gejala yang mungkin muncul meliputi:

- Sakit tenggorokan yang tak kunjung sembuh

- Kesulitan menelan

- Sulit membuka mulut sepenuhnya

- Kesulitan menggerakkan lidah

- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas

- Nyeri telinga

- Benjolan di belakang mulut, tenggorokan, atau leher

- Bercak putih di lidah atau lapisan dalam mulut yang tak hilang

- Batuk berdarah

Pengobatan kanker tenggorokan biasanya melibatkan terapi radiasi, kemoterapi, kombinasi keduanya, atau operasi pengangkatan tumor. Kanker yang disebabkan oleh HPV umumnya memiliki peluang sembuh lebih tinggi dibandingkan kasus yang dipicu oleh kebiasaan merokok atau minum alkohol berlebihan. Sekitar 70% penderita dapat bertahan hidup setidaknya 5 tahun setelah diagnosis.

HPV sendiri memiliki lebih dari 200 jenis, beberapa di antaranya dapat menyebabkan kutil kelamin atau kanker serviks. Sebagian besar orang dapat membersihkan infeksi HPV secara alami, tetapi ada sebagian kecil yang tidak bisa, kemungkinan karena kelemahan dalam sistem kekebalan tubuh mereka. Jika virus tetap ada, ia dapat berkembang biak terus-menerus dan akhirnya mengubah DNA sel tubuh menjadi sel kanker.

Untuk mencegahnya, Dr. Mehanna merekomendasikan vaksinasi HPV bagi anak laki-laki dan perempuan. Vaksin sebaiknya diberikan mulai usia 11 atau 12 tahun, bahkan sejak usia 9 tahun. Jika belum divaksin saat muda, vaksinasi masih bisa dilakukan hingga usia 27 tahun.

Namun, ada sebagian orang yang menolak vaksin HPV karena alasan keamanan, ketidakyakinan akan manfaatnya, atau kekhawatiran bahwa vaksin ini dapat mendorong perilaku seksual bebas.

"Saat membahas masalah kesehatan masyarakat dan perilaku manusia, tidak ada yang sederhana." ujar Mehanna.

Departemen Kesehatan New York menegaskan vaksin ini adalah cara yang aman dan efektif untuk melindungi diri dari masalah kesehatan serius akibat HPV.