Bagikan:

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui arus modal asing keluar atau outflow masih membayangi pasar saham Indonesia. Tekanan datang dari kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat yang belum mereda.

Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kondisi pasar saat ini tidak bisa dilepaskan dari situasi global, terutama kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.

“Memang saat ini kondisi faktor geopolitik dan geoekonomi global, ditambah The Fed higher for longer, makanya terjadi outflow,” kata Friderica Widyasari atau akran dipanggil Kiki ini di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 5 Mei.

Meski begitu, OJK menilai fundamental ekonomi dan pasar keuangan Indonesia masih cukup kuat untuk menahan tekanan jangka pendek.

Menurut Kiki, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini mulai bergerak lebih sehat dan sejalan dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX30. Ia menyebut pergerakan saham saat ini mulai kembali ditopang faktor fundamental perusahaan, bukan semata sentimen jangka pendek.

OJK juga menyoroti dampak evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia sejak akhir Januari lalu. Evaluasi itu sempat memicu perhatian investor global terhadap transparansi dan likuiditas pasar saham domestik.

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, OJK dan pelaku pasar mulai membuka data pemegang saham 1 persen, memperluas klasifikasi data investor dari sembilan menjadi 39 kategori, hingga membuka informasi ultimate beneficial owner.

Selain itu, ketentuan free float di atas 15 persen juga mulai diterapkan bertahap untuk memperkuat likuiditas pasar.

Kiki mengatakan langkah perbaikan itu memang memunculkan dampak sementara di pasar. Namun, OJK menilai tekanan tersebut merupakan konsekuensi jangka pendek dari pembenahan struktur pasar modal.

“Ini dampak temporer dari perbaikan yang kita lakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan pendalaman pasar terus diperkuat lewat peningkatan investor domestik. Dalam setahun terakhir, jumlah investor pasar modal bertambah sekitar 5 juta single investor identification (SID).

OJK berharap penguatan investor domestik dapat membuat pasar saham Indonesia lebih tahan terhadap gejolak eksternal.