Bagikan:

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyatakan kesiapan untuk menjalankan kebijakan biodiesel B50 di seluruh layanannya, khususnya pada operasional lokomotif berbasis diesel, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan dan kualitas layanan.

Sekadar informasi, pemerintah menetapkan implementasi mandatori biodiesel B50 yang akan diberlakukan secara serentak di seluruh sektor di Indonesia mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan pihaknya sedang melakukan uji coba implementasi B50 pada kereta lokomotif berbasis diesel.

Kata Anne, KAI juga berkolaborasi dengan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta LEMIGAS dalam rangkaian pengujian yang dilakukan secara bertahap.

“Pengujian dilakukan mulai dari proses pencampuran bahan bakar pada pertengahan April 2026, dilanjutkan dengan pengecekan kondisi sarana, hingga pengujian penggunaan bahan bakar pada lokomotif di Depo Sidotopo,” tuturnya dalam keterangan resmi, Kamis, 23 April.

Secara paralel, sambung Anne, pengujian juga dilakukan pada kereta pembangkit di Depo Kereta Yogyakarta, mulai dari pemeriksaan awal, penggunaan B40 sebagai pembanding, hingga penggunaan B50 untuk mengukur kinerja sarana, termasuk dalam kondisi beban tinggi.

Anne bilang tahap lanjutan berupa pengujian jangka panjang juga disiapkan guna memastikan performa sarana tetap optimal dalam operasional harian. Hingga saat ini, seluruh hasil pengujian masih dalam tahap evaluasi dan terus dipantau untuk memastikan kesesuaian dalam jangka panjang.

“KAI memastikan proses percepatan implementasi ini berjalan selaras dengan kesiapan di lapangan. Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan pengujian yang dilakukan secara bertahap, kami berkomitmen menghadirkan layanan transportasi yang aman, andal, dan berkelanjutan,” kata Anne.

Di samping itu, Anne bilang implementasi B50 merupakan kelanjutan dari penggunaan biodiesel yang sebelumnya telah diterapkan secara bertahap di sektor perkeretaapian.

“KAI terus melanjutkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan melalui biodiesel. Dalam setiap tahapannya, keselamatan perjalanan dan kualitas layanan kepada pelanggan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Anne.

Pada Februari 2025, sambung Anne, penggunaan biodiesel B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh mencatat total emisi karbon sebesar 127.315.192 kg CO₂e atau sekitar 127,3 ribu ton dari 47,4 juta pelanggan.

Memasuki 2026, tren keberlanjutan tersebut berlanjut. Hingga kuartal I-2026, volume pelanggan Kereta Api Jarak Jauh mencapai 14.515.350 orang dengan estimasi emisi sekitar 38.900 ton CO₂e yang tetap terjaga seiring konsistensi penggunaan bahan bakar berbasis biodiesel.

Dalam skala mobilitas yang sama, penggunaan kendaraan pribadi berpotensi menghasilkan emisi yang jauh lebih tinggi. Rata-rata emisi perjalanan kendaraan pribadi mencapai 36–45 kg CO₂ per penumpang untuk jarak menengah, sementara kereta api hanya sekitar 2,7 kg CO₂ per penumpang.

Anne mengatakan dengan volume pelanggan tersebut, penggunaan kereta api diperkirakan telah berkontribusi pada potensi pengurangan emisi sekitar 480 hingga 610.000 ton CO₂e dibandingkan apabila perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan pribadi.

“Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kereta api mampu menekan emisi hingga sekitar 90 persen per perjalanan,” ucapnya.