Bagikan:

JAKARTA – OJK mengakui pembenahan besar di pasar modal Indonesia bisa memicu tekanan dan penyesuaian jangka pendek di bursa saham. Namun, langkah itu dinilai perlu agar pasar modal Indonesia lebih sehat dan dipercaya investor global.

Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan perubahan yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari perbaikan struktur pasar setelah muncul sorotan dari investor global dan evaluasi MSCI sejak akhir Januari lalu.

“Ini dampak temporari dari perbaikan yang kita lakukan,” kata Friderica di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 5 Mei.

MSCI merupakan penyusun indeks global yang kerap menjadi acuan investor asing dalam menempatkan dana di pasar saham.

Menurut Friderica, salah satu perhatian investor global selama ini menyangkut transparansi pasar modal Indonesia. Karena itu, OJK mulai membuka data pemegang saham 1 persen, memperluas klasifikasi data investor dari sembilan menjadi 39 kategori, hingga membuka data ultimate beneficial owner atau pemilik manfaat akhir.

Perubahan juga dilakukan pada aturan free float, yaitu jumlah saham yang benar-benar beredar di publik dan bisa diperdagangkan. OJK mendorong free float di atas 15 persen agar likuiditas pasar lebih sehat.

Friderica mengatakan pembenahan tersebut bisa memunculkan penyesuaian di pasar, termasuk potensi perubahan komposisi saham dalam indeks MSCI beberapa bulan ke depan.

Meski begitu, OJK menilai kondisi tersebut hanya sementara. Menurut Frederica, pergerakan pasar saham saat ini justru mulai lebih mencerminkan fundamental perusahaan.

Ia menyebut pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kini mulai sejalan dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX30.

“Saham-saham sekarang pergerakannya sudah lebih ke fundamental,” ujarnya.

Di tengah tekanan global dan arus dana asing keluar, OJK juga terus mendorong pendalaman pasar lewat peningkatan investor domestik agar pasar saham Indonesia tidak mudah terguncang sentimen luar negeri.