JAKARTA - Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menilai pergerakan rupiah masih berada dalam tren depresiasi yang kuat.
Dia menambahkan secara teknikal, nilai tukar rupiah dalam rentang Rp17.970–Rp18.000 menjadi area resistansi psikologis yang sangat penting bagi pasar.
Menurutnya, apabila rupiah menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan pelemahan berpotensi meningkat akibat meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar.
"Level Rp17.970 hingga Rp18.000 bertindak sebagai dinding resistansi psikologis yang sangat krusial jika batas ini ditembus dan bertahan hingga penutupan pasar, kepanikan komersial dapat mendorong pelemahan lebih lanjut," ujarnya kepada VOI, Rabu, 3 Juni.
Dia menambahkan sebaliknya, area Rp17.850–Rp17.880 diperkirakan menjadi zona support terdekat apabila intervensi Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas likuiditas valuta asing di pasar.
Sutopo menjelaskan, pelemahan rupiah yang hampir menyentuh level Rp18.000 per dolar AS dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong arus modal menuju aset safe haven, sehingga memperkuat dolar AS.
Menurut dia, kondisi tersebut diperkuat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang melampaui 4,45 persen setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan.
Sementara dari dalam negeri, Sutopo mengatakan tekanan terhadap rupiah diperparah oleh menyusutnya surplus neraca perdagangan ke level terendah sejak 2020, yang mengurangi pasokan devisa dari sektor ekspor.
Dia menambahkan, pada saat yang sama, inflasi Mei yang mencapai 3,08 persen secara tahunan turut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko imported inflation.
Sutopo mengatakan, apabila pelemahan rupiah berlanjut hingga mendekati atau menembus level Rp18.000 per dolar AS, dampaknya dapat dirasakan pada meningkatnya biaya impor bahan baku industri manufaktur yang masih bergantung pada pasokan luar negeri dan kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi lanjutan di tingkat konsumen.
Menurutnya, untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia diperkirakan akan mengoptimalkan strategi triple intervention melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi.
BACA JUGA:
Selain itu, ia menambahkan, bank sentral juga berpeluang mempertimbangkan langkah pengetatan moneter lanjutan melalui penyesuaian suku bunga acuan setelah kenaikan 50 basis poin pada bulan sebelumnya.
Sutopo mengatakan dari sisi fiskal dan sektor riil, pemerintah dinilai perlu memastikan implementasi kebijakan integrasi ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia serta optimalisasi kebijakan penempatan 100 persen Devisa Hasil Ekspor (DHE) di perbankan Himbara guna memperkuat likuiditas valuta asing domestik dan mendukung stabilitas pasar keuangan.