JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, di tengah menguatnya dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko global dan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,22 persen secara harian ke level Rp17.706 per dolar AS.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) ditutup turun 0,29 persen ke posisi Rp17.719 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai lonjakan agresif dolar AS ke rupiah yang menembus level psikologis Rp17.700 mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran (supply and demand imbalance).
Menurutnya, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi tekanan domestik dan global dimana dari sisi domestik, pasar mencermati potensi pelebaran defisit transaksi berjalan serta meningkatnya beban subsidi energi.
Sementara itu, ia menambahkan, dari sisi global, penguatan dolar AS didorong oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).
"Penembusan resistansi kuat ini dipicu oleh akumulasi tekanan ganda, di mana kekhawatiran domestik terhadap melebarnya defisit transaksi berjalan dan pembengkakan subsidi energi berpadu dengan keperkasaan dolar global yang ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury," jelasnya kepada VOI, Selasa, 19 Mei.
BACA JUGA:
Dia menambahkan, kondisi pasar yang saat ini berada dalam fase high-beta turut memicu kepanikan jangka pendek dan membuat pergerakan harga lebih didominasi oleh kekuatan pembeli (buyers’ market).
"Kondisi pasar yang berada dalam fase high-beta ini memicu kepanikan jangka pendek, sekaligus menempatkan momentum pergerakan harga sepenuhnya di bawah kendali pihak pembeli (buyers' market)," jelasnya.