Bagikan:

JAKARTA - Inggris menjadi negara G7 pertama yang mencapai perjanjian dagang dengan Gulf Cooperation Council atau GCC, blok ekonomi Teluk beranggotakan enam negara. Kesepakatan ini diproyeksikan menambah 3,7 miliar pound sterling atau 5 miliar dolar AS per tahun bagi ekonomi Inggris.

Melansir laporan Arab News, Kamis, 21 Mei, pemerintah Inggris menyebut perjanjian itu juga berpotensi menghasilkan kenaikan upah riil sebesar 1,9 miliar pound sterling.

Inti kesepakatan ada pada pemangkasan tarif. Sekitar 580 juta pound sterling bea atas barang Inggris yang diekspor ke Teluk akan dihapus bertahap. Dari jumlah itu, 360 juta pound sterling langsung dihapus setelah perjanjian berlaku.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut kesepakatan ini sebagai “kemenangan besar bagi bisnis Inggris”. Ini menjadi perjanjian dagang besar kelima pemerintahannya setelah kesepakatan dengan India, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Korea Selatan.

Starmer mengatakan negara-negara Teluk adalah mitra ekonomi penting bagi Inggris. Kesepakatan ini, kata dia, membuka peluang baru bagi perdagangan dan investasi.

Sekretaris Jenderal GCC Jasim Al-Budaiwi mengatakan perjanjian itu akan memperkuat jalur ekonomi kedua kawasan untuk generasi mendatang.

Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris Peter Kyle mengatakan perjanjian tersebut memberi kepastian bagi eksportir Inggris dan memperkuat hubungan dagang dengan Teluk.

Jika digabung dengan kesepakatan Inggris-India yang baru diumumkan, dua perjanjian itu diperkirakan menambah lebih dari 8 miliar pound sterling per tahun terhadap produk domestik bruto Inggris dibandingkan proyeksi 2040.

Produk makanan Inggris ikut diuntungkan. Pemerintah Inggris menyebut peluang terbuka bagi produsen mentega, keju cheddar, biskuit, dan cokelat. GCC mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan pangannya.

Industri otomotif dan peritel seperti Holland & Barrett juga diperkirakan mendapat manfaat dari tarif yang lebih rendah, perlindungan kekayaan intelektual yang lebih kuat, serta prosedur bea cukai yang lebih ringkas.

Sektor jasa menjadi bagian penting. Jasa menyumbang sekitar 80 persen ekonomi Inggris dan hampir separuh ekspor Inggris ke GCC. Melalui perjanjian ini, sektor jasa Inggris mendapat jaminan akses pasar.

Profesional Inggris, termasuk pengacara, insinyur, dan konsultan, juga diperkirakan lebih mudah bepergian dan tinggal lebih lama di kawasan Teluk. Prosedur visa akan dibuat lebih digital dan mudah diurus.

Sektor teknologi mendapat ruang baru. Untuk pertama kalinya, perusahaan Inggris boleh menyimpan dan memproses data di luar kawasan Teluk. Artinya, mereka tidak harus membangun pusat data lokal yang mahal.

Pemerintah Inggris memperkirakan perdagangan bilateral Inggris-GCC bisa naik hingga 19,8 persen. Total investasi bilateral mencapai 18 miliar pound sterling pada 2024, termasuk untuk proyek infrastruktur seperti Bandara Heathrow.

Rayan Qutub, Ketua Komite Logistik Kamar Dagang Jeddah, mengatakan kepada Arab News bahwa perjanjian dagang Inggris-GCC menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Arab Saudi di bawah Visi 2030.

Menurut Qutub, kesepakatan ini mendukung arah Arab Saudi untuk menjadi pusat perdagangan dan logistik global. Arus perdagangan yang lebih baik dan proses bea cukai yang lebih cepat juga dinilai dapat memperkuat rantai pasok dan sektor swasta di Saudi.

Ekonom Jassem Ajaka menilai kesepakatan ini penting bagi negara-negara Teluk yang ingin mengurangi ketergantungan pada minyak. Inggris membawa keahlian di bidang keuangan dan jasa maju, sementara GCC menawarkan pasar besar yang tumbuh cepat bagi Inggris setelah Brexit, yakni keluarnya Inggris dari Uni Eropa.