JAKARTA - Jika kondisi tarif baru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump dinilai sebagai 'detoks' di bidang ekonomi pada kenyataannya malah menurunkan tiga indeks utama AS secara drastis pada Senin, 14 April 2025.

Ketiga indeks utama AS itu antara lain, saham dari perusahaan teknologi, saham dari bank-bank yang besar di Amerika Serikat dan jatuhnya Nasdaq (perusahaan layanan keuangan multinasional yang memiliki dan mengoperasikan pasar saham Nasdaq dan delapan bursa saham Eropa) sebesar 4 %.

Tidak hanya itu, imbal hasil obligasi juga mengalami penurunan yang tajam, sehingga pasar terpaksa menetapkan harga dalam probabilitas sekitar 50-50 dari suku bunga pemotongan Fed pada bulan Mei.

Analis dan pengamat keuangan Jamie McGeever menuliskan aksi jual di Wall Street kini sedang mengalami kekhawatiran tingkat tinggi atas pertumbuhan akibat perang perdagangan yang dihasilkan dari tarif baru Trump. Kekhawatiran paling besar di mana harga di pasar akan berubah menjadi longsoran salju. Dan hal ini dimulai dari merosotnya tiga indeks utama AS secara tajam antara 2% sampai 4%.

"Pasar di seluruh dunia akan merasakan kejatuhannya pada hari Selasa, dengan indeks Asia dan global sudah mulai goyang akibat angka kejutan dari Beijing selama akhir pekan yang menunjukkan tekanan deflasi di China juga meningkat," katanya dikutip VOI dari Reuters, Selasa, 15 April 2025.

Dari indikator di atas, kekhawatiran resesi AS meningkat dengan cepat. Bahkan jika model GDPNow Atlanta Fed menunjukkan kontraksi PDB yang mendalam pada kuartal pertama terbukti salah tentu saja para analis atau pakar dari ekonomi akan mempertanyakan bagaiamana pola masukannya. Ini semua terjadi sekali lagi karena kebijakan tarif baru trump yang ugal-ugalan yang menghasilkan ketidakpastian ekonomi semakin meningkat.

Amerika Diprediksi Jatuh ke Jurang Resesi Lebih Cepat

Ilustrasi Amerika Serikat akan Terkena Resesi Lebih Cepat (Ist)
Ilustrasi Amerika Serikat akan Terkena Resesi Lebih Cepat (Ist)

Tarif baru dari Trump ini jelas menciptakan badai yang sempurna. Volatilitas pasar keuangan telah menggelembung ke level tertinggi. Volatilitas tersirat di S&P 500 yang diukur dengan indeks VIX – yang disebut indeks ketakutan Wall Street – sekarang menjadi yang tertinggi sejak Fed memangkas suku bunga pada bulan Desember tahun lalu. VIX hampir dua kali lipat pada bulan lalu, dan pada hari Senin VIX tiga bulan melonjak ke level tertinggi sejak Agustus.

Mengingat meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan, JP Morgan Research telah menaikkan kemungkinan terjadinya resesi global pada tahun 2025 menjadi 40% — naik dari 30% pada awal tahun.

"Kini kita melihat risiko resesi global yang jauh lebih tinggi. Perubahan kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Trump dan potensi dampaknya terhadap sentimen telah berkontribusi terhadap peningkatan risiko ini," kata Bruce Kasman, kepala ekonom global di JP Morgan.

Serangkaian tarif baru akan diumumkan pada awal April, yang kemungkinan akan menaikkan tarif efektif AS di atas 10% dan mengakibatkan penurunan 0,5 poin persentase pada PDB AS dan global tahun 2025. "Bahkan setelah memperhitungkan tindakan pembalasan, penurunan ini tidak cukup besar untuk mengancam perluasan yang pada dasarnya kokoh. Namun, kekhawatiran kami adalah bahwa tiga dorongan terkait memperbesar ukuran penurunan ini," kata Kasman pada 31 Maret 2025.

Pernyataan dari Kasman terkait resesi yang akan dialami Amerika Serikat, juga ditegaskan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan posisi dolar AS (US$) mulai kehilangan pamor saat kebijakan tarif resiprokal ugal-ugalan dari Presiden AS, Donald Trump. Tak hanya itu, investor atau pelaku dari pasar keuangan mulai berpaling dari dolar AS yang saat ini dinilai sebagai aset aman di tengah gejolak perekonomian dunia. Hal itu tercermin dari terus merosotnya indeks dolar (DXY Index), sementara volatilty index (VIX Index) terus naik.

