Bagikan:

JAKARTA - Penulis ingat betul ketika penghujung 2017 sempat ditawari kartu reward oleh seorang kasir department store saat hendak menyelesaikan transaksi pembelian. Dalam penuturannya, sang kasir menyebut jika kartu ini menyediakan fasilitas pengumpulan poin yang dapat ditukar sebagai potongan harga saat melakukan pembelian selanjutnya.

Batin penulis bilang, mungkin yang dimaksud adalah skema uang elektronik yang memang saat itu tengah gencar-gencarnya hadir seiring dengan mandatori transaksi nontunai di jalan tol.

“Boleh mba,” kata penulis memberikan persetujuan untuk dibuatkan kartu yang dimaksud.

Singkat cerita, sejak saat itu perkembangan uang elektronik seolah tidak terbendung lagi. Hari ini, sudah jamak ditemui transaksi keuangan tanpa adanya uang tunai. Cukup melakukan pemindaian pada barcode yang disediakan, maka transaksipun telah selesai secara sah dalam hitungan detik.

Salah satu pemain penting dalam perkembang uang elektronik di Indonesia adalah OVO. Didirikan oleh Lippo Group pada 25 September 2017, brand ini menjadi pionir di industri keuangan digital Tanah Air.

Selama empat tahun perjalanannya, OVO tidak melulu hanya berfokus pada penyelesaian transaksi jual-beli. Lebih dari itu, merek dagang dibawah naungan PT Visionet Internasional ini menjadi penghubung bagi beragam layanan keuangan yang komprehensif dan multibidang, baik transaksi online maupun offline.

Bahkan, OVO telah memacu diri untuk selalu relevan dengan kebutuhan konsumen lewat beragam fasilitas yang disediakan. Tercatat, perusahaan jasa keuangan 4.0 ini telah bertransformasi untuk menghubungkan beragam transaksi digital, seperti transportasi, pemesanan makanan, belanja daring, hingga investasi, asuransi, dan pinjaman.

Head of Corporate Communications OVO Harumi Supit mengatakan pihaknya berkomitmen untuk terus menjawab kebutuhan pengguna.

Disebutkan olehnya jika layanan yang hadir kini lebih luas, khususnya dalam melayani sebagian besar masyarakat yang masih dalam kategori underbanked (belum secara maksimal menggunakan layanan keuangan) dan unbanked (belum tersentuh layanan keuangan).

“Ini menggambarkan bahwa aplikasi pembayaran digital bisa menyediakan pondasi kuat dan lengkap bagi masyarakat, sehingga menjadi one stop solution yang mudah, cepat, aman dan nyaman untuk digunakan, tidak perlu lagi berpindah aplikasi untuk mendapatkan layanan keuangan yang beragam,” ujar dua dalam keterangan pers, dikutip Kamis, 28 Oktober.

Secara terperinci, Harumi menjelaskan beberapa produk yang kini menjadi andalan antara lain reksadana pasar uang, baik yang berbasis konvensional maupun syariah, bernama OVO Invest. Harumi mengklaim, sejak layanan investasi tersebut diperkenalkan pada semester I 2021 jumlah calon investor telah mencapai 450.000 orang.

Sementara untuk layanan asuransi, OVO meluncurkan produk asuransi jiwa syariah berbasis digital hasil kolaborasi dengan Prudential Indonesia.

Kemudian platform digital ini juga merambah sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan merilis layanan OVO Modal Usaha sebagai bentuk dukungan kepada 70 persen pelaku usaha kerakyatan yang tidak dapat mengakses pinjaman modal untuk berekspansi.

“Melalui berbagai fasilitas keuangan ini, OVO berupaya mengatasi kesenjangan pada ekosistem keuangan di Indonesia sehingga mampu menekan jumlah masyarakat underbanked dan unbanked,” katanya.

Terbaru, OVO bersama dengan Grab Indonesia meluncurkan Program Akselerasi Transaksi Online Pemerintah (Patriot) yang bertujuan untuk mendukung Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).

