JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana meluncurkan Bond Stabilization Fund (BSF) sebagai instrumen untuk menjaga kestabilan pasar surat utang negara.
Purbaya menjelaskan bahwa skema dana stabilisasi obligasi sebenarnya sudah lama ada di lingkungan pemerintah, namun belum pernah diimplementasikan secara aktif.
“Itu bukan hal yang baru Tapi nggak pernah jalanin. Artinya ada tapi mati. Sebetulnya udah ada tapi mati. Saya mau hidupin aja,” ujar Purbaya kepada awak media, Rabu, 6 Mei.
Dia menegaskan bahwa BSF merupakan inisiatif internal Kementerian Keuangan dan tidak berada dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) seperti kebijakan stabilisasi lainnya.
Menurutnya langkah ini diambil di tengah tren kenaikan yield obligasi pemerintah sejak awal tahun yang cepat berdampak pada penurunan harga obligasi, dan dapat menekan pasar, terutama dari sisi investor asing.
Dia mengungkapkan bahwa yield yang sempat berada di kisaran 5,9 persen terus meningkat hingga mencapai sekitar 6,7 persen, sehingga menyebabkan harga obligasi menurun.
“Waktu saya inject uang sempat 5,9 kan, naik terus 6,1, sekarang 6,7 yield naik kan harganya bond jatuh,” tuturnya.
Menurutnya, penurunan harga tersebut berpotensi menimbulkan kerugian bagi investor dalam bentuk capital loss, dan dalam kondisi tertentu, hal ini dapat mendorong investor untuk menyesuaikan portofolio mereka, termasuk melepas kepemilikan obligasi di pasar domestik.
“Asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Ada di sana aturan-aturan di lembaga investasi kalau loss sekian lo musti potong sekian. Jadi itu micu,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menambahkan pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga obligasi melalui intervensi terbatas di pasar dan diklaim efektif untuk meredam potensi arus keluar dana asing.
“Kalau saya jaga bond di bawah dengan jumlah cuman sedikit itu Nggak ada yang keluar,” katanya.
Terkait pendanaan, ia menyebut bahwa dana stabilisasi akan bersumber dari anggaran pemerintah dan tidak memerlukan koordinasi khusus dengan lembaga lain, komunikasi dengan otoritas terkait tetap akan dilakukan.
“Anggarannya bisa dipakai macam-macam kan Kita ada anggaran,” ujarnya.
Meski demikian, ia juga menambahkan bahwa koordinasi dengan bank sentral akan tetap berlangsung, terutama dalam aspek teknis pelaksanaan di pasar.
“Belum tau, tapi kita akan koordinasi dengan Bank Sentral. Kalau kemarin kan kita bilang koordinasi terus,” katanya terkait besaran intervensi.
BACA JUGA:
Purbaya memastikan bahwa program ini akan segera direalisasikan dalam waktu dekat.
“Besok udah jalan,” tegasnya.
Melalui kebijakan ini, ia berharap dapat menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung penguatan nilai tukar rupiah di tengah dinamika global.
“Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri,” ujarnya.