Burden Exercise During Fasting, When Is The Best Time And What Is The Intensity?

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa menjadi tantangan tersendiri karena perubahan pola makan dan waktu istirahat. Namun, bukan berarti puasa harus menjadi alasan untuk meninggalkan olahraga.

Justru, aktivitas fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu tubuh tetap bugar, menjaga massa otot, serta meningkatkan stamina. Pemilihan jenis latihan dan waktu yang sesuai menjadi kunci agar olahraga saat puasa tetap aman dan efektif.

Pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Melita Mutia, merekomendasikan latihan beban atau strength training sebagai pilihan utama saat berpuasa.

Menurutnya, risiko kehilangan massa otot cukup tinggi selama puasa karena aktivitas fisik yang berkurang, defisit kalori yang lebih besar, serta asupan protein yang tidak selalu terpenuhi dengan optimal. Dengan melakukan latihan beban secara rutin dan menyesuaikan intensitasnya, risiko tersebut dapat diminimalisir.

Selain latihan beban, olahraga kardio juga tetap dapat dilakukan selama puasa, namun perlu disesuaikan intensitas dan durasinya agar tidak menyebabkan kelelahan berlebih.

"Jadi dengan kita melakukan strength training tentunya dengan intensitas yang disesuaikan dengan waktu latihan dan kondisi badan, kita memperkecil risiko penurunan otot tersebut,” jelasnya seperti dikutip ANTARA.

Waktu latihan pun bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Beberapa waktu yang direkomendasikan untuk berolahraga selama puasa antara lain setelah sahur, menjelang berbuka puasa, atau setelah salat Tarawih.

Berolahraga setelah sahur memungkinkan tubuh memiliki energi yang lebih banyak karena masih berada dalam kondisi yang cukup segar. Namun, perlu diperhatikan agar tidak berlebihan sehingga tidak menyebabkan dehidrasi atau kelelahan yang mengganggu aktivitas harian.

Sementara itu, berlatih menjelang berbuka sering menjadi pilihan banyak orang karena bisa langsung mengganti cairan dan energi yang hilang saat waktu berbuka tiba. Meski begitu, latihan di waktu ini perlu dilakukan dengan intensitas rendah karena tubuh berada dalam kondisi energi yang lebih rendah.

Bagi yang lebih nyaman berolahraga setelah Tarawih, keuntungannya adalah tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, sehingga memungkinkan untuk melakukan latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Namun, perlu diperhatikan bahwa aktivitas fisik yang terlalu berat pada malam hari bisa berdampak pada kualitas tidur.

Pada akhirnya, olahraga selama bulan puasa perlu dilakukan secara seimbang tanpa mengganggu ibadah. Yang terpenting adalah mendengarkan kondisi tubuh dan memilih jenis serta waktu latihan yang paling sesuai.

JAKARTA - Maintaining body fitness during the fasting month is a challenge in itself due to changes in diet and rest time. However, that doesn't mean fasting should be an excuse to leave sports.

In fact, proper physical activities can help the body stay fit, maintain muscle mass, and increase stamina. The selection of the appropriate types of exercise and time is the key to keeping exercise during fasting safe and effective.

The fitness trainer from the Indonesian Fitness Coach Association (APKI), Melita Mutia, recommends weight training or strength training as the main choice when fasting.

According to him, the risk of losing muscle mass is quite high during fasting due to reduced physical activity, a larger calorie deficit, and optimal protein intake. By doing regular weight training and adjusting the intensity, this risk can be minimized.

In addition to weight training, cardio exercise can also be done during fasting, but it is necessary to adjust the intensity and duration so as not to cause excessive fatigue.

"So with us doing strength training, of course, with an intensity that is adjusted to exercise time and body conditions, we minimize the risk of muscle decrease," he explained as quoted by ANTARA.

The exercise time is also flexible and can be adjusted to the conditions of each individual. Some of the recommended time to exercise during fasting include after dawn, before breaking the fast, or after Tarawih prayers.

Exercise after dawn allows the body to have more energy because it is still in a fairly fresh condition. However, it should be noted so as not to overdo it so as not to cause dehydration or fatigue that interferes with daily activities.

Meanwhile, practicing before breaking the fast is often the choice of many people because it can immediately replace lost fluids and energy when the time is open. Even so, training at this time needs to be done with low intensity because the body is in a lower energy condition.

For those who are more comfortable exercising after Tarawih, the advantage is that the body already gets food and liquid intake, making it possible to do higher intensity exercises. However, it should be noted that overly severe physical activity at night can have an impact on sleep quality.

In the end, exercise during the fasting month needs to be done in a balanced manner without disturbing worship. The most important thing is to listen to the condition of the body and choose the type and time of the most appropriate exercise.

"It's okay"