JAKARTA - Harga energi kembali menjadi biang kerok inflasi. Korea Selatan mencatat kenaikan harga konsumen 3,1 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu, setelah harga bahan bakar melonjak tajam akibat gejolak perang di Timur Tengah.
Dilansir Yonhap, Selasa, 2 Juni, data Kementerian Data dan Statistik menunjukkan kenaikan itu menjadi yang tercepat dalam 26 bulan. Angkanya menyamai laju inflasi pada Maret 2024.
Menurut data yang dikutip Yonhap, tekanan terbesar datang dari produk minyak. Harganya melonjak 24,2 persen dan menyumbang 0,92 poin persentase terhadap kenaikan inflasi keseluruhan.
Harga bensin naik 23,1 persen. Solar lebih tajam lagi, melompat 33,3 persen. Kenaikan produk minyak ini menjadi yang tertinggi sejak 2022, saat harga energi dunia terguncang pada awal invasi Rusia ke Ukraina.
Pasokan energi global ikut terganggu setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran. Pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia, tersendat. Korea Selatan termasuk negara yang sangat bergantung pada impor energi. Karena itu, setiap guncangan di jalur minyak cepat terasa di harga dalam negeri.
BACA JUGA:
Harga produk industri ikut naik 4,2 persen, terutama karena bahan bakar. Harga jasa juga meningkat 2,8 persen, didorong biaya asuransi.
Dampaknya terasa sampai ke tiket pesawat. Harga tiket melonjak 33,5 persen akibat kenaikan biaya tambahan bahan bakar, yakni biaya ekstra pada tiket karena naiknya harga avtur. Ini menjadi kenaikan tertinggi sejak pemerintah mulai mencatat data tersebut pada 1995.
Harga pangan juga belum sepenuhnya jinak. Produk pertanian dan perikanan naik 2,2 persen, terutama karena beras dan daging babi. Pemerintah menyebut pasokan hasil pertanian menurun akibat suhu tinggi belakangan ini.
Namun, ada sedikit kabar yang tidak terlalu buruk. Harga pangan olahan hanya naik 0,8 persen pada Mei, melambat dari kenaikan 1 persen pada April. Penurunan harga minyak goreng dan makanan ringan ikut menahan laju kenaikan.
“Dengan mempertimbangkan perlambatan kenaikan harga pangan olahan, serta laju kenaikan produk pertanian, peternakan, dan perikanan, tampaknya dampak perang Timur Tengah belum menyebar ke sektor lain,” kata Lee Doo-won, pejabat senior Kementerian Data dan Statistik dikutip Yonhap.
Inflasi inti, yaitu inflasi yang tidak menghitung harga pangan dan energi yang mudah naik-turun, naik 2,5 persen secara tahunan. Ini level tertinggi sejak Februari 2024.
Lee mengatakan arah inflasi bulan depan akan sangat bergantung pada perkembangan perang di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak mentah dunia.
Dalam laporan terpisah, Kementerian Keuangan dan Ekonomi Korea Selatan menyatakan pemerintah akan berupaya menekan dampak perang Timur Tengah terhadap harga konsumen.
Pemerintah juga akan mengambil langkah lebih awal untuk menjaga biaya hidup, terutama menghadapi dampak panas musim panas dan hujan lebat terhadap pasokan barang.
Bank of Korea memperkirakan harga konsumen pada Juni masih akan naik dengan laju serupa, seiring kenaikan harga minyak mentah global.
Bagi negara yang bergantung pada impor energi, kasus Korea Selatan menunjukkan betapa cepat gejolak minyak dunia masuk ke harga barang, ongkos transportasi, dan biaya hidup warga.
Korea Selatan sangat bergantung pada impor energi. Karena itu, tekanan harga minyak dunia cepat menjalar ke harga barang, ongkos transportasi, dan biaya hidup warga.