Kedua entitas usaha yang saling terafiliasi itu menggandeng Pemerintah Kota Surakarta sebagai mitra strategis Program Patriot.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan pihaknya berkomitmen mendorong percepatan dan perluasan digitalisasi daerah melalui tiga langkah utama.

Pertama, digitalisasi pasar untuk memudahkan pedagang dalam menjalankan usaha. Kedua, Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETP) untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Serta yang ketiga adalah untuk mendukung Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Kolaborasi yang dibangun diharapkan dapat meningkatkan jumlah UMKM yang masuk ke platform digital terutama pedagang pasar tradisional sebagai upaya mendukung target pemerintah mencapai 30 juta UMKM pada 2024,” ujarnya dalam melalui saluran virtual, Kamis, 21 Oktober.

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menyambut baik inisiatif pembayaran secara cashless karena memudahkan dalam transaksi dan lebih akuntabel.

“Sudah ada 44 pasar tradisional yang kami siapkan untuk onboarding termasuk diantaranya Pasar Legi dan Purwasari. Kami akan melakukan edukasi terhadap penjual dan juga pembeli agar terbiasa dengan situasi sekarang,” ucap Gibran.

Birokrat yang akrab disapa “Mas Wali” itu menilai situasi pandemi membuat masyarakat mau tidak mau untuk lebih melek digital.

“Mari kita beri dukungan untuk para UMKM di Indonesia,” tegas sulung dari Presiden Joko Widodo tersebut.

Peran serta OVO dalam mendorong pelaku UMKM untuk ikut mengadopsi metode pembayaran menggunakan uang elektronik berbasis aplikasi semakin nyata.

UMKM merasa terbantu

Mengutip studi yang dilakukan oleh CORE Indonesia terhadap 2.001 UMKM mitra OVO di delapan provinsi menyebutkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM merasa terbantu sejak bergabung di platform pembayaran digital ini.

“Sebagian besar responden survei melaporkan peningkatan transaksi harian dan pendapatan bulanan, serta kini lebih sering menggunakan layanan perbankan jika dibandingkan sebelum bergabung dengan OVO,” demikian laporan CORE Indonesia yang dirilis pada Jumat, 1 Oktober.

Secara terperinci, sebanyak 73 persen UMKM sekarang ini lebih sering menggunakan uang elektronik untuk bertransaksi.

Lalu, sekitar 70 persen UMKM mengalami peningkatan transaksi harian dengan rata-rata kenaikan hingga 30 persen. Adapun, rata-rata pendapatan perbulan naik 27 persen bagi 68 persen responden yang mengalami peningkatan pendapatan setelah bergabung dengan OVO.

Untuk diketahui, OVO sendiri kini dikendalikan oleh Grab yang menggenggam 90 persen saham perusahaan setelah mengakuisisi dari Tokopedia dan Lippo Group milik konglomerat Mochtar Riady.

Grab Holdings Inc. resmi mengakuisisi kepemilikan saham dari PT Tokopedia dan Lippo Group di PT Bumi Cakrawala Perkasa, induk perusahaan OVO. Sebelumnya, Tokopedia mempunyai 36,1 persen saham, Lippo Group sebesar 7,2 persen saham, dan Grab 39,2 persen saham.

Pemegang saham lainnya di PT Bumi Cakrawala Perkasa, adalah Tokyo Century Corporation memiliki 7,5 persen dan Wahana Inovasi Lestari tercatat sebesar 5 persen.

Melalui sejumlah terobosan dan transformasi bisnis, OVO kini telah menjelma menjadi salah satu entitas usaha yang diperhitungkan dan diminati oleh investor kakap.

Berkat kemampuan memanfaatkan potensi teknologi, OVO kini memiliki valuasi 2,9 miliar dolar AS, menurut Wikipedia, hanya dalam waktu empat tahun sejak berdiri.

Kaget? Sudah pasti. Pun demikian dengan penulis, yang beberapa bulan lalu baru saja menyadari bahwa kartu transaksi belanja yang diberikan oleh kasir Matahari Department Store pada 2017 silam ternyata terpampang merek dagang OVO.