JAKARTA - Presiden AS Donald Trump mengaku akan berbicara dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te tentang kemungkinan penjualan senjata besar-besaran AS. Apabila terealisasi ini akan menjadi penyimpangan tajam dari tradisi diplomatik AS.
BBC Internasional melaporkan Kamis 21 Mei, komunikasi langsung antara para pemimpin AS dan Taiwan terhenti sejak 1979, momen di mana AS memutuskan hubungan formal dengan Taiwan untuk mengakui kebijakan Pemerintah China.
China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan. Lai, yang menjabat Presiden Taiwan pada tahun 2024, berada di balik salah satu upaya terkuat untuk memperkuat pertahanan pulau tersebut.
Di satu sisi, meski memutuskan hubungan formal, AS telah lama mendukung Taiwan tetapi terikat oleh hukum untuk menyediakan sarana pertahanan diri untuk Taiwan. AS juga harus menyeimbangkan hal itu untuk menjaga hubungan diplomatik dengan China.

Sejak kunjungan kenegaraan Trump yang bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing, Taiwan mendorong agar AS segera menggelontorkan paket penjualan senjata.
Ketika ditanya terkait hal itu, Trump mengatakan akan berbicara dengan Lai sebelum mengambil keputusan tentang penjualan senjata AS.
"Saya akan berbicara dengannya. Saya berbicara dengan semua orang... kita akan mengusahakannya, masalah Taiwan," kata Trump pada Rabu waktu setempat.
Trump kemudian memuji hubungannya dengan Presiden China dengan ungkapan "luar biasa" setelah keduanya bertemu pekan lalu.
BACA JUGA:
Pada tahun 1979, AS mengesahkan Undang-Undang Hubungan Taiwan yang menyatakan bahwa AS dapat "memberikan Taiwan senjata yang bersifat defensif" - itulah sebabnya AS terus menjual senjata ke Taiwan.
Trump mengatakan ia belum memutuskan apakah penjualan paket senjata senilai 14 miliar dolar AS ke Taiwan, yang dilaporkan termasuk peralatan anti-drone dan sistem rudal pertahanan udara, akan dilanjutkan.
Menurut laporan Financial Times, China saat ini menunda kunjungan yang diusulkan oleh pejabat kebijakan tertinggi Pentagon, Elbridge Colby - dengan mengatakan bahwa mereka tidak dapat menyetujui kunjungan tersebut sampai Trump memutuskan bagaimana ia akan melanjutkan kesepakatan senjata dengan Taiwan.
Selama kunjungan Trump ke Beijing, China telah memperjelas bahwa Taiwan adalah salah satu isu terbesar dalam hubungannya dengan AS, dengan Xi memperingatkan akan adanya "konflik" antara kedua negara adidaya jika ditangani dengan buruk.
Sementara Trump menepis potensi konflik antara AS dan China atas Taiwan. Ia mengatakan Xi merasa "sangat kuat" tentang Taiwan. "Saya tidak membuat komitmen apa pun," katanya kepada wartawan di atas Air Force One pekan lalu.