Perlu dicatat, DXY index ini tak lain ukuran dari nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, seperti euro, yen Jepang, maupun poundsterling Inggris. Sementara VIX Index merupakan indikator global yang mengukur volatilitas pasar secara keseluruhan. "Jadi kepercayaan terhadap dolar AS juga mulai menurun, tidak lagi 100 persen. Di sisi lain, VIX Index meningkat," kata Sri Mulyani di Jakarta, dikutip Minggu (13/4/2025).

Menurunnya kepercayaan pelaku pasar global terhadap dolar AS ini, lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, diikuti dengan semakin tingginya kemungkinan AS masuk ke jurang resesi. Sri Mulyani menegaskan perkiraan berbagai lembaga investasi dunia menyebut potensi perekonomian AS memasuki resesi mengalami peningkatan menjadi 60 persen. Semakin tingginya potensi resesi di AS dipicu kebijakan 'asal-asalan' dari Trump. Salah satunya penerapan tarif resiprokal tinggi terhadap berbagai negara termasuk Indonesia yang dikenakan tarif impor hingga 32 persen.

Tarif Baru Trump Saatnya Rupiah Tinggalkan Dolar?

Saatnya Rupiah Tinggalkan Dolar? (Ilustrasi, dok Fed)
Saatnya Rupiah Tinggalkan Dolar? (Ilustrasi, dok Fed)

Anjloknya nilai rupian terhadap dolar disoroti oleh media asing. The Economic Times yang melaporkan jatuhnya nilai tukar rupiah dolar sebesar 1,8% ke rekor terendah pada perdagangan sepekan yang lalu. "Rupiah anjlok hingga level terendah 16.850 per dolar, melampaui kemerosotan saat Krisis Keuangan Asia ke level terlemah sepanjang sejarah," tulis The Economic Times berdasarkan data LSEG.

Media ini juga mencatat merosotnya pasar saham Indonesia hingga 9 % dan menyebabkan trading halt (Penghentian perdangangan selama 30 menit). Dan merosotnya saham sampai ke level terendah sejak tahun 2021.

"Indeks utama anjlok 9,2% ke level terendah sejak Juni 2021 pada awal perdagangan. Setelah penghentian perdagangan dicabut, indeks menutup sebagian kerugiannya dan turun sekitar 8,5% pada pukul 03.10 GMT," papar The Economic Times.

Media internasional lainnya yang mencatat jatuhnya rupiah, Channel News Asia (CNA). Media ini menilai jatuhnya nilai tukar rupiah setelah pembukaan pasar imbas penetapan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Rupiah anjlok 1,8% ke rekor terendah seiring dibukanya kembali pasar setelah libur panjang dan bereaksi terhadap gejolak pasar global yang disebabkan tarif AS," tulis CNA.

Lantas masih perlukah Indonesia 'merajakan' dolar? Sebagai salah satu mitra dagang China, Indonesia tentu bisa memanfaatkan RMB digital untuk mempercepat dan memurahkan transaksi lintas batas. Misalnya, dalam proyek “Dua Negara, Dua Taman” China-Indonesia, pembayaran menggunakan RMB digital hanya membutuhkan 8 detik—100 kali lebih efisien dari metode tradisional. RMB (Renminbi) digital merupakan sebuah mata uang digital yang dikeluarkan oleh bank sentral Tiongkok.

Pengumuman Bank Sentral China bahwa RMB digital akan terhubung penuh dengan sepuluh negara ASEAN dan enam negara Timur Tengah adalah langkah besar yang bisa mengubah lanskap ekonomi global. RMB digital bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga bagian dari strategi “Jalur Sutra Digital” China, RMB digital bisa menjadi alat untuk meningkatkan daya saing.

Dari sisi pelaku usaha Indonesia, khususnya eksportir komoditas (minyak kelapa sawit, batubara) dengan menggunakan RMB digital menghasilkan biaya transaksi lebih rendah dan akses ke pasar di ASEAN dan Timur Tengah akan lebih cepat. Dengan kemampuan transaksi lintas batas yang super cepat (7-8 detik), biaya turun hingga 98% dibandingkan sistem SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications), jaringan pesan global yang digunakan oleh bank dan lembaga keuangan untuk berkomunikasi dan mengirimkan informasi keuangan.

RMB digital memberi Indonesia kesempatan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, yang sering membuat rupiah rentan terhadap gejolak pasar global (misalnya, nilai tukar rupiah sempat melemah ke 17.200 per dolar pada 2024). Dengan volume penyelesaian RMB lintas batas di ASEAN mencapai 5,8 triliun yuan (naik 120% sejak 2021), Indonesia bisa memperkuat posisi tawarnya dalam perdagangan regional, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

Bagikan: